Kehebatan Khilafah Menjaga Ekologi, Banjir Tak Akan Terjadi


Oleh: Sri Astuti, Am.Keb (Aktivis Muslimah Peduli Negeri)

“Tik..tik..tik, bunyi hujan di atas genting”, nyanyian masa kecil yang sangat terkenal. Menggambarkan suasana bahagia saat hujan turun, melihat tanah dan tanaman terasa sejuk setelah tersiram air dari langit. Akan tetapi sayangnya, saat ini hujan justru menjadi momok yang mengkhawatirkan.

Kerusakan lingkungan karena buah perbuatan manusia, keserakahan menjadi sebab lingkungan semakin hari semakin rusak. Sungai-sungai dikotori dan hutan-hutan ditebangi, yang ada semakin berkurangnya lahan serapan air.

Dilansir dari, katadata.co.id, 20/10/2020. Pengesahan UU Cipta Kerja telah mengubah sanksi pidana menjadi sanksi administrasi, bagi perusahaan yang terbukti melakukan kerusakan lingkungan.

Dengan begitu kerusakan lingkungan akibat eksploitasi SDA dan limbah produksi semakin tak terkendali. Ini jelas akan mengancam kelangsungan hidup manusia, jika dibiarkan sumber air bersih sebagai sumber kehidupan akan sulit didapatkan dimasa mendatang.

Hal tersebut mengundang perhatian Menteri Koordinasi Bidang Kemaritiman dan Invetasi, Luhut Binsar Panjaitan. Menurutnya, kekurangan air di dunia akan terjadi dan kita harus mempersiapkan diri dari sekarang. Jangan tebang hutan karena merupakan salah satu sumber persediaan air. (tirto.id, 19/2/2021)

Baca juga  Buanglah Korupsi Pada Tempatnya!

Butuh kerjasama yang baik antara masyarakat dan negara untuk mengatasi krisis ekologi. Masyarakat sebagai kontrol sosial atas setiap kebijakan yang ditetapkan oleh negara, begitu pun negara harus memperhatikan dampak ekologi pada setiap kebijakan yang ditetapkan.

Butuh keseriusan dan ketegasan negara dalam mengelola lingkungan, karena manusia tak akan bisa hidup jika kondisi lingkungan alam semakin rusak. Tak boleh ada kompromi mengatasnamakan kepentingan individu ataupun kelompok.

Tetapi dalam sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan tampaknya akan sulit untuk menghindari krisis ekologi. Sebab asas kehidupan dalam sistem kapitalisme adalah manfaat, bukan pada maslahat.

Ketamakan sistem kapitalisme menggunakan berbagai perangkat negara untuk mencapai tujuannya mengambil sebanyak-banyaknya keuntungan. Misalnya melalui perundang-undangan yang telah ditetapkan, menjadi alat melegalkan berbagai upaya pihak kapitalis.

Dampak terbesar terjadi dan dirasakan oleh masyarakat, seperti banjir, longsor, pencemaran air dan udara. Tata kelola yang buruk pada sistem kapitalisme dapat menganggu keharmonisan antar manusia dan lingkungan.

Peran negara pun dibutuhkan untuk senantiasa memberikan dukungan bagi orang-orang yang memiliki keilmuan dibidangnya. Misalnya, terhadap para ahli pembangunan didukung untuk mencari solusi agar masalah banjir bisa teratasi dan berbagai keilmuan lainnya.

Baca juga  Pemotongan Tunjangan Menambah Derita Para Guru

Namun, belum ada upaya tersebut yang dilakukan oleh negara sebagai pihak memiliki wewenang. Dengan begitu terbukti sistem kapitalisme gagal menjamin hak-hak manusia untuk hidup, serta hak menjaga keseimbangan lingkungan.

Jika sudah begini, tak ada lagi harapan masyarakat pada sistem kapitalisme yang diterapkan oleh negara saat ini. Umat harus mencari dan bangkit untuk memilih sistem terbaik.

Dalam Islam, air merupakan berkahan dari Allah Swt. Karena sebagian besar ibadah dalam Islam menggunakan air, berwudlu dan mandi sebagai salah satu upaya menyempurnakan bersihnya dari kotoran.

Nabi Saw. menganjurkan Muslim untuk berdoa disaat hujan:

“Ya Allah, turunkan lah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkan lah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan”. (HR. Bukhari)

Kegemilangan Khilafah pada abad ke 7-11 Masehi, setidaknya menorehkan prestasi luar biasa dalam sebuah peradaban. Khilafah sebagai sebuah institusi resmi, mampu mengatasi total masalah banjir.

Baca juga  Islam dan Mahasiswa dalam Membawa Perubahan Bangsa

Mengelola sumber air dengan baik, demi kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan. Sehingga persediaan air bisa terpenuhi, karena itu lah masyarakat dan negara bekerjasama secara total.

Kebijakan khalifah yang sangat memperhatikan kemaslahatan alam semesta, manusia dan kehidupan. Dengan upaya mendukung para ilmuwan untuk terus melakukan penelitian, hingga mendapatkan solusi yang tepat.

Solusi yang tak melanggar syariat-Nya, Khilafah hanya berfokus pada apa yang Allah ridloi bukan pada manfaat sebesar-besarnya. Setidaknya beberapa kincir air yang berhasil bangun dibeberapa negara menjadi bukti warisan peradaban Islam luar biasa.

Pada abad ke-12 bangsa Eropa baru mengenal kincir air, yang kemudian hingga saat ini dikenal Belanda sebagai pelopor kincir air. Hal tersebut menenggelamkan fakta sesungguhnya bahwa ilmuwan Muslim yang berasal dari peradaban Islam sebagai penemu kincir air.

Peradaban Islam itu kini telah hilang, maka sebagai suatu kewajiban seorang Muslim harus merebut kembali kegemilangan Islam. Menerapkan seluruh syariat-Nya dalam tatanan kehidupan, di bawah naungan khilafah Islamiyyah.


OPINI