Menyoal Maslahat Larangan Mudik


Oleh : Hamzinah (Pemerhati Opini Medsos)

Media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sejumlah titik penyekatan dijebol oleh ribuan pemudik yang didominasi pengguna sepeda motor. Dalam sebuah video menunjukkan terjadi di Jalan Lingkar Tanjungpura, Karawang, Jawa Barat. Situasi yang ricuh dan membludaknya pemudik yang tidak mau putar balik membuat kewalahan aparat yang merupakan gabungan dari TNI, Polri, Satpol PP dan Dinas Perhubungan.

Kepala Seksi Humas Polres Karawang IPDA Budi Santoso mengatakan “Kejadian penerobosan secara paksa berikade rekayasa itu terjadi pada Sabtu dini hari jam 00.05 WIB. Ketika itu jumlah personel tak sebanding dengan pemudik yang diperkirakan mencapai sekitar 500-an. Imbasnya petugas tak bisa berbuat banyak. Sehingga dilaksanakan penebalan personil BKO dari Sat Brimob Polda Jabar dan Dalmas Dit Sabhara Polda Jabar”. Katanya (Radarcirebon.com).

Mudik sudah menjadi tradisi di negeri ini menjelang hari Raya Idul Fitri, sayangnya tradisi ini terkendala sejak pandemi Covid-19 terjadi, Sehingga masyarakat begitu sulit mau bertemu sanak saudara setahun sekali. Meski sudah ada aturan tentang larangan mudik tetapi masih ada masyarakat yang berani mudik. Mereka bukan tidak tahu bahaya Covid-19. Namun, kebijakan yang inkonsisten serta buruknya penanganan wabah, membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kian pudar.

Kebijakan Inkonsisten
Kebijakan larangan mudik yang dinilai inkonsisten, diperburuk pula dengan adanya mentalitas korup dari petugas yang mencari celah untuk mengambil pungli. Seperti yang dilansir dari CNNIndonesia (8/5/2021), pungli diduga terjadi di pos penyekatan Simpang Nilakandi Kertapati, Palembang. Pemudik dimintai uang oleh oknum polisi dengan alasan izin melintas bagi yang hendak keluar kota.

Baca juga  Dimana Imam Umat Islam?

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kebijakan larangan mudik demi menekan laju penyebaran Covid-19. Namun, kebijakan ini akhirnya menjadi persoalan lantaran ada sejumlah kebijakan lain yang dinilai inkonsisten dengan kebijakan larangan mudik. Seperti, Pemerintah malah mengizinkan pekerja China dari Wuhan masuk ke Indonesia. Sebanyak 85 warga negara China masuk ke Indonesia. (finance.detik.com).

Adanya pekerja dari China, apapun alasannya sangat kontradiktif dengan larangan mudik demi mencegah penularan. Ini yang membuat rakyat merasa dianaktirikan. Apalagi Wuhan di China adalah asal virus berbahaya ini. Lantas mengapa diizinkan dan diperbolehkan keluar masuk Indonesia?. Jika alasan dibolehkannya TKA masuk karena melewati proses karantina, mengapa tidak memberlakukan hal yang sama pada masyarakat yang ingin mudik bertemu sanak saudaranya?

Ditambah lagi dengan kebijakan boleh berwisata dan berbelanja yang sama-sama kontradiktif terhadap penyebaran virus. Semakin membingungkan masyarakat, serta pengerahan sejumlah aparat yang hanya berlaku untuk menghadang pemudik. Wajar jika masyarakat tidak benar-benar melihat adanya upaya sungguh-sungguh untuk menyelesaikan persoalan pandemi Covid-19.

Akar Masalahnya karena Sistem Kapitalisme
Sistem kapitalisme yang saat ini mendominasi kepemimpinan menjadikan penguasa mudah sekali memutuskan suatu perkara tanpa melihat dengan jelas dampak buruk yang bisa terjadi. Sistem kapitalisme sekuler memposisikan nyawa tidak lebih berharga dari materi. Kebijakannya berputar pada perbaikan ekonomi, bukan kemaslahatan rakyat. Dalam sistem kapitalisme sekuler, peran negara hanya sebagai regulator, lalu menyerahkan segala urusan publik pada swasta.

Baca juga  Polemik Larangan Mudik, Bukan Tebang Pilih?

Penanganan pandemi berkaitan langsung dengan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia sehingga harus dilakukan secara efektif, yakni berlangsung di atas prinsip secepatnya dengan zero kesakitan dan kematian. Ini berarti penanganan pandemi bukanlah persoalan teknis medis semata. Tetapi perkara yang berkaitan erat dengan cara pandang terhadap manusia, kesehatan dan keselamatan jiwanya.

Islam Solusi Atasi Pandemi
Islam memberikan perhatian dan penghargaan tertinggi pada kesehatan dan keselamatan jiwa manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”. (HR. Nasa’i). Dan Firman Allah SWT “Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya”. (TQS. Al-Maidah: 32).

Islam merupakan agama yang sempurna sebagai sistem kehidupan, aturannya menjadikan posisi penguasa hadir dengan karakter kuat sebagai pemelihara urusan rakyat, termasuk kesehatan dan keselamatan jiwa ketika terjadi wabah. Rasulullah SAW bersabda “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya”. (HR. Muslim dan Ahmad).

Ada tiga prinsip Islam dalam penanggulangan wabah sehingga segera berakhir tanpa korban lebih banyak lagi. Pertama, Lockdown lokal sedari awal. Rasulullah SAW bersabda “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya”. (HR. Imam Muslim).

Baca juga  Megaproyek Islamofobia di Tengah Pandemi

Kedua, Pengisolasian yang sakit, Sabda Rasulullah SAW “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat”. (HR. Imam Bukhari). Orang yang sehat dan yang sakit akan dipisahkan melalui tracing yang dilakukan oleh negara baik dengan Swab test dan Rapid test. Pemisahan ini jelas akan mempermudah negara untuk fokus mengobati yang sakit. Sedangkan masyarakat yang sehat, merasa aman dan dapat beraktivitas seperti kondisi normal.

Ketiga, Pengobatan segera hingga sembuh bagi pasien yang terinfeksi dengan kualitas terbaik, Rasulullah SAW bersabda “Allah telah menurunkan penyakit dan juga obatnya. Allah menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah, namun jangan berobat dengan yang haram”. (HR. Abu Daud). Dalam Islam kesehatan adalah kebutuhan pokok publik. Maka tanggungjawab ini akan diambil secara mutlak oleh negara didukung dengan sistem ekonomi yang shahih. Layanan kesehatan dapat diperoleh dengan harga terjangkau bahkan gratis untuk semua kalangan warga negara.

Demikianlah sistem Islam dalam menangani wabah, Kebijakan yang konsisten menyelesaikan persoalan rakyatnya dan memuliakannya dengan menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Wallahu a’lam bi ash showwab.


OPINI