Dibaca : 37 kali.

Mahasiswa dalam Belenggu Kapitalisme


Oleh: Sitti Fatimah
(Mahasiswa Unsulbar)

Mahasiswa adalah agent of change yakni pembawa perubahan. Mereka penyalur aspirasi masyarakat dan menjadi harapan masa depan. Buruknya kaum muda hari ini maka suramlah nasib bangsa kedepannya tetapi berkualitasnya pemuda hari ini maka cerahlah masa depan suatu bangsa. Karena itulah Rasulullah Saw. mengingatkan kita untuk menjaga kaum muda. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Manfaatkanlah 5 perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan saat hidupmu sebelum kematianmu” (HR. A-Baihaqi).

Kemenangan bangsa Indonesia pun tidak lepas dari peran kaum muda. Selain itu, Reformasi mengingatkan kita bahwa gerakan mahasiswa dimasa lalu patut diajukan jempol dan menjadi inspirasi. Mereka mampu meruntuhkan era orde baru dalam melengsserkan kekuasaan rezim.

Sayangnya mahasiswa kini telah kehilangan independensinya sebagai agent of change. Pergerakannya terlihat lumpuh dan sekarat. Sifat apatis dan pragmatis melekat pada sebagian besar tonggak perubahan bangsa ini. Mereka terlalu fokus dengan hidupnya sendiri, terlalu fokus pada kuliahnya sehingga mereka lupa akan tugas dan tanggung jawabnya yang sesungguhnya.

Gaya hidup mahasiswa dan para aktivis-aktivisnya terspesona oleh budaya yang liberal. Perkembangan zaman nampak mengikis kebudayaan kritis dan idealisme mahasiswa. Mahasiswa mengalami kemunduran pesat tiap harinya. Tidak sedikit mahasiswa yang manghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan, tawuran, bermain game, dan menonton drakor. bahkan lebih parahnya lagi mahasiswa yang memiliki pemikiran basar dan hebat malah banyak menghabiskan waktu untuk bercerita dan ngopi bareng tanpa adanya perubahan yang mereka hasilkan.

Baca juga  Realokasi TPG Untuk Covid, Solusikah ?

Organisasi-organisasi besar pun terlihat vakum dan tidak melakukan kegiatan apa-apa. Padahal hampir tiap harinya, sebuah organisasi mengadakan rapat, bahkan rapatnya hingga larut malam. Tapi tidak ada program yang mereka buat untuk kepentngan masyarakat dan bangsa. Visi dan misi dari organisasi untuk mengembangkan potensi, melahirkan generasi yang kritis dan idealis untuk membawa perubahan terhadap bangsa dan negara pun nihil hasinya.

Dengan berbagai potensi dan kesempatan yang dimiliki oleh mahasiswa. Tidak sepantasnya mereka hanya mementingkan diri sendiri tanpa memberikan kontribusinya terhadap masyarakat, bangsa dan negara. Bangsa ini menaruh harapan besar diatas pundak mahasiswa, yang artinya apabila ada ketidak sesuain antar masyarakat dengan pemerintah maka mahasiswa dituntut untuk merubahnya berdasarkan kebenaran.

Namun sayangnya,tak jarang dari mereka malah menjadi alat politik para politisi dan kaum elit yang tidak bertanggung jawab. Suara mahasiswa dengan mudahnya dibungkam, sementara penderitaan masyarakat semakin parah. Suara mahasiswa kini hilang entah kemana. Diperparah lagi dengan kebijakan-kebijan pemerintah yang seakan-akan menjauhkan mahasiswa dari sikap kritisnya.

Ancaman Komersialisasi dan Sekularisme bagi Mahasiswa

Kemunduran mahasiswa ini tidak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang mempengaruhinya baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal biasnya karena kemalasan dalam diri mahasiswa atau karena tidak ingin terbebani oleh tugas sosiologis. Tugas sosiologis berdasarkan berdimensi kemasyarakan yang membawa perubahan.

