Keputusan Atas Kasus GKI Yasmin dan Standar Ganda Toleransi


Oleh: Salma

GKI Yasmin Mendapat IMB
Wali  Kota Bogor Bima Arya menyerahkan dokumen Izin Mendirikan Bangunan (IMB) untuk pembangunan rumah ibadah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan R. Abdullah bin Nuh, Yasmin, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/06). Lahan hibah ini diketahui berukuran 1.668 meter persegi, terletak di dekat RS Muhammadiyah Bogor.

Serah terima hibah lahan baru ini dihadiri oleh Bima Arya, pendeta GKI Yasmin Tri Santosos, Ketua FKUB Kota Bogor Hasbullah, dan Ketua MUI Kota Bogor Mustofa Abdullah.

Keputusan ini dianggap sebagai jalan keluar atas kasus toleransi beragama yang sudah berjalan selama 15 tahun.

Penyelesaian Sengketa dalam Sistem Sekuler
“15 tahun kita sama-sama mencurahkan energi dan konsentrasi atas usaha untuk menyelesaikan konflik yang terus menjadi duri dari toleransi kita, keberagaman kita dan persaudaraan kita semua,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya saat jumpa pers di GKI, Jalan Pengadilan, Pabaton, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (13/06).
Energi besar dan waktu panjang dibutuhkan untuk menyelesaikan sengketa hanya terjadi dalam sistem sekuler, terbukti dibutuhkan waktu 15 tahun hanya untuk menyelesaikan kasus sengketa toleransi ini. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika keputusan ditentukan berdasarkan syari’at Islam.

Baca juga  Ramadhan, Bulan Taubat dan Taat

Diriwayatkan bahwa pada pemerintahan Abu Bakar, urusan diserahkan kepada Umar bin Khattab selama dua tahun lamanya. Namun selama itu tidak pernah terjadi adanya sengketa yang perlu dihadapkan ke muka pengadilan. Hal ini terjadi karena Abu Bakar mengambil langkah Istinbath Hukum.

Berikut langkah-langkah Abu Bakar dalam Istinbath Hukum:

  1. Mencari ketentuan hukum dalam Al-Qur’an. Apabila ada, ia putuskan berdasarkan ketetapan yang ada dalam Al-Qur’an.
  2. Apabila tidak menemukannya dalam Al-Qur’an, ia mencari ketentuan hukum dalam Sunnah. Apabila ada, ia putuskan berdasarkan ketetapan yang ada dalam Sunnah.
  3. Apabila tidak menemukannya dalam Sunnah, ia bertanya kepada sahabat lain apakah Rasulullah SAW telah memutuskan persoalan yabg sama pada zamannya. Jika ada yang tahu, ia menyelesaikan persoalan tersebut berdasarkan keterangan dari yang menjawab setelah memenuhi beberapa syarat.
  4. Jika tidak ada sahabat yang memberikan keterangan, ia mengumpulkan para pembesar sahabat dan bermusyawarah untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Jika ada kesepakatan di antara mereka, ia menjadikan kesepakatan itu sebagai keputusan.
Baca juga  Gerak Cepat Salah Kaprah

Maka tak heran jika pada zaman khilafah sangat jarang ditemui kasus sengketa. Selain dari aturannya bersumber dari Islam, pribadi-pribadi kaum Muslim pada saat itu juga sangat saleh dan toleran terhadap sesama.

Umat Islam Dirugikan

Ketua Forum Komunikasi Muslim Indonesia (Forkami), Achmad Iman, adalah salah satu pihak yang menolak pembangunan GKI Yasmin di lokasi awal. Dia mengatakan relokasi adalah solusi terbaik bagi kedua pihak.

Meski begitu, umat Islam sebagai mayoritas di negeri masih menjadi pihak yang dirugikan karena dianggap pemicu masalah dan tidak didudukkan masalah sebenarnya berupa manipulasi oleh pihak non muslim demi mencapai tujuan.

Iman menegaskan, penolakan pembangunan gereja di lahan yang lama bukan karena atas dasar anti-gereja.
“Tapi kami anti penipuan dan pemalsuan tanda tangan, itu yang kami lawan,” kata Iman kepada wartawan Radeva Pragia Bempah yang melaporkan kepada BBC News Indonesia, Senin (14/06).

Iman juga menegaskan bahwa Bogor adalah kota yang toleran dan beragama, setiap tempat ibadah boleh berdiri namun harus melalui proses perizinan yang benar.

Baca juga  Kesejahteraan Guru Honorer yang Tak Kunjung Terwujud

“Sebenarnya masalah GKI Yasmin dulu itu adalah masalah pelanggaran hukum, tapi mereka sendiri yg membesar-besarkan seolah mereka terintimidasi,” tutupnya.

Dari kasus ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kalau yang intoleran datang dari mayoritas Muslim, dengan cepat publik merespon dan mengasumsikan bahwa seolah-olah kaum muslim kurang toleran. Sebaliknya, bila sikap intoleran datang dari kaum minoritas respon justru melemah dan muncul asumsi bahwa seolah-olah itu adalah kesalahan umat muslim.

Sistem Sekuler Gagal Wujudkan Toleransi
Demi membangun rumah ibadah GKI, pemalsuan tanda tangan warga muslim Curug Mekar digunakan sebagai syarat pembuatan IMB GKI Yasmin ke Polresta Bogor pada tahun 2010. Demi memberikan kenyamanan beribadah kepada umat Kristen, kepercayaan kaum muslim dicampakkan begitu saja.

Inilah watak sistem sekuler yang gagal mewujudkan toleransi dan mengorbankan kepentingan umat Islam. Maka sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam yang mampu melahirkan generasi yang toleran, serta hukum yang toleran dan rahmatan lil ‘alamin.