Megaproyek Islamofobia di Tengah Pandemi



Oleh: Djumriah Lina Johan
(Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi Islam)

Wabah pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Satu demi satu negara maju hingga berkembang mengumumkan resesi ekonomi. Di tengah kekacauan ekonomi yang dipicu virus ini, berkembang masalah lama yang terus diperbarui, yakni gerakan Islamofobia.

Baru-baru ini, telah terjadi pembakaran Al-Qur’an di Swedia serta pelecehan dan penghinaan kitab umat Islam tersebut di Norwegia. Apa yang dilakukan kelompok anti Islam ini didukung oleh politisi di negeri mereka. Bahkan PM Norwegia membela apa yang dilakukan SIAN (Stop Islamisasi di Norwegia) sebagai bagian dari kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Di Perancis, Majalah Charlie Hebdo pun turut melakukan penghinaan kembali kepada junjungan umat Islam, Rasulullah Muhammad saw. Majalah yang pernah mencetak karikatur Rasul saw pada 2015 lalu. Kini mencetak ulang karikatur tersebut.

Tak berbeda jauh dengan negeri-negeri yang dihuni mayoritas non Muslim di atas, di Indonesia telah berkembang Islamofobia atas nama perang melawan radikalisme. Menteri Agama, Fachrur Razi sedari awal menjabat sebagai Menag selalu mengeluarkan statement yang cenderung war on terrorism. Mulai dari pelarangan cadar dan celana cingkrang bagi ASN hingga yang terbaru arahan untuk tidak menerima calon ASN yang pro pada Khilafah serta masuknya radikalisme ke masjid melalui anak good looking.

Baca juga  Refleksi Akhir Tahun: Potret Buram Jeratan Kemiskinan

“Caranya masuk mereka gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Al-Qur’an), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9).

Melihat masifnya gerakan Islamofobia di tengah pandemi Covid-19 membuat kita bertanya-tanya, apakah Islam, Rasulullah saw, Al-Qur’an, serta Khilafah adalah penyebab menyebarnya Covid-19 di dunia? hingga berbagai negara di belahan bumi termasuk Indonesia menyalahkan, menghina, melecehkan, mengkriminalisasi Islam, ajaran, dan pemeluknya? Tentu tidak. Kami jelas tidak terima diperlakukan sedemikian rupa.

Seharusnya di kala kegoncangan ekonomi global dan tingginya pasien positif Covid-19 di Indonesia dan dunia membuat masyarakat berpikir. Bagaimana menyelamatkan dunia ini dari kehancurannya? Telah nyata kerusakan ini terjadi di depan mata akibat kesalahan tata kelola ekonomi dan politik dunia. Namun, mereka enggan mengatakannya dan justru menyalahkan Islam dan terus melakukan penyerangan kepada Islam dan para pejuang Khilafah yang berdiri untuk menyuarakan solusi atas pandemi dan keguncangan politik ekonomi dunia.

Apa sebenarnya latar belakang masifnya gerakan Islamofobia di Indonesia dan dunia secara keseluruhan?

Pada tahun 2004, Daniel Pipes, pendiri Middle East Forum yang juga dikenal sebagai dalang gerakan Islamofobia menulis sebuah artikel berjudul “Rand Corporation and Fixing Islam”. Dalam tulisannya tersebut, Pipes mengaku senang. Harapannya untuk memodifikasi Islam berhasil diterjemahkan dalam sebuah strategi oleh peneliti Rand Corporation, Cheryl Benard.

Baca juga  Dinasti Politik Ala Demokrasi

Sebelumnya, Cheryl Benard, yang berdarah Yahudi pernah mencetuskan ide untuk mengubah Islam menjadi agama yang pasif dan tunduk kepada pemerintah AS. Serangkaian strategi pun dirancang dan dituliskan. Ia memaparkan konsepnya itu dalam buku berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies.”

Presiden George W. Bush Jr pun menyambut strategi tersebut. Khilafah menjadi salah satu ajaran Islam yang mereka serang. Dalam sebuah pidatonya pada bulan September 2006, Bush mengungkapkan:

“Mereka berharap untuk membangun utopia politik kekerasan di Timur Tengah, yang mereka sebut Khilafah. Khilafah ini akan menjadi kekaisaran Islam totaliter yang mencakup semua wilayah Muslim, baik saat ini maupun di masa lalu, membentang dari Eropa ke Afrika Utara, Timur Tengah, hingga Asia Tenggara…”

Tak hanya itu, dalam pidato yang sama, Bush pun bersumpah, tak akan membiarkan Khilafah tegak. “Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Dan tidak ada seorang pun Presiden Amerika di masa depan yang akan membiarkannya juga.”

Tak berhenti di AS. War on terrorism juga dilakukan oleh Rusia dan negara-negara di kawasan Asia Tengah. Bersumber pada akar ketakutan yang sama, yakni tegaknya Khilafah. Hal itu diungkapkan dengan sangat gamblang oleh master Nazarbayev – Vladimir Putin dalam film dokumenter yang baru-baru ini dirilis di Rusia. Dia menyatakan, “Mereka akan menciptakan Khilafah (Kekhalifahan) dari Eropa Selatan ke Asia Tengah”, – jawab Putin (2017). “Ini adalah bahaya terbesar”.

Baca juga  Penampakan Wajah Asli BUMN

Sungguh, Islamofobia serta monsterisasi ide Khilafah adalah murni karena ketakutan dan arahan Barat. Indonesia sebagai negara yang terjajah secara ideologi, pemikiran, politik, hingga ekonomi. Tak mampu melawan. Hanya akan tunduk dan patuh sebagai konsekuensi atas setiap utang dan investasi yang diterima negara ini. Sehingga wajar kiranya seburuk apapun tata kelola negeri ini. Fokus utama pemerintah tetap war on terrorism. Perang melawan ajaran Islam. Perang melawan ide Khilafah.

Dengan demikian, setelah mengetahui secara utuh dan mendalam mengenai upaya busuk para penjajah Barat dalam megaproyek Islamofobia. Akankah kita sebagai kaum Muslimin yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir akan berdiam diri atas kemunafikan Barat beserta pemerintahan bonekanya di negeri-negeri Muslim? Sungguh, kehidupan yang berakhir bahagia hanya bisa didapat kala diri ini menjadi bagian dari orang-orang yang memperjuangkan tegaknya Khilafah Islam. Karena hanya Khilafah-lah sejatinya solusi tuntas atasi problematika negeri ini dan dunia secara keseluruhan. Wallahu a’lam bish-shawab.