Baca juga  Perjanjian Ekonomi RCEP, Indonesia Untung atau Buntung?

Adapun faktor ekternalnya yaitu sistem yang tengah diterapkan. sistem pendidikan saat dibuat mandul akan fungsinya sebagai pencetak generasi emas, kurikulum dibuat sedemikian rupa sehingga energi mahasiswa terkuras begitu saja. Selain itu mereka disuguhkan dengan pola pikir yang kapitalis dan liberali.

Diskriminasi dalam dunia pendidikan tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Slogan orang miskin dilarang sekolah memang benar adanya. Apalagi dimasa pandemi covid-19, buruknya kebijakan pendidikan mengakitbatkan sekitar 50% pelajar tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang Perguruan Tinggi (Jawapos.com, 20/9/2020). Sementara kuliah daring dengan segala keterbatasannya mulai dari kouta, jaringan hingga kurikulum yang tidak memadai menjadikan mahasiswa kewalahan.

Karena peran negara diminimalisasikan sebatas regulator mengakibatkan sekolah dan perguruan tinggi harus cungkir balik mencari dana. Penurunan UKT ternyata hanya prank belaka. Hingga tahun ajaran baru 2021 pun, UKT masih menjadi persoalan besar perguruan tinggi.

Sistem pendidikan sekarang mencetak mahasiswa sebagai pilar penegak kapitalis global, mahasiswa menjadi pabrik tenaga kerja. Kaum perempuan pun tak luput dari jeratan mereka, fungsi perempuan sebagai ummul warobatul bait kini teralihkan menjadi pencari nafkah.

Diakui atau tidak, sistem pendidikan di Indonesia adalah sistem sekuler-materialistis. Pendidikan moral dan agama tidak proporsional dan tidak dijadikan landasan bagi bidang lainnya. Rata-rata pendidikan Agama di PT diberikan sebanyak 2 jam pelajaran dengan muatan 3 SKS di semester pertama. Bahkan beberapa PT menjadikan matakuliah Agama sebagai matakuliah pilihan. Sehingga tak aneh apabila mahasiswa tertanamkan nilai-nilai sekularisme baik langsung ataupun tidak langsung. Sehingga tak jarang dijumpai mahasiwa yang berprestasi tetapi kurang akhlak dan moralnya.

Baca juga  BERANI TAMPIL BEDA TANPA LOCKDOWN

Selain itu, kapitalisme merupakan titipan penjajahan barat untuk semua negara jajahannya termasuk Indonesia. Sejak awal penjajahannya, mereka bukan hanya menjarah kekayaan kita tetapi juga pemikiran. Sehingga setalah kemerdekaan indonesia, penjajahan tetap berlangsung mulai dari bidang ekonomi, politik, pendidikan hingga kesehatan. Dibidang pendidikan sendiri dirancang oleh intelektual yang akan dididik oleh barat. Barat memasuki sistem pendidikan indonesia dengan memberikan pinjaman, beasiswa, hibah, pertukaran mahasiswa serta melakukan penelitian.

Penutup

Melihat dari masalah yang dihadapi mahasiswa dibutuhkan solusi yang fundemental. Dan sulosi itu hanya satu yakni melakukan perbaikan secara menyeluruh yang dimulai dengan perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. Begitupun dengan kurikulum dan tenaga kerja harus berlandaskan pada ajaran Islam.

Mengingat problem pendidikan berkaitan dengan berbagai bidang, mulai dari bidang ekonomi, pemerintahan hingga seluruh masyarakat. Maka kita perlu melakukan perbaikan yang sistematis dengan yang Islami. Sehingga sistem pendidkan akan berjalan sebagaimana semestinya. Akan lahir mahasiswa yang berkepribadian islam dan berkualitas unggul yang memiliki daya saing internasional dan mampu menjadi tonggak peradaban.