Terbaik terbaik

Kesejahteraan Guru Honorer yang Tak Kunjung Terwujud


Oleh: Ummu Nasrullah Ramadan

Semua sudah tahu bagaimana jasa seorang guru dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, melahirkan generasi-generasi cerdas, intelektual, dan profesional. Melalui tangannya, dia membimbing, mengajarkan ilmunya, menasehati dan mengarahnya sehingga kelak menjadi anak yg berguna bagi bangsa dan agama.

Namun, sungguh disayangkan nasib guru-guru saat ini jauh dari kata sejahtera, utamanya guru dengan status honorer. Kepastian nasib mereka kedepannya masih dipertnyakan. Pengangkatan menjadi ASN akankah terwujud? Mengingat pengabdian mereka dalam tugas mulia ini sudah bertahan-tahun lamanya. Namun, kesejahteraan mereka tak jua diperhatikan.

Dilansir dari Hidayatullah.com, disebutkan bahwa, “Meski sudah 25 tahun Indonesia memperingati Hari Guru Nasional, kesejahteraan guru masih menjadi isu nasional yang tidak kunjung terselesaikan, kata Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon.”

Sungguh ironi memang dalam sistem kapitalis saat ini, seorang guru yang mempunyai jasa yang tak ternilai dalam mencerdaskan anak bangsa, namun tak dihargai jasanya. Gaji honorer masih dibawah UMR, berkisar Rp 300.000-500. 000/bulan, terlebih kadang harus dirapel per tiga bulanan, tak cukup untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya setiap bulan. Beban tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan pokok yang melambung tinggi harus dipikul. Belum lagi biaya kesehatan yang sangat mahal, tarif listrik, biaya sekolah yang tidak murah, dll. Jika tak cukup atau gaji telat, berutang menjadi pilihan terakhir.

Baca juga  Tenaga Kesehatan dalam Elegi

Atas dasar itu banyak guru honorer yang menuntut mendapatkan gaji yang layak. Apalagi selama ini kesenjangan besaran gaji mereka dengan guru PNS sangat Jauh, sementara beban kerja disekolah baik ASN dan honorer tidak ada bedanya. Parahnya, ada guru honorer selama 11 bulan belum digaji. Membuat mereka terpaksa mengadu ke DPRD. Honor tak dibayarkan sementara pemenuhan kebutuhan pokok tak bisa ditunda.

Hari guru yang jatuh pada tanggal 25 November harusnya tidak sekedar memperingati jasa guru yang telah mencesdaskan anak bangsa, tetapi harusnya juga menjadi moment untuk mengevaluasi bagaimana kesejahteraan guru, pahlawan tanpa tanda jas tersebut khususnya yg berstatus honorer. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rata-rata guru honorer memiliki usia diatas 35 tahun, dengan pengabdian puluhan tahun. Maka, wajar mereka menuntut untuk diangkat menjadi ASN.

Demikianlah, dalam sistem kapitalis upah guru honorer dan guru ASN, bak langit dan bumi. Padahal jika kita mau melihat, guru honorer dan ASN memiliki kewajiban yang sama, yaitu sama-sama mengabdi untuk  mendidik dan mencerdaskan anak bangsa, menghasilkan generasi gemilang. Namun, sangat disayangkan nasib mereka diabaikan. Sangat banyak didapati dalam realita sistem saat ini, nasib guru berada dalam penderitaan.

Baca juga  Segenggam Cinta dari Srikandi Sendana, Mengenal Lebih Dekat Nuraini

Maka, menjadi keharusan bagi pemerintah untuk memperhatikan nasib guru honorer, tidak hanya memandang sebelah mata. Namun, memberikan hak-hak mereka dengan sama. Baik PNS maupun honorer. Terlebih dalam hal upah mereka. Jangan ada perbedaan.

Berbeda dengan Islam, sebagai pilar peradaban mulia Islam sangat memperhatikan hal ini. Terlebih menempatkan guru sebagai arsiteknya. Pencetak generasi unggul untuk kemajuan peradaban. Jaminan kesejahteraan pun diberikan pada guru.

Tanpa melihat status, apakah PNS atau honorer, guru mendapatkan posisi dan perlakuan yang sama dalam Islam. Sama-sama dimuliakan. Mengingat, guru adalah orang yang memilki ilmu. Dengan ilmunya, dia mengajarkannya kepada manusia. Serta, memilki peran strategis sebagai salah satu pilar pencetak generasi cemerlang. Bahkan, ilmunya pun tak akan habis dimakan waktu. Akan terus mengalir walau jasad tak ada lagi.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW “Sesunguhnya Allah, para Malaikat dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bershalawat kepada muallim (orang yang berilmu dan mengajarkannya) yang mengajarkan kebaikan kepada manusia. (HR. Tirmidzi).

Baca juga  Dimana Imam Umat Islam?

Dalam hal upah pun, Islam sangat memperhatikan hal ini. Diberikan sama rata tanpa memandang status dengan jumlah yang cukup tinggi. Hingga tak lagi kekurangan, segala kebutuhan hidup para guru dan keluarganya dapat terpenuhi.  Sebagaimana tercatat dalam sejarah kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab yang diriwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad Damasyqi, dar al-Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada 3 orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak.  Kemudian khalifah Umar memberikan gaji 15 dinar yang setara dengan 4.25 gram emas. Jika sekarang harga emas Rp 500.000,00 maka gaji para guru kala itu sekitar Rp 31.875.000,00. Sungguh, suatu nilai yang sangat fantastik untuk sebuah pengabdian seorang guru.

Tanpa ada perbedaan antara guru honorer dan guru PNS, gaji yang diterima sepadan. Pun, disertai dengan fasilitas mengajar yang lengkap sebagai penunjang profesionalitasnya dalam menjalankan tugas mulia tersebut. Para guru pun semakin fokus, tak ada beban pikiran yang lain.  Maka, tak ada jalan lain kecuali menjadikan Islam sebagai jalan hidup untuk mewujudkan kesejahteraan. Memberikan kerahmatan bagi seluruh alam, bukan saja dalam bidang pendidikan tapi dalam seluruh bidang kehidupan. Wallahu’alam bi ash-shawab.