Kolaborasi


Oleh: Anfas (Direktur UT Majene)

Teringat saat masih kuliah di Surabaya tahun 2000-2002, kami sering diundang oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) kala itu, Prof. Dr. Suroso Imam Zadjuli untuk berdiskusi tentang pengembangan potensi kawasan Indonesia timur.

Dalam satu kesempatan diskusi beliau pun bercerita pengalamannya saat menjadi dosen muda, di dekade 1970-an. Saat itu ia menyikuti rombongan studi banding ke Jepang. Di salah satu Universitas Top (penulis lupa nama universitasnya), ia diajak ke Laboratorium Teknik. Awalnya ia heran, koq seorang ekonom justru studi banding di laboratorium?

Akhirnya ia pun mendapat penjelasan dari seorang Profesor yang mendampingi “tour” mereka, bahwa Laboratorium itu sedang mengembangkan GPS yang mampu mendeteksi ikan dalam radius yang jauh di laut.

Karena penasaran, Pak Suroso pun bertanya apa tujuan penelitian itu. Lalu sang Profesor Jepang menjelaskan, bahwa mereka telah melakukan penelitian berkaitan dengan pertumbuhan otak manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin besar volume otak manusia, maka semakin cerdas. Penelitian pun berlanjut untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan volume otak tersebut. Ditemukanlah jawabannya, yakni protein. Dan sumber protein terbanyak adanya di ikan. Maka Negara Jepang pun berburu ikan untuk dikonsumsi sebanyak-banyaknya.

Baca juga  Negeri-Negeri Muslim Butuh Junnah

Sadar akan wilayah lautnya yang terbatas, Jepang akhirnya menciptakan GPS tersebut untuk digunakan berburu ikan di berbagai penjuru laut negara lain. Dengan adanya alat tersebut, tentu akan ekonomis karena efektif dan efisien. Sebelum berburu, posisi ikan telah terdeteksi. Tak lagi asal berlayar.

Dalam setahun, orang Jepang 730.783,86 ton. Maka tak heran jika dari 10 orang Jepang, satu diantaranya pasti jenius. Karena makanan mereka penuh protein. Lihat saja pesepak bolanya. Kini mereka tinggi besar layaknya orang eropa. Sekali lagi karena protein mereka tercukupi.

Baca juga  Mengejar Pajak Hingga ke Lubang Jarum

Pelajaran apa yang dapat dipetik? Salah satunya kolaborasi antar sectoral.
Mereka sadar untuk menciptakan rakyat yang jenius, tak hanya menjadi beban satu institusi. Namun jadi tanggung jawab bersama.
Kecerdasan bukan hanya tugas Institusi pendidik, namun ahli perikanannya pun turut mendukung. Para insiyurnya pun membantu menciptakan alat untuk mencapai tujuan tersebut.

Bagaimana dengan kita yang katanya begara maritim? Luas wilayah negara kita katanya dua per tiganya adalag lautan, tapi kita tak mampu memanfaatkan potensi itu. Tak jarang, nelayan sampai saat ini masih melaut dengan alat tradisional seadanya. Hidupnya pun masih pas-pasan.

Lantas, bagaimana dengan jumlah konsumsi ikan kita? Rupayanya kita masih kalah dengan Jepang yang lautannya terbatas, dimana dalam setahun kita hanya mengkonsumsi ikan 135.624,28 ton. Maka tak heran jika masih kita jumpai anak-anak Indonesia yang mengalami dwarfisme. Kondisi yang mengakibatkan pertumbuhan tulang yang lebih pendek daripada umumnya.

Baca juga  PENGHINAAN TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW KEMBALI TERJADI, KAUM MUSLIM BUTUH KHILAFAH

Maka tak heran pula jika Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita masih kalah dengan negara lainnya. Dari 34 Provinsi, hanya DKI Jakarta memiliki IPM tertinggi (di atas 80), sejak 2018. Sisanya, nilai IPM 22 provinsi masih di status tinggi (70-80) dan 11 provinsi berada di status sedang (60-70). Salah satu penyebabnya adalah pada sektor kesehatan, diantaranya dwarfisme.

Di akhir diskusi dengan Prof. Suroso, beliau berkata, saat ini generasi kita lebih tertarik berbicara politik, maka tak heran rakyak di warung kopipun dapat menjadi pakar. Sementara berbicara ekomoni kurang menasik bagi kalangan muda. Padahal dengan kemapanan ekonomi, kalian dapat menguasai panggung politik.

Beberapa hari lalu kita telah selesai melakukan pemilihan kepala daerah. Semoga para pimpinan yang terpilih, dapat menyatukan semua sektor untuk membangun SDM kita, untuk lebih baik lagi ke depannya. Semoga (***)


OPINI