Terbaik terbaik

Keluarga Muslim: Cinta Rasul Cinta Syariah


Oleh: Ulfiah

Iman dan Islam adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita ummat muslim. Sehingga sampai hari ini kita masih merasakan manisnya iman, maka patutlah kiranya untuk selalu bersyukur dengan semua itu. Salah satu bentuk kesyukuran itu adalah mempertahankannya dan memupuknya hingga mencapai keimanan yang sempurna. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:

“Ada tiga hal yang jika ketiganya ada pada siapa saja, niscaya dia akan merasakan kelezatan iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dia mencintai seorang hanya karena Allah, dan dia benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci dimasukkan dalam neraka. (HR Bukhari Muslim)

Dengan demikian untuk mempertahankan iman dan Islam yg melekat dalam diri seorang muslim, hendaklah ia menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lain. Selain agar merasakan kelezatan iman, sebagaimana dijelaskan di atas, mencintai Allah dan Rasul-Nya juga merupakan kewajiban kita sebagai seorang muslim.

Umat islam diwajibkan mencintai Rasulullah SAW, bahkan cinta kepada beliau harus melebihi cinta harta dan keluarga, siapa saja yang tidak mencintai Rasulullah SAW, maka ancaman dari Allah akan datang padanya. Sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah Muhammad, jika bapak- bapak, anak-anak, suadara-saudara, istri -istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampa Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik.” (TQS. At-Taubah (9): 24)

Baca juga  Penampakan Wajah Asli BUMN

Olehnya itu, Rasulullah SAW harus menjadi idola utama semua anggota keluarga kita, karena beliau adalah sosok sempurna dan utama diantara para rasul. Lantas bagaimana menanamkan rasa cinta itu kepada keluarga?

Hal yang paling pertama dilakukan adalah hendaknya sedari dini orangtua menanamkan iman kepada Allah SWT, mewajibkan mereka untuk menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemudian, mendidik dan menegaskan kepada mereka siapa Rasulullah SAW dalam setiap jiwa anggota keluarga, mengenalkan pada anak sifat-sifat yang baik yang ada pada beliau dan menjadikannya sebagai teladan. Hingga mencintainya melebihi apapun. Sebab, itu sebagai tanda keimanan seseorang.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah beriman seseorang diantara kamu sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari sini jelaslah, bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya itu wajib, bahkan dikatakan kita tidak beriman jika Allah dan Rasul-Nya belum kita cintai dari yg lain. Dan Allah mengancam keras kepada siapa saja yang lebih mencintai yang lain dibandingkan Allah dan Rasul-Nya dengan ancaman yang keras. Adapun wujud cinta hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah taat terhadap syariat-Nya di atas ketaatan selain darinya.

Belajar dari sejarah, bahwa gambaran cinta sejati telah ditorehkan sangat jelas oleh Rasulullah SAW beserta para sahabatnya yang telah terukir indah dalam catatan sejarah. Cinta yang bukan hanya membuat iri penduduk bumi, namun juga penduduk langit. Begitulah cinta sejati yang terurai dalam amal sholih yang nyata.

Baca juga  Kesejahteraan Guru Honorer yang Tak Kunjung Terwujud

Cinta sejati dari manusia agung nan mulia itu, juga terjelma menjelang wafatnya, Rasulullah SAW terlihat gelisah untuk mengetahui kepastian jaminan terbaik ummatnya. Sehingga Allah SWT memberikan kabar gembira bahwa Allah sudah menjamin ummat Rasulullah untuk masuk surga sebelum umat-umat yang lain.

Tidak sampai disitu saja, cinta sejati beliau juga terjelma saat sedang sakaratul maut. Karena merasa begitu sakit, beliau pun meminta kepada Allah untuk melimpahkan semua rasa sakit itu kepadanya dan memohon kepada Allah untuk dapat meringankan sakit tersebut kepada umatnya. Bahkan kalimat terakhir yang beliau ucapkan itu adalah ummati.. ummati.. ummati..

Inilah gambaran cinta sejati beliau kepada kita kaum Muslim. Begitu besarnya cinta beliau kepada umatnya, namun apa balasan kita sebagai umatnya? Justru meninggalkan syariat yg beliau bawa, bahkan ada yang sampai merendahkan beliau. Mengaku cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tetapi berpaling dari syariat-Nya. Atau mengambil sebagian perintah-Nya sesuai yang disukainya dan meninggalkan sebagiannya, merendahkan Rasul-Nya, diam ketika Rasul-Nya dihina, mengkriminalisasi orang yang menyeru syariat, maka cintanya itu adalah bohong.

Bahkan dikatakan, siapa saja yang mengklaim dirinya mencintai Rasulullah SAW tentu tidak akan merasa nyaman dan tenteram tatkala sunnah beliau yakni thariqah petunjuk yang beliau bawa ditinggalkan dan dicampakkan. Kecintaan kepada Rasulullah SAW itu, akan melahirkan ketaatan kepada syariat-Nya. Ketaatan kepada syariat yang akan menghasilkan kerinduan kepada penerapannya, yang akan melahirkan perjuangan untuk mewujudkan penerapan syariat secara kaffah.

Baca juga  Mencetak Generasi Unggul, Perlu Visi Pendidikan Islam

Bukti bahwa kebenaran dan kesempurnaan iman setiap insan, terkhusus kaum muslimin, yaitu dengan meneladani dan mengikuti baginda Nabi SAW. Dengan menerapkan syariat yang beliau bawa secara keseluruhan. Bukan hanya zakat, puasa, ibadah haji, atau ibadah mahdoh lainnya, tetapi juga perkara hudud seperti sanksi untuk pelaku zina, pencuri dll. Menerapkannya secara nyata dalam kehidupan untuk mengatur segala urusan masyarakat.

Jadi, kecintaan kepada beliau akan melahirkan ketaatan kepada syariat-Nya, bukan cinta jika malah membuat kita jauh dari-Nya. Sebab, pada dasarnya cinta sejati itu senantiasa membuat kita ingin mendekat terus kepada yang dicintai. Dan inilah yang menjadi alasan utama jika mengaku cinta kepada beliau, melahirkan ketaatan pada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jika suatu bangsa tidak menjaga Allah, menelantarkan syariat-Nya, bahkan memusuhi orang-orang yang memperjuangkan penerapan hudud dan syariat-Nya maka Allah tidak akan menjaga umat atau bangsa itu. Akibatnya, kerusakan tersebar luas, ketentraman dan kemakmuran tak kunjung dirasakan, kezaliman merajalela dan sebagainya. Secara otomatis akan jauh dari keberkahan Allah, bahkan mengundang murkanya Allah.

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau mendapati Allah dihadapanmu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Dengan demikian, keluarga muslim adalah keluarga yang cinta Rasul dan syariah-Nya. Dengan kecintaannya ini, akan membawanya pada keluarga yg taat dan patuh pada syariah-Nya. Senantiasa menjadikan Islam sebagai landasan hidupnya dan berusaha memperjuangkan syariat-Nya agar diterapkan dalam kehidupan dengan penerapan Islam secara kaffah.

Wallahu a’lam