LIBERALISASI PARIWISATA YANG KATANYA MENGGIURKAN


Oleh : Nurlina Basir

Pariwisata adalah apa yang berhubungan dengan perjalanan untuk rekreasi; pelancongan; turisme (KBBI). Lokasinya bahkan sangat banyak di wilayah tanah air kita dan sangat diminati oleh masyarakat khususnya pada saat liburan tiba. Lihat saja pengunjung tempat rekreasi atau tempat liburan sangat ramai untuk dikunjungi. Terlebih lagi apabila tempat itu memiliki daya tarik khas seperti tersedianya hiburan/pertunjukan yang bisa menghibur pengunjung. Bahkan sampai pada membahayakan pengunjung. Seperti yang terjadi pada Even Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede kabupaten Sumedang yang pesertanya 5.555 orang, satu persatu pingsan dan beberapa diantaranya kesurupan (31/12/2019).

Dengan alasan tarian adalah bagian dari budaya yang harus dilestarikan, disamping juga karena menarik perhatian wisatawan. Selain keindahan alam, Unsur Mistis dan mitos menjadi bumbu didalamnya. Sehingga Melemahkan aqidah umat, padahal inilah kunci dari kekuatan umat islam. Meyakini kehebatan selain kepada Sang Pencipta itu akan mencederai Aqidah kita sebagai seorang Muslim.

Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Amalia Adininggar Widya mengatakan, di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sejak ditetapkan sebagai sektor ekonomi terdepan, pariwisata diharapkan dapat menjadi salah satu unggulan penghasil devisa negara. Apalagi, ketika perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina mulai memberi dampak bagi perekonomian global termasuk Indonesia. Benarkah Pariwisata mampu menambah pertumbuhan ekonomi ??? Seberapa besar uang yang bisa masuk ke sektor ini, dibandingkan dengan sumber daya alam yang kita miliki?.

Baca juga  Hormati Guru, Berkahlah Ilmu

Negara kita adalah negara yang sangat kaya. Mulai dari Sabang hingga Merauke. Salah satu yang senantiasa menjadi perhatian adalah ada tambang Emas di Papua yang dikelola oleh perusahaan milik AS yaitu PT. Freeport Indonesia, yang konon keuntungannya adalah 3.000 Triliun/tahunnya. Belum lagi yang ada di pulau lain misalnya Kalimantan yang memiliki tambang Batubara, yang keuntungannya juga sangat besar.

Kemanakah itu semua? Bukankah di dalam pandangan Islam kekayaan alam adalah milik Umat yang harusnya di kelola oleh negara dan dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan Umat? Kenapa justru Negara lain yang menikmatinya?

Dalam hadits shohih, Rasul saw. bersabda :

Baca juga  Muharram dan Momentum Membalik Sejarah Islam di Nusantara

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ …

“Setiap kalian adalah pengurus dan penanggungjawab atas urusannya. Dan Imam (Penguasa) ialah pengurus dan hanya dialah yang jadi penanggung jawab atas urusannya..” (hr. Bukhori, Shohih Bukhori, 8/253).

Ingatkah kita apa yang pernah terjadi di zaman Rasulullah saw ketika ada yang meminta tambang garam untuk dikelola, lantas di tarik kembali oleh beliau karena ada aduan bahwa hasil tambang garam itu ibarat air yang mengalir?? Tambang Garam saja tidak bisa dikuasai oleh individu atau sekelompok orang yang bermodal (pengusaha), bagaimana dengan Tambang Emas, batubara, dan kekayaan alam yang lainnya? Islam jelas tidak mengizinkan itu. Inilah negara kapitalis, siapa yang bermodal akan senantiasa mendapatkan kesempatan yang baik.

Apalagi jika Pengusaha dekat dengan Penguasa, maka disinilah akan terjadi kongkalikong diantara mereka. Sudah menjadi hal biasa fakta seperti ini kita dapatkan, karena memang Indonesia mengikuti aturan bermain Negara-negara adidaya yang kapitalistik.

Baca juga  Rakyat Semakin Menjerit, Butuh Solusi Tuntas

Perang dagang antara AS – China mempengaruhi Indonesia khususnya dan dunia secara global karena memang yang memegang kendali perekonomian dunia adalah mereka alias Indonesia tak berdaulat secara ekonomi. Mau tidak mau, apapun kebijakan yg di ambil AS, akan memiliki dampak kepada Indonesia dan negara-negara lainnya. Jadi merupakan penyesatan opini publik bahwa pariwisata mampu menghadapi kesulitan ekonomi akibat perang Dagang antara AS – China.

Pariwisata adalah sektor non strategis dalam membangun perekonomian negara dan dikte penjajahan agar mereka leluasa mengeruk kekayaan alam strategis di negeri ini. Umat harus sadar bahwa Kebijakan yang senantiasa diterapkan dengan mengikuti ideologi mereka adalah sebuah kelemahan dan membawa pada kehancuran yang nyata.

Bukankah ini semakin membuktikan bahwa Umat butuh Aturan yang berpihak pada umat dan aturan itu adalah yang Shohih dari Sang Pencipta Alam Semesta (Islam)!?

Bagi seorang muslim, Allah adalah ahkamul hakimin alias sebaik-baik pemberi ketetapan hukum. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bukankah Allah adalah sebaik-baik pemberi ketetapan hukum?” (QS. At-Tiin: 8). Wallahu a’lam bishshowab


OPINI