Keseteraan Upah Wanita Mantra Sihir Feminis


Oleh Tyas Ummu Amira

Perempuan menjadi ajang komoditas feminisme, kesetaraan gender sebagai tujuan para imprealis diselubungi utopi kesejahteraan kaum hawa. Di iming-imingi berbagai mantra sihir popularitas, serta karier duniawi, hingga merendahkan al qowam yakni kepala keluarga.

Dikutip dari bisnis.com, Jakarta saat ini tenaga kerja perempuan masih dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, dengan perkiraan kesenjangan upah sebesar 16 persen.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh International Labour Organization (ILO) dan UN Women, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernilai sama. Angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak.

Kesenjangan upah ini memberikan dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi Covid-19. Dari laporan pemantauan ILO (21/9/2020)

Dengan meninjau fakta diatas, bahwa ide kesetaraan gender ini sudah lama bercokol di dunia, sekitar seperempat abad sejak dunia dipaksa mengadopsi Aksi Beijing (BPfA), akan tetapi dinilai perkembanganya masih lambat.

Alhasil dikutip dari kumparan.com untuk pertama kalinya Indonesia bersama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Kesetaraan Upah Internasional yang jatuh pada 18 September. Perayaan tersebut juga sebagai bentuk komitmen dari PBB untuk memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan.(19/9/2020).

Baca juga  Laporan Langsung Orang Mandar di Amerika Serikat (2)

Ide feminis ini berhasil masuk dinegeri ini, dengan dalih untuk mengangkat derajat serta upah tenaga kerja wanita. Akan tetapi realitasnya faham kapitalis yang dianut mengekploitasi perempuan demi totalitas hegemoni atas dunia semata. Ditambah, situasi masih dikubangan pandemi seakan lahan matapecaharian mulai sempit, bahkan tiada lantaran banyak badan usaha dan perushaan gulung tikar akibat resesi menjangkiti negeri ini.

Sungguh ironi nasib wanita dalam jeratan ide femenisme ini, sebab dalam kaca mata faham ini kaum hawa adalah pontensi terbesar untuk menjalankan roda perekonomian. Tujuan akhir barat adalah menyetarakan gender 50 : 50 pada semua bidang. Sehingga mereka berupaya agar muslimah banyak terserap pada industri para kapitalis, untuk mengukuhkan profitnya.

Dengan ini banyak perempuan berbondong – bodong untuk eksis di luar rumah, untuk menjadi tulang punggung keluarga. Padahal sejatinya itu adalah tugas laki – laki, akan tetapi faktanya tingkat penggaguran serta korban phk masal bertaburan di berbagai wilayah. Sehingga peran serta hak dan kewajiban dalam rumah tangga menjadi porak poranda. Konflik internal menjadi hal lumrah jika ekonomi tak terpenuhui kasus kdrt menjadi momok memecah sakinah dalam rumah. Ditambah istri memiliki potensi lebih dari suami, tidak sedikit sering melalaikan kewajibanya sebagai ibu pengatur rumah tangga.

Baca juga  Rezim Neolib Pelit dan Berbelit Berikan Hak Rakyat

Dengan berbagai fakta dan permasalahan nan komplek, ini semua di latarbelakangi oleh ideologi demokrasi kapitalis, dua instrumen yang tak pernah terpisahkan. Dalam sistem demokrasi menjunjung tinggi hak asasi manusia, didukung kapitalis untuk melengangkan kebebasan diatas parameter materi.

Lengkap dan kompak sudah sistem ini membuat kacau tatanan kehidupan, sehingga manusia semakin jauh dari aturan sang pencipta-Nya.
Dengan ini sistem sekular telah gagal untuk menyelesaikan masalah perempuan. Sehingga perlu solusi revolusioner untuk menuntaskanya, yakni hanya dengan sistem yang mampu memberikan solusi paripurna. Sistem ini hanyalah dengan akidah Islamiyah sesuai fitrah manusia, memuaskan akal serta melahirkan aturan – aturan dari Allah SWT. Dalam sistem Islam dibawah naungan khilafah, kaum perempuan di jaga dan di lindungi kehormatanya. Selain itu Islam memberikan ruang untuk menuntut ilmu, sebab ini adalah kewajiban bagi muslim laki- laki dan perempuan.

Baca juga  Baha'i dan Arus Kebebasan Beragama

Di lain sisi, dalam Islam berbagai taklif ( beban) syariah Allah telah menetapkan hak dan kewajiban bersifat manusiawi dan tak membeda- bedakan. Untuk sekup sosial perempuan diperbolehkan mulai dari muamalah, kontrak kerja, perwakilan, penjaminan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya
Sejarah Islam membuktikan, Khilafah adalah negara yang mobilisasinya seluruh tentara untuk membela kehormatan perempuan. Khilafah tidak akan mengekpolitasi untuk bekerja keluar rumah, karena lapangan pekerjaan tersedia bagi kepala rumah tangga. Semua fasilitas publik serta kebutuhan pokok dijamin oleh negara bersumber dari baitul mall, sehingga tidak ada perempuan memikul beban berat mencari nafkah.

Apabila ada permpuan yang ditinggal mati suaminya, sedangkan dia tak mempuyai saudara laki – laki yang menanggung hidupnya, maka khilafah turun tangan memberi bantuannkebutuhan pokok, rasa aman dan kenyamanan untuk mereka. Memberikan layanan kesehatan, pendidikan terbaik untuk kelangsungan hidupnya.

Beginilah wajah emas sistem Islam dalam memandang perempuan, tak mendeskriminasikan keberadaanya. Islam sangat menjunjung tinggi kemulian seorang perempuan, sehingga sangat penting sistem ini untuk diterapkan di muka bumi ini.

Waallhu’alam bishowab.