Meski Bahayakan Diri, Siswa Tiga Desa di Kecamatan Alu Nekad Seberangi Sungai Mandar Menuju Sekolahnya


Dengan rakit bambu sederhana, Sejumlah siswi di SMAN 1 Alu tampak naik rakit menuju sekolahnya. Mereka pertaruhkan nyawanya hanya untuk menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan yang layak. ((Foto : Syarifuddin Andi)

SULBAR99NEWS.COM-POLMAN, Nampak warga dan pelajar di tiga desa di kecamatan Alu, menggunakan akses rakit bambu untuk melintasi sungai Mandar, Sabtu (11/9/2021). Para pelajar tersebut nekad mengambil jalur pintas menyeberangi sungai Mandar dengan rakit menuju sekolahnya di seberang Sungai. Pasalnya arus sungai Mandar, apalagi saat musim penghujan, cukup deras yang bisa membahayakan diri para siswa tersebut.

Untuk menuju bibir sungai masyarakat perkampungan tiga desa harus melalui tengah-tengah kebun warga yang jalanannya licin dan berlumpur di saat hujan, jalan setapak yang dibuat masyarakat menuju dua titik tempat rakit berlabuh di sungai mandar harus ekstra hati-hati karena sering terjadi kecelakaan baik roda dua dan pejalan kaki.

Pantauan sulbar99news.com, jalan menuju bibir sungai saja sudah ekstra hati-hati di saat sudah hujan, lebih lebih saat menaiki rakit bambu yang dibuat masyarakat dengan seadanya. Sudah sering mencelakakan penggunanya di saat banjir besar mengingat di tahun 2007.

Pada saat itu, sekretaris desa dan ketua BPD bersama kepala dusun desa Saragiaan menuju kantor kecamatan Alu untuk mengikuti rapat menaiki rakit bambu, pas di pertengahan sungai, rakit bambu terbalik sehingga semua yang ada di atas rakit hanyut terbawah arus deras sungai mandar. Untungnya semuanya bisa berenang.

Baca juga  Mengenang Pembantaian Warga Sipil Oleh Belanda 73 Tahun Silam di Galung Lombok

Tahun kemarin di tahun 2020, motor dan pengendaranya lagi-lagi hanyut terbawa arus disebabkan tali slen atau tali penopang rakit putus karena tidak dapat menahan beban arus sungai.

Salah satu siswa SMA Negeri 1 Alu yang selalu menggunakan jasa rakit warga, sejak kelas satu sampai saat ini sudah duduk di kelas 3 mengaku, perjalanan menggunakan rakit terpaksa ditempuh untuk memangkas, jauhnya perjalanan menuju sekolah mereka. “Jika melalui jalan poros, sangatlah jauh sekitar 20 km lebih sedangkan menggunakan rakit hanya sekitar 1 sampai 2 km,” ujarnya.

Upaya potong kompas yang ditempuh masyarakat dan anak sekolah bukan tanpa alasan, meskipun cukup berbahaya karena harus menggunakan rakit setiap hari, namun cepatnya waktu yang ia tempuh hanya sekitar setengah jam, membuat resiko itu diambil.

Bahkan kondisi itu bisa lebih buruk, mereka terpaksa tak masuk sekolah, saat rakit yang biasa mereka gunakan rusak atau terbawa arus sungai hingga beberapa meter dari lokasi semula. Saat hujan tiba, selain basah kuyup membasahi baju mereka, juga debit air sungai besar siap menghampiri sungai mandar, hingga akhirnya menggunakan jalur lain yang jaraknya bisa sepuluh kali lipat lebih jauh.

Baca juga  Disdikpora Majene Apresiasi Upaya Sekolah Untuk Percepatan Vaksin bagi Siswa

“Tapi gak masalah yang penting bisa sekolah. Saya berharap ada jembatan biar enggak mutar jauh kalau sungainya lagi besar,” pinta siswa itu berharap pemerintah segera memberikan perhatian.

Kondisi serupa dialami warga bernama Arif (44), dia menambahkan, selain lebih efektif dari segi waktu dan jarak, juga ongkos yang diminta penyedia jasa rakit, terbilang murah meriah. “Sebenarnya tidak dipatok, tapi biasanya bayar Rp 2000 Sampai Rp 3000,” ungkapnya.

Akibat tidak adanya akses yang menghubungkan desa Saragiaan, desa kalumammang dan desa Betteng menuju desa Mombi dan kelurahan Petoosang, dimana tempat pusat perbelanjaan (pasar) dan pusat pendidikan anak anak di SMA Alu, SMK dan SMP 1 Petoosang dari ketiga desa tersebut.

Kepala desa Saragian Ramli S.Pd.I saat ditemui di kediamannya, Sabtu (11/2021) mengungkapkan, pihaknya sudah beberapa kali usulkan ke pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat, agar dibuatkan jembatan, supaya warganya tidak dihantui kekhawatiran saat menyeberangi sungai mandar yang lebarnya diperkirakan 40 sampai 50 meter.

Baca juga  Apakah Siswa di Majene Sudah Bisa Masuk Sekolah 7 September Besok?

Ramli menambahkan, isu akan di bangun jembatan hasil aspirasi salah satu anggota dewan saat itu membuat masyarakat tiga desa senang. “Tapi sampai saat ini tak kunjung dikerja, padahal sudah ada patok yang sudah ditandai,” tuturnya.

Kepala desa Saragian berharap, pemerintah segera turun tangan membangun jembatan penghubung desanya yang juga dilalui warga dan anak sekolah desa Kalumammang dan desa Betteng, untuk melakukan aktivitas masyarakat seperti biasanya menuju pasar petoosang dan berjalannya proses belajar mengajar anak anak desa agar lebih aktif tidak terjadi keterlambatan. “Bayangkan saat mau sekolah, mereka terlebih dahulu harus menyeberangi sungai cukup besar, dan hanya menggunakan rakit bambu sangat sederhana,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, fasilitas rakit bambu sederhana yang tersedia, memang satu-satunya akses sekaligus fasilitas yang digunakan warga untuk menyeberangi sungai tersebut. (Syarifuddin Andi)