Mengenang Pembantaian Warga Sipil Oleh Belanda 73 Tahun Silam di Galung Lombok


Foto : Awal Nugraha

SULBAR99.COM-MAJENE, Dalam mengenang peristiwa sadis pembantaian warga sipil oleh tentara Belanda yang dikomandoi Westerling yang dikenal dengan peristiwa Galung Lombok korban 40 ribu jiwa, Majene menggelar seminar kebangsaan yang bertema Mengenang Peristiwa Pembantaian Warga Sipil oleh Tentara Belanda pada tanggal 1 Februari 1947 di Galung Lombok di Ruang Pola Kantor Bupati Majene, Sabtu, (1/2/2020).

Seminar kebangsaan ini dihadiri Bupati Majene, wakil Bupati Majene, Perwakilan Kemendagri dan Kementerian Sosial, Anggota DPRD Provinsi, Kadis Sosial Provinsi, Veteran, pimpinan OPD, Polri, TNI, Budayawan, Para Wartawan, Sejarahwan, Guru Sejarah Sekab Majene, Tokoh Masyarakat dan Para Pemuda.

Baca juga  Pansus DPRD Majene Bahas Ranperda Literasi

Bupati Majene, Fahmi Massiara dalam sambutannya mengatakan, sangat berterima kasih dan memberi apresiasi setingi-tingginya kepada Bapak perwakilan kemensos yang berkenan hadir di Majene.

“Ini adalah wujud perhatian pemerintah pusat terhadap perjuangan dan pengorbanan masyarakat etnis Mandar dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terkhusus kepada narasumber kita dari perwakilan komite hutang kehormatan Belanda, beliau adalah tokoh yang secara aktif meperjuangkan agar pemerintah Belanda bertanggung jawab terhadap kekejaman yang dilakukan di seluruh wilayah republik Indonesia termasuk di galung lombok, ” ungkapnya.

Baca juga  Program Guru Penggerak, Kemendikbud Komitmen Majukan Pendidikan
Foto : Awal Nugraha

Dan kepada nara sumber kita, Dr. Suriadi Mappangara selaku akademisi jurusan sejarah fakultas ilmu budaya unhas, bupati Majene mengucapkan selamat datang di Bumi Assamalewuang.

Selanjutnya, tambah Bupati Majene, para orang tua kita, tokoh pejuang pembantaian 40.000 jiwa di Galung Lombok yang bersedia datang dari kota Jakarta Bapak Sudarman Amin.

Foto : Awal Nugraha

“Tujuan kegiatan ini untuk memperingati kejahatan luar biasa oleh Belanda pasukan Westerling, pembantaian etnis Mandar di desa galung lombok pada 1 Februari 1947, rupanya untuk merebut kembali kemerdekaan Indonesia. “Kita berharap agar para keluarga korban ini, ada rasa kepedulian dari pemerintah Belanda sehingga bisa memberikan bantuan, seperti sarana sosial, pendidikan dan kesehatan,” ungkap Bupati.

Baca juga  Prof Gufran : Peran Majene Sebagai Pusat Pelayanan Pendidikan di Sulbar Harus Dimaksimalkan Lagi

Lebih jauh Bupati mengatakan, berharap agar taman makam pahlawan Galung Lombok mendapat rehabilitasi, sehingga bisa menjadi objek wisata sejarah kepahlawanan. “Kami berharap agar pemprov Sulbar dpat memperhatikan Taman makam pahlawan 40.000 jiwa Galung Lombok,” ujarnya.

Menurut Fahmi, kalau pemerintah sulbar tidak bisa memperhatikan, pemkab Majene tidak bisa berbuat banyak karena itu bukan wilayah Majene. (Awal Nugraha)


PENDIDIKAN