Dibaca : 77 kali.

Memutus Mata Rantai Kenaikan Harga Pangan di Bulan Ramadhan


Oleh : Renita ( Pegiat Literasi)

Tinggal beberapa hari lagi, kaum muslimin seluruh dunia akan kembali menghadapi bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan, ada satu hal yang selalu menjadi momok bagi kaum ibu di negeri ini yakni kenaikan harga bahan pangan. Bahkan, kenaikan harga semakin terasa ketika menjelang hari raya Idul Fitri. Hal ini seolah terus berulang setiap tahun tanpa adanya solusi tuntas untuk mengakhiri tradisi ini. Apa penyebab sebenarnya? Bagaimana pula sistem Islam mengatur serta menjaga kestabilan harga pasar?

Dilansir dari kompas.com, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri mengatakan beberapa hari menjelang puasa harga berbagai komoditas pangan mulai menunjukkan kenaikan. Kenaikan harga bahan pangan cukup mencolok dalam 1-2 hari ini yakni daging ayam, daging sapi dan minyak goreng. Beliau mengatakan harga rata-rata daging ayam saat ini mencapai Rp 38.000 hingga Rp 40.000 per ekor, daging sapi sekitar Rp 130.000 hingga Rp 131.000 per kg, dan minyak goreng sekitar Rp 14.300 per kg. Pihaknya juga akan terus memantau ritme kenaikan dan saat ini permintaan sudah mulai terlihat tinggi, bahkan secara nasional pada kamis (8/4) kenaikannya mencapai 10 persen (8/4/2021).

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Hendriadi mengungkapkan dalam rangka menjaga kestabilan harga komoditas utama, pemerintah telah melakukan analisis dan berbagai perhitungan, baik dari sisi produsen maupun dari sisi konsumen. Secara nasional ketersediaan pangan aman. Pihaknya juga berkomitmen bersama jajaran Kemendag untuk menjaga harga di tingkat produsen maupun konsumen.

Selain itu, saat kondisi harga mulai tidak stabil pemerintah akan melakukan intervensi, salah satunya dengan memobilisasi daging dari sentra produksi sampai ke pasar. Begitu juga dengan komoditas cabai yang naik karena faktor cuaca, sehingga masyarakat bisa membelinya dengan harga yang murah. Beliau juga memastikan harga cabai akan turun dalam waktu dekat (detik.com, 8/4/2021).

Baca juga  Politik Dinasti Bukan Sekedar Anomali Demokrasi

Selama bulan Ramadhan kita memang dianjurkan berpuasa seharian penuh. Namun, bukan berarti permintaan akan kebutuhan pokok semakin menyusut. Justru, pada bulan ini biasanya terjadi lonjakan daya beli masyarakat karena kebiasaan dalam menyambut Ramadhan. Hal ini, tentu tak akan dilewatkan begitu saja oleh para pedagang. Mereka pasti tak mau ketinggalan momen dengan cara meningkatkan penjualan atau menjadi pedagang musiman. Bahkan, bukan tidak mungkin ada pedagang yang sengaja menaikkan harga demi meraup keuntungan yang berlimpah.

Akar Masalah

Dalam menyikapi kenaikan harga ini, memang benar, Allah Swt. memerintahkan kita untuk meyakini bahwa Dia-lah satu-satunya pemberi rezeki. Sehingga, rezeki kita tidak tergantung pada tinggi atau rendahnya harga pangan di pasaran. Pun ketika Allah masih memberikan rezeki kepada kita, maka kita akan tetap bisa memenuhi kebutuhan kita.

Namun, syariat Islam memerintahkan kita untuk beramal ketika melihat kesulitan, baik itu menimpa diri kita maupun masyarakat secara umum. Demikian pula, pada saat kaum ibu semakin menjerit karena harga pangan semakin melangit, sementara perekonomian kian terhimpit karena adanya pandemi. Maka, kesulitan ini mengharuskan kita untuk memahami akar masalah serta mencari solusi untuk mengakhiri ketidakstabilan harga pangan ini.

Jika dicermati, kenaikan harga umumnya bisa terjadi karena beberapa faktor diantaranya, pertama, faktor alami yakni karena musim paceklik, gagal panen atau serangan hama sehingga produksi yang tidak mencukupi kebutuhan. Kelangkaan bahan pokok pun tak bisa dihindari. Tentu, hal ini menyebabkan harga bahan pangan semakin meroket. Padahal, bulan Ramadhan merupakan momen dimana permintaan akan bahan pokok semakin meningkat.

