Menggagas Penanganan Tuntas HIV AIDS


Oleh: Nelly, M.Pd.
(Akademisi dan Pemerhati Sosial Masyarakat)

Miris! kasus positif HIV AIDS terus saja melonjak tajam, hampir merata di daerah-daerah kondisi yang sama. Infeksi paling banyak persentasenya adalah kalangan milenial, anak sekolah hingga mahasiswa. Terbaru Data Dinkes Ternate menyebutkan bahwa jumlah penderita HIV meningkat sejak tiga tahun terakhir. Dari tahun 2017 hingga akhir tahun 2020 jumlah pasien  hingga mencapai 482 orang dan belum ada yang sembuh. Bahkan dari pasien sudah ada 90 orang yang meninggal dunia. Kasus ini disebabkan banyaknya warga yang lalukan sex bebas (kieraha.com, /12/2020).

Hal yang sama seperti dilansir dari media Kompas.com, jumlah kasus HIV/AIDS  di Sumut terus bertambah. Saat ini totalnya di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 21.000 kasus. Menanggapi kasus yang terjadi di Sumut ini, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah menilai, sosialisasi mengenai bahaya dan upaya pencegahan penyakit menular ini perlu ditingkatkan. Musa meminta Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Sumut giat meningkatkan kesadaran masyarakat.

Lebih disayangkan kasus HIV di Sumut terus bertambah, bahkan bayi yang baru lahir pun ada yang terkena dari orangtuanya. Penting kita lakukan adalah bagaimana orang yang terjangkit mau melaporkan diri, supaya bisa didata. Diberi informasi dan pengobatan,” kata Musa usai menerima audiensi pengurus KPAD Sumut di rumah dinasnya, Rabu (23/12/2020).

Ya, kasus HIV memang sangat mengkhawatirkan bukan saja Indonesia, namun juga seluruh dunia. Sejak 1988, HIV/AIDS menjadi musuh besar kesehatan, baik di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan laporan perkembangan HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual Triwulan II 2020, estimasi ODHA di Indonesia mencapai 543.100 orang.
Tujuh provinsi terbanyak dengan jumlah HIV/AIDS kumulatif sejak 1988 hingga Juni 2020 berturut-turut adalah DKI Jakarta 68.119 orang, Jawa Timur 60.417 orang, Jawa Barat 43.174 orang, Papua 37.662 orang, Jawa Tengah 36.262 orang, Bali 22.427 orang dan Sumut 20.487 orang.

Baca juga  Mendudukan Akar Persoalan Bangsa Dalam Polemik RUU HIP

Padahal, seperti kita ketahui bersama bahwa HIV Aids sampai saat ini belum ada obatnya. 

Selama ini para pengidap HIV meminum obat untuk meningkatkan imun (daya tahan tubuh) yaitu antiretroviral (ARV). Penderita harus meminum obat dalam jangka waktu tertentu bahkan seumur hidup sehingga virus tersebut tidak menyerang sel darah putih hingga menyebabkan penderita mengidap penyakit Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).

Akar Masalah HIV/AIDS Tumbuh Subur

Jika ditelusuri faktor penyebab HIV Aids terus melonjak naik, ada berbagai faktor yang menyebabkannya. Yang paling mendominasi adalah perilaku seks bebas dan penggunaaan narkoba dengan jarum suntik. Selain itu, virus HIV ini belakangan diketahui banyak terdeteksi pada ibu hamil. Perilaku seks bebas dan narkoba merupakan perilaku yang timbul dari gaya hidup kapitalis sekuler.

Gaya hidup ini menjadikan seseorang hanya memandang hidup dari sisi materi dan kesenangan duniawi semata. Maka tidaklah heran jika semakin kesini perilaku buruk di masyarakat berkembang. Bahkan sesuatu yang mungkin dianggap tabu dan dilarang masyarakat menjadi sesuatu yang biasa di era sekarang, layaknya pergaulan bebas dan narkoba. Semua ini buntut dari penerapan gaya hidup sekuler-liberal.

Dalam paradigma sekuler-liberal, siapapun tidak boleh melarang seseorang untuk tidak bergonta-ganti pasangan atau membatasi orientasi seksualnya. Tidak boleh juga melarang para pelaku sek menyimpang LGBT sebab ini adalah perbuatan menyimpang (melanggar HAM). Karena sekali lagi, kebebasan seksual ini adalah bagian dari kebebasan individu yang harus dijamin.

Demikianlah rusaknya penerapan sistem sekuler-liberal, atas nama kebebasan sek bebas di halalkan, tempat prostitusi di legalkan, tempat-tempat maksiat difasilitasi baik pornoaksi dan pornografi.
Tentu ini sangat menyalahi aturan agama dan pastinya akan mengundang azab Allah SWT. Apakah negeri yang mayoritas ini tetap ingin mempertahankan sistem rusak dan menjadikan bangsa kian terpuruk pada ketidakberkahan?

