Terbaik terbaik

Dibaca : 97 kali.

Khilafah Dinanti Atasi Pandemi


Oleh: Nurlinda/ Pemerhati Sosial

Organisasi kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pandemi Covid-19 tidak akan menjadi pandemi terakhir. WHO juga menuturkan upaya untuk meningkatlkan kesehatan manusia “ditakdirkan” tanpa mengatasi perubahan iklim dan kesejahteraan hewan.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sudah waktunya untuk belajar dari pandemi Covid-19. “sudah terlalu lama, dunia telah beroperasi dalam siklus kepanikan dan pengabaian” katanya seperti dilansir Chanel News Asia pada minggu (27/12/2020).

Pernyataan WHO ini bukti kegagalan sistem sekuler menghentikan tersebarnya virus Covid-19. Sehingga mengakibatkan munculnya jenis virus baru karena pemerintah tidak segera melakukan adanya karantina virus.

Kegagalan sistem sekuler dalam mengatasi virus Corona-19 terutama kondisi di Indonesia, AS, serta negara-negara lain yang penganut politik pemerintahan demokrasi. Ini membuktikan bahwa sistem ini telah gagal dalam mengatasi pandemi. Ketidaktaatan masyarakat pada protokol kesehatan pun hanya untuk menutupi boroknya kegagalan sistem ini. Karena pada umumnya bukan inilah akar masalah utama melainkan efek dari kegagalan sistem politik pemerintahan itu sendiri.

Baca juga  Visi Indonesia Dalam Cengkeraman Imperialisme

Padahal menerapkan protokol kesehatan merupakan tindakan sederhana dan mudah untuk dilakukan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker saat beraktifitas diluar rumah. Akan tetapi masyarakat merasa sulit untuk melaksanakan karena masih bergantung dari sistem politik, dan sosial budaya.

Sehingga dengan adanya pandemi ini telah membuktikan bahwa sistem ini benar-benar tidak bisa dijadikan sebagai patokan. Apalagi diharapkan menjadi tempat naungan yang bisa memberi manusia rasa nyaman, kebahagiaan dan penjagaan.
Cara Khilafah menghentikan penularan dan mutasi virus sehingga sebuah wabah tidak akan menjadi pandemi.

Hanya islamlah satu-satunya sistem yang mempunyai pengalaman dan sejarah terbaik dalam mengurus umat manusia di setiap keadaan. Termasuk di masa pandemi yang secara sunnatullah bisa menimpa siapa pun di fase-fase tertentu dalam kehidupan manusia termasuk kehidupan umat Islam.

Baca juga  Demokrasi Anti Kritik

Sehingga yang harus diselesaikan di sini, tentu saja wabah Covid-19 itu sendiri agar virusnya tidak bermutasi menjadi pandemi. Dalam sejarah, wabah penyakit menular pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Pada saat itu, nampak jelas bahwa Islam telah lebih canggih dalam membangun ide karantina untuk mengatasi wabah penyakit menular.

Wabah di masa itu ialah kusta yang menular dan mematikan karena belum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda,

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ
“Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta.” (HR al-Bukhari).
Abu Hurairah ra bahkan menuturkan bahwa Rasulullah bersabda, “Jauhilah orang yang terkena kusta, seperti kamu menjauhi singa.” (HR al-Bukhari).

Baca juga  Jejak Khilafah di Nusantara

Rasulullah saw. juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda,
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Mekanisme karantinanya yaitu dengan menempatkan penduduk yang terjangkit wabah, di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk sehat. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan pantauan ketat. Para penderita baru boleh meninggalkan ruang isolasi ketika dinyatakan sudah sembuh total.