Kritik Kurikulum Pendidikan, Kritik Dasar Arah Pembangunan Generasi



Oleh: Annida Indah Khofiyah
(Pelajar di SMKN 2 Majene)

Bismillahirrohmanirrohiim…..
Di tengah masa pandemi saat ini, dimana masih banyak permasalahan yang terjadi di indonesia seperti menurunnya ekonomi masyarakat dan negara, pemerintah kewalahan mengatasi pandemi covid-19, tindak kriminal meningkat dan kemerosotan pendidikan, dll.

Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di indonesia saat ini, Menteri pendidikan dan kebudayaan indonesia, Nadiem Makarim malah ingin menerbitkan wacana baru yakni penerapan sistem kurikulum pendidikan baru yang akan diterapkan pada sekitar Maret 2021.

Berdasarkan hal ini, pengamat pendidikan dari universitas negeri jakarta, Rakhmat Hidayat menilai wacana menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim menerapkan kurikulum baru tidak tepat dilakukan di tengah pandemi covid-19. Ia beralasan, masih banyak masalah substansi lain yang lebih penting diselesaikan.

Rencana kurikulum 2021 menurut saya dalam kondisi saat ini kurang tepat. Pembelajaran dan ranah pendidikan kita ini sekarang berada dalam suasana yang kita sebut krisi pendidikan, kata rakhmat kepada CNNIndonesia.com. (dikutip dari m.cnnindonesia.com)

Duh… kurikulum sebelumnya saja penerapannya masih belum merata keseluruh indonesia dan memerlukan waktu yang panjang. Dan sekarang pak nadiem ingin menerapkan kurikulum baru?

Nah kurikulum baru yang dimaksud menteri pendidikan dan kebudayaan tersebut yakni kurikulum yang program utamanya merupakan kurikulum berbasis pendidikan vokasi dan konsep link-match. Apasih itu? Mengutip dari sevima.com , link-match adalah penggalian kompetensi yang dibutuhkan pasar kerja ke depan. Pada hakikatnya konsep link-match dapat digunakan sebagai media untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja.

Baca juga  Ritel Gulung Tikar Akibat Salah Tata Kelola Ekonomi Negeri

Walau demikian, konsep kurikulum baru tersebut banyak dikritik oleh berbagai kalangan karena dapat berpengaruh besar terhadap profiling generasi yang sekuler dan berorientasi materi. Melansir dari m.jpnn.com , ormas keagamaan kompak menyoroti peta jalan pendidikan kemendikbud yang masih perlu untuk direvisi kembali.

Disamping itu, wakil ketua komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih juga mengkrirtisi peta jalan pendidikan tahun 2020-2035 yang sudah dibuat kemendikbud. Ia mengatakan peta jalan pendidikan tersebut masih perlu direvisi kembali. Juga karakteristik dan kompetensi pelajar pancasila yang akan dibentuk melalui peta jalan pendidikan, masih perlu disempurnakan.

Mengutip dari nasional.okezone.com , abdul muhaimin iskandar selaku ketua umum dewan pimpinan pusat partai kebangkitan bangsa (DPP PKB) meminta agar menteri pendidikan dan kebudayaan , Nadiem Makarim agar segera diganti. Dia melihat, saat ini krisis atau darurat pendidikan yang terjadi sepanjang pandemi covid-19 belum bisa tertangani dengan baik dan belum ada terobosan yang dilakukan Nadiem sebagai solusi dalam mengatasi darurat pendidikan nasional.

Baca juga  Korupsi Kian Menggurita dalam Sistem Kapitalis

Hmmm…sepertinya kehancuran pendidikan indonesia sudah didepan mata jika sistem kurikulum yang diterapkan masih itu-itu saja ya , apalagi menteri pendidikan dan kebudayaan indonesia ingin menerapkan kurikulum baru namun tetap saja banyak kalangan yang mengkritik bahkan tak setuju.

Nah bagaimana perspektif islam dalam menanggapi hal ini? Bagaimanakah profil generasi ideal dan bagaimana kurikulum pendidikan yang dibutukan sebenarnya oleh generasi penerus bangsa hari ini? Melihat bagaimana keberhasilan Rasulullah dalam mendidik dan mengatasi segala problematika ummat dengan berbagai pemecahan yang strategis membuat kita seharusnya dapat mencontoh apa yag telah rasulullah lakukan di masa lalu. Dimana dengan akhlak mulia tersebut beliau dapat mencetak generasi-generasi gemilang yang berlandaskan ketakwaan kepada Alloh SWT.

Beliau berpegang teguh pada Alquran yang menjadi pedoman dalam mendidik dan mengatasi segala problematika yang ada. Bercermin pada masa kejayaan khilafah Rasulullah sampai dengan kekhilafahan yang terakhir yakni khilafah utsmaniyah dimana sistem pendidikan yang diterapkan didalamnya yakni sistem pendidikan kurikulum berdasar pada al-quran dan as-sunnah sehingga dapat mencetak generasi-generasi unggul yang memiliki pemikiran cemerlang dan berkepribadian baik serta santun (akhlakul karimah).

Pada masa itu tidak ada generasi gagal , pendidikan sistem islam menjamin para pelajarnya dapat dengan mudah memahami segala ilmu pengetahuan yang diberikan , bukan hanya tentang ilmu pengetahuan tetapi mereka juga diajarkan bagaimana berperilaku yang baik laykanya teladan kita Rasulullah SAW.

Baca juga  75 Tahun Merdeka, Saatnya Bangsa Berbenah

Semua itu tidak akan pernah terwujud bila sistem pemerintah yang diterapkan masih merupakan sistem democrazy atau sistem buatan manusia lainnya. Bukannya generasi unggul yang didapatkan , tetapi malah generasi perusak bangsa yang akan lahir. Oleh karena itu, sistem islam hadir sebagai solusi dalam berbagai problematika tersebut. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para pemimpin setelahnya, yakni menerapkan sistem islam yang menjamin kesejahteraan umat , tidak ada kerusakan didalamnya, tidak ada generasi gagal yang akan lahir seperti halnya sistem demokrasi sekarang karena sistem islam berpedoman dari Alquran, berpedoman langsung dari ALLOH SWT, Sang Pencipta seluruh alam.

Sebagai umat muslim, masihkah kita akan berdiam diri dengan kerusakan yang terjadi hari ini? Masihkah kita akan menolak sistem islam? Atau bahkan masihkah kita akan menjadi penghalang berdirinya sistem islam? Tak rindukah kita akan sistem islam ? jawabannya pasti iya! Rindu! Oleh kerena itu, sudah waktunya kita bangkit, sudah waktunya kita bergerak, sudah waktunya mengambil barisan paling depan untuk menegakkan kembali sistem islam kaffah, sistem islam secara menyeluruh yakni Khilafah Minhaj al Nubuwah. Wallohualam bissowab


OPINI