Jejak Khilafah di Nusantara



Oleh: Nurlinda (Pemerhati Sosial)

Khilafah kembali menjadi perbincangan yang sangat popular saat ini. Apa lagi setelah sukses dalam pemutaran film perdananya dengan judul “ Jejak Khilafah di Nusantara”. Telah sukses membuat sebagian kalangan kebakaran jenggot. Telah ada upaya untuk menghalangi pemutaran film tersebut, namun dengan kehendak Allah itu semua telah gagal.
Yang harus dipahami disini adalah makna kata khilafah. Dimana khilafah adalah sistem kepemimpinan islam setelah kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Khilafah bertugas untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Khilafah juga wajib menyebarkan dakwah Islam keseluruh dunia. Sebagaimana firman Allah dalam surah saba’ ayat 28 yang artinya ”Kami tidak mengutus engkau melainkan kepada seluruh umat manusia”.

Tentu saja Nusantara pun menjadi target dakwah Negara Khilafah. Telah banyak catatan dalam sejarah yang menuliskan jasa khilafah dalam mendakwahkan dan menjaga islam di nusantara.

Peran Khilafah di Nusantara
Salah seorang khalifah yang berasal dari Bani Umayah dia merupakan sosok yang terkenal, dia adalah Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari tahun 717-720 M. beliau dengan serius mendakwahkan islam ke seluruh dunia termasuk di Nusantara.

Pengganti Khalifah Sulaiman al-Qanuni yaitu Salim II mengabulkan permohonan Sultan al-Qahhar dan mengirimkan bala bantuan militer ke Aceh untuk memerangi kaum kafir portugis. Dalam surat balasannya kepada Sultan Aceh itu, Khalifah Salim II menulis bahwa melindungi Islam dan negeri-negeri Islam adalah salah satu tugas penting yang diemban oleh Khilafah Utsmaniyah. (BOA, A.DVNS.MHM, 7/244).

Baca juga  Keadilan dalam Demokrasi hanya Ilusi

Dengan adanya bantuan yang didapat dari Khilafah Utsmaniyah maka Sultan al-Qahhar dari Aceh dapat menyerang Portugis di Malaka pada 20 Januari 1568 dengan kekuatan 15.000 tentara Aceh, 400 Jannisaries Utsmaniyah dan 200 meriam perunggu (Amirul Hadi, 2004: 23).
Dengan kehadiran pasukan Khilafah Utsmaniyah di Nusantara telah benar-benar mampu menggetarkan kaum kafir Portugis, dan sebaliknya membuat bahagia kaum muslim dan menguatkan Islam. Aliansi antara Sultan al-Qahhar dari Aceh dan Khilafah Utsmaniyah inilah yang kemudian dipaparkan oleh Syaikh Nuruddin ar-Raniri dalam kitab Bustan as-Salathin yang ia tulis: “Kemudian dari itu maka Kerajaan Sultan Alauddin Riayat Syah bin Sultan ‘Ali Mughayat Syah, pada Hari Itsnain, waktu Dhuha, dua puluh hari bulan Dzul-Qa’dah. dialah yang mengadatkan segala istiadat Kerajaan Aceh Darussalam, dan menyuruh utusan kepada Sultan Rum, ke negeri Istanbul (Khilafah Utsmaniyah), kerana telah memperkuat agama Islam. Maka dari itu dikirim oleh Sultan Rum utusan yang pandai dalam menuang bedil. Maka pada zaman itulah dituang orang meriam yang besar-besar…” (Teuku Iskandar [ed.], 1996: 31-32)

Selain Sultan Aceh para sultan lain di Nusantara selama abad ke-16 juga telah menyampaikan kekagumannya yang mendalam kepada Khilafah Utsmaniyah. Sultan Babullah bin Khairun di Ternate bekerjasama dengan 20 orang ahli senjata dan tentara Khilafah Utsmaniyah ketika memerangi Portugis di Maluku sepanjang tahun 1570-1575 (Leonard Andaya, 1993: 134, 137).

