Majene Kota Tua



Oleh: Anfas (Direktur Universitas Terbuka Majene)

Minggu, 6 Desember 2020, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Majene menyelenggarakan Diskusi. Menghadirkan Narasumber Muhammad Ridwan Alimuddin selaku penulis Buku, Mithhar, S.Pd, M.Pd selaku Kepala Balitbang Kabupaten Majene, Dr. Muhammad Faisal, M.Pd selaku Antopolog dan saya mewakili Universitas Terbuka (UT) Majene. Hadir juga via zoom Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar, Farid Wajdidi.

Diskusi tersebut sifatnya membedah Buku Berjudul Majene Kota Tua. Buku karangan Bung Ridwan (kalau boleh saya memanggilnya demikian) disponsori oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar, sebagai upaya pelestarian dan mengangkat potensi pariwisata di bumi Mandar.

Dari diskusi tersebut, ada beberapa catatan yang ingin saya share kepada kita semua.

Pertama, tentunya kita sangat mengapresiasi upaya Dinas Pariwisata Provinsi Sulbar dan Bung Ridwan, atas upaya pembuatan buku Majene Kota Tua. Sebab, biasanya buku yang disusun/disponsori Pemda umumnya lebih banyak menyajikan prestatis yang dilakukan Pemda dalam bentuk angka-angka statistik, seperti: peningkatan jumlah kunjungan turis (domestic dan mancanegara), pertumbuhan hunian hotel, pertumbuhan UMKM pada sektor pariwisata dan sebagainya.

Kali ini beda dan keren menurut saya. Yang disajikan dalam buku adalah sejarah Majene sebagai kota tua dan potensinya sebagai kota wisata. Sehingga setidaknya dari buku tersebut, ada dua manfaat yang bisa kita dapatkan, yakni: pembelajaran sejarah dan budaya bagi anak cucu kita dan sebagai roadmap yang dapat digunakan oleh Pemda Provinsi Sulbar dan Kabupaten Majene dalam merumuskan kebijakan pengembangan wisata di Majene.

Baca juga  Tenaga Kesehatan dalam Elegi

Kedua, sebagaimana saya sampaikan dalam diskusi, bahwa jika sasaran penyusunan buku tersebut untuk dijadikan sebagai roadmap dalam menuwujudkan Majene sebagai kota wisata, maka tidak bisa hanya bermodalkan kajian akademik semata. Tapi harus ada tindaklanjutnya, berupa action yang nyata yakni adanya Peraturan Daerah (Perda), agar dapat menjadi dasar hukum bagi semua stakeholder dalam mendukung upaya tersebut. Karena hingga saat ini, sesuai pengakuan Dinas Pariwisata Provinsi, Perda tersebut belum ada.

Untuk itu, langkah pertama harus ada dulu Perdanya. Dalam Perda tersebut harus jelas tindakan apa yang mesti dilakukan oleh tiap OPD, baik di Kabupaten Majene maupun di Provinsi Sulbar. Tidak bisa hanya mengandalkan Dinas Pariwisata sebagai aktor tunggalnya. Seperti contoh: Dinas pariwisata membangun objek wisata potensial di Majene berserta berbagai event-nya, maka Dinas PU dan Pemukiman harus mendukung dengan membangun infrastruktur publik berupa jalan yang layak menuju lokasi wisata tersebut. Dinas Koperasi dan UMKM akan konsen melatih para pelaku UMKM untuk mengembangkan produk kerajinan yang menarik minat wisatawan. Dinas Pertanian konsen mengembangkan tanaman unggulan yang laku bagi para wisatawan, bila perlu membuat kebun wisata dan sejenisnya, seperti halnya Kebun Apel di Kota Batu, Jawa Timur. Dinas Kebersihan dan Tata Kota (jika ada) pun tak kalah penting dalam menjaga kebersihan sarana publik dan lokasi wisata. Karena seindah apapun alam sekitar kita, jika masih banyak sampah, maka akan mengurangi minat pengunjung.

Baca juga  Narasi Basi Radikalisme dan Terorisme, Siapa Dituju ?

Jadi intinya Perda tersebut tidak boleh digodok setengah-setengah, harus komplit dan jelas sebagai rujukan para pimpinan OPD dalam menyusun program kerjanya demi mewujudkan Kota Tua Majene sebagai Kota Wisata.

Tak kalah pentingnya juga dalam pembuatan Perda, harus melibatkan semua pihak, mulai dari kalangan akademik, para tokoh adat, kelompok-kelompok usaha, hingga kalangan seniman. Karena jika kita berbicara pariwisata, maka pedagang asongan pun memiliki peranan penting, sebab merekalah yang akan berada di garda terdepan dalam memasarkan tempat-tempat wisata kepada para pengunjung.

Baca juga  Pandangan Nyeleneh ‘Haid Boleh Puasa’, Dimana Peran Negara Menjaga Syariat?

Ketiga, berkaitan dengan pentingnya peningkatan wawasan dan pengetahuan seluruh komponen masyarakat tentang pariwisata. Baik pengetahuan berkaitan dengan lokasi yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan, maupun pengetahuan tentang budaya Mandar yang memiliki potensi untuk dijual kepada para wisatawan. Karena berbicara wisata, banyak cakupannya. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, wisata kuliner, hingga wisata spiritual. Semuanya saling terkait satu sama lain dan saling melengkapi untuk menjadi daya tarik wisatawan.

Saat pertama saya bertugas di Majene, langsung saya tanyakan ke teman-teman kantor, dimana saja lokasi wisata Majene yang asyik. Kebanyakan mereka bingung. Boleh jadi karena minimnya pengetahuan mereka tentang objek wisata yang ada. Atau boleh jadi juga mereka masih minder merekomendasikannya karena masih minimnya infrastruktur yang ada di lokasi wisata tersebut sehingga dianggap kurang menarik.

Itulah catatan saya, semoga kelak Majene semakin maju, bukan hanya dikenal sebagai kota pendidikan, namun juga dapat menjadi ikon wisata di Sulbar. Semoga (***)


OPINI