Muslim Good Looking, Patutkah Dicurigai?



Oleh: Ummu Aulia (Pengurus MT Nurul Mutmainnah)

Istilah good looking kini tengah jadi pembicaraan, ini terjadi semenjak adanya pernyataan dari menteri agama Fachrul Razi dalam webinar yang bertajuk “Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara”, di kanal youtube RB , Rabu 02/09/2020. Dalam acara tersebut Fachrul Razi yang berlatar belakang militer tersebut mengatakan bahwa, “Radikalisme masuk masjid lewat anak good looking.”

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa, “caranya mereka masuk gampang, pertama dikirimkan seorang yang good looking, penguasaan bahasa arabnya bagus, hafiz (hafal alqur’an), mereka mulai masuk dan perlahan lahan bisa mendapatkan simpati dari pengurus masjid dan para jama’ah masjid. Salah satu indikatornya, orang tersebut diangkat jadi imam hingga diangkat jadi salah satu pengurus masjid”. Pernyataan ini sangat disayangkan mengingat kedudukan dan jabatan beliau sebagai menteri agama seharusnya mengeluarkan pernyataan yang cedas dan berdalil bukan sebaliknya mengeluarkan pernyataan yang justru terkesan profokatif dan benci islam.

Hanya Memojokkan Umat Islam

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa ini bukan pertama kalinya menteri agama Fachrul Razi mengeluarkan pernyataan yang demikian. Semenjak dilantik pada 23 oktober 2019 lalu Mentri Agama Fachrul Razi secara beruntun mengeluarkan pernyataan yang cenderung membuat gaduh masyarakat dan memojokkan umat Islam. Pada Desember 2019 lalu, ia pun menyebut ASN yang tidak suka pancasila untuk pulang saja di waktu yang sama memindahkan materi khilafah dari pelajaran fikih Islam ke pelajaran sejarah. Dan, sebelumnya November 2019, menteri ini mempermasalahkan celana cingkrang dan cadar dikalangan ASN yang disebutnya tidak sesuai aturan.

Baca juga  Bom Bunuh Diri Katedral Makassar

Kini tidak hanya generasi good looking yang dipermasalahkan dan dikait-kaitkan dengan radikalisme, hingga menggagas sertifikasi da’i dan mewajibkan majelis taklim terdaftar di kementriannya. Alasannya adalah sama yakni demi menangkal radikalisme. Lebih jauh lagi, beliau meminta kepada seluruh kementrian dan lembaga pemerintahan agar tidak menerima peserta yang memiliki faham khilafah sebagai ASN atau PNS, walaupun beliau sendiri mengatakan bahwa faham khilafah tidak dilarang dalam regulasi di Indonesia. Namun, beliau juga menuturkan bahwa penyebaran faham tersebut patut diwaspadai di tengah masyarakat. Pernyataan yang kontradiktif ini semakin menunjukan bahwa Defenisi Radikal yang selama ini di hembuskan oleh rezim hanya dijadikan sebagai alat gebuk penguasa kepada siapa saja yang tidak berpihak kepada rezim. Termasuk diantaranya ASN dan anggota masyarakat yang mendakwahkan Islam kaffah atau ide khilafah.

Berdasarkan hal ini, Muhyiddin Junaidi selaku wakil ketua MUI, menilai bahwa pernyataan menag yang banyak berkaitan dengan isu isu radikalisme hanyalah memojokkan umat Islam dan disinyalir mendukung pihak-pihak yang memiliki agenda terselubung untuk mengkriminalisasi ajaran Islam dan kaum muslim. Muhyidddin Junaidi juga menegaskan bahwa cap radikal tidak seharusnya hanya disematkan pada kaum muslim saja tetapi juga seharusnya ditujukan pada golongan atau kelompok manapun yang melakukan tindakan kekerasan yang merusak. (detiknews.com, 04/09/2020).

Baca juga  Utang Makin Bertambah, Prestasi atau Kegagalan?

Menjadi Muslim Good Looking adalah Kewajiban

Good looking atau berpenampilan bagus (menarik) secara bahasa maknanya ini mencakup 2 aspek yakni aspek fisik (ganteng, gagah, cantik dll) dan non fisik (tindak tanduk, adab, perangai dan semisalnya ). Dengan demikian, menjadi good looking pada dasarnya merupakan ajaran Islam. Memiliki kepribadian yang islami adalah wujud yang baik bagi seorang muslim. Kepribadian Islam terbentuk tatkala seorang muslim itu menjadikan pola pikir dan pola sikapnya berlandaskan Islam. Dengan memiliki kepribadian yang islami, maka seorang muslim itu telah menjadi sosok yang good looking bahkan kepribadian yang dimilikinya jauh lebih mulia dari sekadar tampilan fisik wajah yang tampan maupun cantik.
Seorang muslim pasti memahami tentang kewajibannya akan menimba ilmu tentang agamanya sehingga ia memahami hukum hukum agamanya dan semangat menghafal al qur’an dan mentadaburrinya. Itu semua dilakukan untuk menjadikan dirinya sebagai muslim yang good looking atau dengan kata lain menjadikan pola pikir dan sikapnya bersandar pada Islam. Dan berusaha untuk melaksanakan hukum islam yang difahaminya serta berusaha memperjuangkan hukum-hukum Islam agar bisa diterapkan secara sempurna.

Baca juga  Jeruk Makan Jeruk, Itulah Dagelan Demokrasi

Muslim good looking mempunyai karakter ibadurrahman, menebarkan peringatan, menunjukan setiap insan jalan yang benar dan berlomba-lomba meraih ridho Allah Swt. Adab dan akhlaknya yang mulia sangat tidak patut dicurigai. Terlebih mencapnya radikal, karena kepribadian muslim good looking adalah bagian dari realisasinya terhadap keterikatannya pada hukum syara bukan semata-mata agar mendapatkan penilaian dari manusia melainkan agar mendapatkan ridho dari Allah Swt.

Saat ini, begitu banyak persoalan yang melanda umat khususnya generasi muslim, maraknya gaul bebas, perzinaan, tawuran dan persoalan moral yang lainnya menunjukan bahwa dibutuhkan upaya yang serius dari negara untuk mengatasi persoalan ini. Seharusnya negara tidak mengalami disorientasi dan seharusnya negara melakukan pembinaan agar tercipta generasi yang good looking yakni generasi yang menjadikan Islam sebagai standar dalam berfikir dan berperilaku. Agar tercipta tatanan kehidupan yang lebih baik, yakni sebuah tatanan kehidupan yang mampu mewujudkan ketakwaan yang paripurna kepada Allah Swt dengan menerapkan Islam secara sempurna dalam wadah sistem pemerintahan yang good looking yakni sistem Islam.

Wallahu a’lam bish shawwab .