Sehingga berkat semangat jihad dan kerjasama yang luar biasa antara kaum Muslim di Maluku dan pasukan Khilafah Utsmaniyah, penjajah Portugis dapat hengkang dari Bumi Maluku setelah masa Sultan Babullah untuk selama-lamanya.
Sultan Demak yang keempat yaitu Sunan Prawoto, juga menjadikan penguasa Utsmaniyah sebagai panutan dalam cita-citanya untuk mengislamkan seluruh Tanah Jawa (de Graaf & Pigeaud, 2019: 126).

Baca juga  Manisnya Lobster

Sepanjang abad ke-17, banyak penguasa Islam di Nusantara yang mengirimkan utusan ke Makkah atau Istanbul untuk menyatakan ketundukannya kepada Khilafah Utsmaniyah. Mereka kemudian mendapat legitimasi sebagai ‘wakil Khalifah’ di masing-masing negerinya. Para sultan di Aceh, Banten, Mataram sampai Makassar melakukan itu semua. Sultan Aceh yang berkuasa pada abad ke-19, Sultan Ibrahim Manshur Syah, bahkan terang-terangan menyatakan negerinya sebagai bagian dari Khilafah Utsmaniyah dalam suratnya kepada Sultan Abdulmecid I pada tahun 1850: “Sesungguhnya kami penduduk negeri Aceh bahkan seluruh penduduk di Pulau Sumatera, semuanya tergolong sebagai rakyat Negara Adidaya Utsmaniyah dari generasi ke generasi.”

Dan pada masa Khalifah Abdulhamid II yang berkuasa dari tahun 1876-1908, otoritas Utsmaniyah banyak menempatkan konsul-konsulnya di Batavia. Keberadaan konsul-konsul Utsmaniyah ini sangat mengganggu Pemerintah Kolonial Belanda. Snouck Hurgronje mencibir, “Mereka itu adalah para perantara dalam hubungan-hubungan misalnya ada di antara orang-orang Arab, Melayu, Aceh di Hindia-Belanda dengan ‘Sang Panatagama di Turki’ (maksudnya Sultan Abdulhamid II, red.), dan mereka mengusahakan supaya surat-surat kabar yang dapat perlindungan dari Istana selalu menjelek-jelekkan Pemerintah Kolonial dan Ratu Belanda.” (Snouck Hurgronje, 1996: 58).

Baca juga  Benarkah Agama Mengakui Sistem Politik Manapun?

Salah seorang konsul Utsmaniyah yang bertugas di Batavia pada tahun 1897-1898 adalah Mehmed Kamil Bey. Selama bertugas, Mehmed Kamil Bey berusaha untuk membangkitkan perasaan anti Belanda di antara kaum Muslim. Bahkan Koran berbahasa Inggris yang terbit di Singapura pada 29 Desember 1898 merangkum kegiatan perlawanannya. Mehmed Kamil Bey juga “diketahui menggoyahkan kesetiaan dua raja pribumi tertinggi di Jawa Tengah dan mengirim surat kepada seorang raja di bawah kekuasaan Belanda di Borneo atau Sumatera untuk mencoba mempengaruhi raja agar mengurangi kesetiaannya (kepada Belanda).” (Nico J.G. Kaptein, 2003: 109-110)

Sungguh pemerintahan Islam (Khilafah) pernah berperan di negeri kita. Walaupun jarak Khilafah yang jauh di Bagdad, Kairo, atau Istanbul, tidak mampu menyurutkan kepedulian para Khalifah dan kaum Muslim untuk Nusantara. Betapa banyak jejak Khilafah yang masih berbekas di berbagai pulau di Asia Tenggara. Tentu jejak yang paling jelas dan nyata dari peran Khilafah di masa lalu adalah keislaman para rakyat di nusantara. Dengan pengiriman para da’i yang menyebarkan Islam dan pasukan militer yang dikirim oleh Khilafah ke Nusantara untuk mengusir penjajah Eropa, sehingga kita bisa merasakan nikmatnya Islam dan persaudaraan umat Islam yang tidak mengenal sekat kebangsaan. Berkat jasah Khilafah yang besar untuk kebaikan di negeri ini. sehingga Para orangtua kita pun memandang positif terhadap Khilafah sebagai kepemimpinan yang satu bagi selurh kaum muslim di seluruh dunia. (***)


OPINI