Baca juga  Perpres Bonus Fantastis untuk Wamen

Perlu Solusi preventif dan komprehensif untuk Menuntaskan HIV AIDS

Maka tak ada jalan lain untuk menuntaskan masalah HIV AIDS selain kembali pada sistem aturan dari Sang Pencipta. Islam diturunkan Allah SWT  bukan saja mengatur urusan ibadah semata. Namun Islam adalah sebagai agama yang paripurna dan sempurna mengatur seluruh urusan manusia termasuk dalam menangani sex bebas dan HIV AIDS.

Lalu bagaimana pandangan islam terkait permasalahan ini? Islam memandang bahwa HIV AIDS bukanlah semata-mata persoalan kesehatan (medis) namun merupakan buntut panjang dari persoalan perilaku. Sebab telah terbukti  penyebab terbesar penularan HIV AIDS adalah perilaku seks bebas, baik itu perzinahan, sex menyimpang LGBT dan penyalahgunaan narkoba.

Islam memiliki beberapa mekanisme untuk menyelesaikan persoalan ini, dan negaralah yang paling bertanggungjawab dalam menciptakan lingkungan masyarakat kondusif. Pertama, negara akan melakukan pencegahan munculnya perilaku beresiko HIV AIDS dengan melakukan pendidikan dan pembinaan kepribadian Islam. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan Islam yang menyeluruh dan komprehensif, dimana setiap individu muslim dipahamkan untuk kembali terikat pada hukum-hukum Islam dalam interaksi sosial.

Seperti larangan mendekati zina dan berzina itu sendiri, larangan khalwat, larangan ikhtilat (campur baur baik laki-laki dan perempuan), selalu menutup aurat, memalingkan pandangan dari aurat, larangan masuk rumah tanpa izin, dan lain-lain. Selain itu perlu juga upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, dan memberantas lingkungan yang tidak kondusif.

Kedua, negara akan memberantas perilaku beresiko penyebab HIV AIDS (seks bebas dan penyalah gunaan Narkoba) yakni dengan menutup pintu-pintu yang mengakibatkan munculnya segala rangsangan menuju seks bebas. Negara wajib melarang pornografi-pornoaksi, tempat prostitusi, tempat hiburan malam dan lokasi maksiat lainnya. 

Begitu juga dengan narkoba, hal-hal yang dapat membuat peredaran dan penggunanya semakin luas akan ditutup. Selain itu pemberian sanksi tegas akan diberlakukan oleh negara kepada pelaku perzinahan, seks menyimpang, penyalahgunaan narkoba, konsumen khamr, beserta pihak-pihak  terkait yang menjadikan seks bebas dan narkoba sebagai usaha para kapitalis. Sanksi yang diberikan negara mampu memberikan efek jera atau dengan kata lain menegakkan sistem hukum dan sistem persanksian Islam.

Baca juga  Keputusan Atas Kasus GKI Yasmin dan Standar Ganda Toleransi

Ketiga, jika itu tetap terjadi dan ada dari anggota masyarakat yang tertular seperti saat ini, maka negara akan melakukan pencegahan penularan kepada orang sehat yang dilakukan dengan mengkarantina pasien terinfeksi (terutama stadium AIDS) untuk memastikan tidak terbukanya peluang penularan. Kepada penderita HIV AIDS, negara harus melakukan pendataan konkret. Negara bisa memaksa pihak-pihak yang dicurigai rentan terinveksi HIV/AIDS untuk diperiksa darahnya.
Karantina dimaksudkan bukan bentuk diskriminasi, karena negara wajib menjamin hak-hak hidupnya.

Bahkan negara wajib menggratiskan biaya pengobatannya, memberinya santunan selama dikarantina, diberikan akses pendidikan, peribadatan, dan  keterampilan. Di sisi lain, negara wajib mengerahkan segenap kemampuannya untuk membiayai penelitian guna menemukan obat HIV/AIDS. Dengan demikian, diharapkan penderita bisa disembuhkan.

Demikianlah sistem Islam memberikan pengaturan dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat. Intinya sistem Islam mampu dan solusi jitu dalam mengatasi persoalan HIV AIDS. Ketiga mekanisme di atas sangat relevan dan mampu menyelesaikan permasalahan HIV AIDS hingga keakar-akarnya. Maka, sudah saatnya keagungan hukum Allah inilah yang mesti diadopsi bangsa ini sebagai negeri yang penduduknya mayoritas Muslim.

Insya Allah akan menjadikan negeri berkah dan mulia di mata Allah. Penerapan Islam secara sempurna dalam bernegara akan mampu mengatasi semua problem yang saat ini melanda negeri. Lihatlah sejarah selama 14 abad umat Muslim pernah berjaya dan menaungi 2/3 dunia dengan kesejahteraan dan kemamuran, bukankah ini adalah bukti nyata. Dan dengan penerapan Islam inilah sebagai wujud ketakwaan umat kepada Allah SWT.

Allahua’lam bishawab.


OPINI