Baca juga  Penyimpanan Gas Elpiji 3 KG Tanpa Melalui Izin Usaha Merupakan Tindak Pidana Penyimpanan

Kedua, kenaikan yang dipicu oleh distorsi pasar. Penyimpangan pasar akibat adanya mafia pangan seperti penimbun, spekulan hingga kartel pangan yang melakukan permainan harga adalah suatu keniscayaan ketika asas liberalisasi yang menjadi ruh dalam menjalankan sistem ekonomi. Sistem demokrasi yang diterapkan hari ini memang merestui adanya liberalisasi dalam segala bidang termasuk ekonomi.

Miris, di negeri yang subur nyatanya tak membuat masyarakatnya semakin makmur. Bahkan, Indonesia terus dihantui oleh kelangkaan pangan dan karut marut distribusi pangan yang menyebabkan ketidakstabilan harga. Adapun solusi yang ditawarkan pemerintah, faktanya belum mampu menjaga kestabilan harga. Toh, buktinya fenomena ini selalu berulang layaknya tradisi tahunan. Sementara itu, rakyatlah yang kembali menjadi korban, kesejahteraan pun hanya tinggal impian.

Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan solusi yang dapat menjamin ketersediaan pangan dan menjaga kestabilan harga pangan. Sebab, saat ini rakyat sudah cukup merasakan dampak dari hantaman pandemi yang melibas perekonomian mereka. Maka, ketika kenaikan harga ini terus dibiarkan bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin terperosok ke jurang kemiskinan yang lebih dalam. Lantas, bagaimanakah Islam mengatasi persoalan ini?

Solusi Islam dalam Menjaga Kestabilan Harga

Dalam Islam, adanya peran negara mutlak diperlukan dalam rangka pengurusan hajat hidup masyarakat. Sebab, penguasa dalam Islam memiliki peran sebagai pelayan dan pelindung umat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Sesungguhnya seorang penguasa adalah pengurus (urusan rakyatnya), dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Negara dalam Islam memiliki kewajiban dalam pengelolaan pangan dari aspek produksi hingga distribusi. Tanggungjawab ini tidak boleh dialihkan pada pihak lain, apalagi korporasi. Negara berkewajiban untuk menjamin berjalannya proses produksi serta menjaga stok pangan.

Baca juga  Mahasiswa dalam Belenggu Kapitalisme

Berkaitan dengan faktor alam yang menyebabkan kelangkaan pangan, seperti yang pernah dilakukan oleh Umar bin khattab pada masa pemerintahannya. Saat itu, kota Madinah pernah mengalami masa paceklik yang menyebabkan harga bahan pokok naik karena jumlah sedikit. Selama sembilan bulan tidak turun hujan di Madinah. Maka, saat itu Khalifah Umar bin Khattab mengirim surat kepada gubernur Mesir Amr Bin Al’Ash dan meminta bantuan untuk mengirimkan persediaan pangan dalam rangka mengatasi paceklik yang terjadi di Madinah.

Dalam menjaga kestabilan harga akibat distorsi pasar, maka negara akan menghilangkan mekanisme pasar yang tak sesuai dengan syariat seperti penimbunan dan intervensi harga. Islam tidak memperbolehkan adanya penimbunan dengan menahan stok agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahili berkata, “Rasulullah Saw. melarang penimbunan makanan.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi)

Jika ada pedagang atau siapapun menimbun, maka ia dipaksa untuk mengeluarkan barang dan memasukkannya ke pasar. Jika dampaknya besar, maka pelakunya akan dijatuhi sanksi sesuai kebijakan Khalifah dengan mempertimbangkan efek dari kejahatan yang dilakukannya. Pun, Islam tidak membenarkan adanya intervensi harga.

Demikianlah mekanisme Islam dalam menjaga kestabilan harga pangan. Sistem Islam akan menjamin ketersediaan pangan dan memudahkan rantai distribusinya hingga ke tangan masyarakat, sehingga kestabilan ekonomi dapat diwujudkan. Ini semua hanya akan terealisasi ketika negara menerapkan seluruh aturan Islam termasuk pengelolaan pangan menggunakan sistem politik Islam.

Wa’allahu A’lam Bish Shawwab