Miras Wujudkan Berbagai Kemaksiatan


Oleh: Sitti Fatimah
(Mahasiswi)

Pembukaan investasi pada sektor minuman mengandung Etil Alkohol (MMEA) atau minuman keras (miras) atau beralkohol menimbulkan kegaduhan dari berbagai kalangan khususnya pengguna sosial media. Pembukaan pintu investasi miras ini tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Pada lampiran tersebut tertuang bidang usaha yang boleh mendapatkan aliran investasi. Investor asing boleh mengalir dengan nilai lebih dari Rp.10 miliar di luar tanah dan bangunan. Tapi wajib membentuk perseroan terbatas dengan dasar hukum Indonesia. Dengan izin ini, industri miras bisa memperoleh suntikan investasi dari investor asing, domestik, koperasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Adapun persyaratan yang berlaku bagi usaha yang ingin berinvestasi industri miras dari Perpes tersebut yaitu:

Pertama, pelaku usaha hanya bisa berinvestasi di empat daerah Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua.

Kedua, pelaku usaha juga harus memperhatikan budaya dan keariafan setempat.

Ketiga, penanaman modal diluar huruf a, dapat ditetapkan oleh Kepala Badan Koordinasi penanaman modal berdasarkan usulan Gubernur.

Keempat, penanaman modal asing hanya dapat melakukan kegiatan usaha pada usaha besar dengan nilai investasi lebih dari Rp.10 Miliar diluar nilai tanah dan bangunan.

Kelima, meliliki jaringan distribusi dan tempat khusus.

Berdasarkan Riset Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) menunjukkan bahwa sepanjang 2008-2013 terdapat 230 masyarakat tewas akibat mengonsumsi miras. Sementara pada 2014-2018 korban tewas naik dua kali lipat yakni 540 orang. Organisasi Kesehatan Duani (WHO) melaporkan sebanyak 3 juta orang meninggal karena mengonsumsi alkohol pada tahun 2016. Sayangnya, jumlah korban miras belum menjadi pelajaran bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan. Pemerintah malah membuka lebar-lebar investasi miras.

Baca juga  Selamatkan Negeri dari Wabah Covid-19 dengan Solusi Islam

Kepentingan Kapitalis dibalik Pembukaan Investasi Miras

Usut punya usut, pembukaan industri minuman beralkohol sudah dibahas sejak Rancangan Undang-undang Cipta Kerja. Pembukaan investasi miras dinilai mendorong terbukanya usaha mikro dan menengah serta melindungi masyarakat yang mengonsumi minuman tersebut. Namun Wakil ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menilai pemerintah lebih mengedepankan kepentingan pengusaha dari pada kepentingan rakyat.

“Semestinya pemerintah sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai pelindung rakyat tentu tidaklah akan memberi izin bagi usaha-usaha yang merugikan dan merusak serta akan menimbulkan kemafsadat-an (kerugian) bagi rakyat.” Kata Anwar.

Anwar menilai pemerintah dan dunia usaha menempatkan masyarakat sebagai objek eksploitasi bagi kepentingan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Bangsa ini telah kehilangan arah dengan kebijakan pemerintah membukaan investiasi miras. Tidak ada lagi pegangan yang jelas bagi pemerintah dalam mengelola negara.

“Di mulutnya mereka masih bicara dan berteriak-teriak tentang pancasila dan UUD 1945. Tapi dalam praktiknya meraka terapkan adalah sistem ekonomi liberalisme yang bukan merupakan karekter dan jati diri kita sebagai bangsa.” Lanjut Anwar.

Kerugian yang akan ditanggung oleh Indonesia jika tetap membuka investasi miras sangat banyak. Salah satunya yakni wajah Indonesia akan terlihat buruk oleh negara-negara muslim. Akibatnya Indonesia bisa kehilangan investasi di negara-negara muslim. Alih-alih mendapatkan keuntungan yang besar, kebijakaan ini malah menjadi akar dari berbagai kerusakan banga ini.

Baca juga  Mempertanyakan Seruan Benci Produk Luar Negeri

Karena sistem yang ditepakan berlandaskan pada sekularisme yakni pemisahan agama dengan kehidupan mengakibatkan standar perbuatan manusia berdasarkan pada hawa nafsu dan kepentingan tertentu. Dengan penerapan kapitalisme menjadikan manusia hanya berfokus pada materi. Sehingga pembukaan investasi miras tidak dilarang lagi karena mendatangkan keuntungan bagi negara, meski telah nyata dampak dari mengomsumsi alkohol.

Islam Melarang keras Mengomsumsi Alkohol

Meski dengan pembukaan investasi ini mendatangkan pemasukan bagi negara tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa kerugian yang didapat tidaklah sebanding dengan pemasukan tersebut. Rusaknya moral masyarakat akibat mengomsumsi alkohol menjadi masalah terbesar. Kerusakan moral dan watak sangat sulit diperbaiki. Sementara perilaku buruk dari masyarakat akan membawa negara ini pada kehancuran.

Islam dengan tegas melarang umatnya mengonsumsi alkohol karena dampak yang ditimpulkan sangat buruk. Rasulullah saw. bersabda:

“Minuman keras itu induk dari hal-hal yang buruk, siapa yang meminumnya, salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Jika ia meninggal sedangkan minuman keras berada di dalam perutnya, ia akan meninggal dunia dalam keadaan jahiliah.” (HR Ath-Thabrani).

Minuman keras dapat merusak akal sehingga yang meminumnya tidak dapat berfikir dengan jernih. Zat yang memabukkan membuat peminumnya kehilangan akal sehingga tidak bisa lagi membedakan yang baik dan buruk. Peminumnya bisa saja melakukan hal-hal bodoh dan melakukun dosa besar seperti pembunuhan, perampokan, berzina dan masih banyak lagi.

Baca juga  Kekayaan Pejabat Melambung Tinggi di Tengah Pandemi

Bukan hanya melarang umatnya untuk mengonsumsi alkohol, Allah SWT. juga melaknat orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:
“Allah melaknat minuman keras, orang yang mengonsumsinya, yang menuangkannya (kepada orang lain), penjualnya, pembelinya, pemerasnya, orang yang meminta untuk memeraskannya (membuat minuman keras), pembawanya, orang yang meminta untuk membawanya, dan orang yang memakan hasil dari penjualannya.” (HR Ab Daud dan Al-Hakim).

Untuk itu, butuh kerja sama antara semua anggota masayarakat termasuk negara untuk menghilangkan minuman keras. Masyarakat senantiasa menjauhkan minuman keras di lingkungan dengan tidak mengonsumsinya.

Negara memiliki peranan yang sangat besar dalam hal ini. Negara tidak akan melegalkan industri minuman keras serta melarang pembukaan investasi minuman keras. Negara juga menghadirkan sanksi yang keras bagi warganya yang mengonsumsi minuman keras yang dapat merusak moral dan generasi.

Tetapi apabila sistem yang diterapkan adalah sistem kapitalisme maka tidak akan ditemukan negara yang melarang warganya mengonsumsi minuman keras (khamar). Untuk itu hanya dengan menerapkan Islam maka industri dan investasi khamar akan dilarang. Karena negara Islam tidak akan memberi celah bagi rakyatnya untuk melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Allah misalnya mengonsumsi apalagi membuka investasi minuman beralkohol. Walahu a’la bishawab.


OPINI