Jajanan Anak Sekolah di Majene Apakah Sudah Aman?


SULBAR99NEWS.COM-MAJENE, Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) Mamuju menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program nasional BPOM RI, yaitu gerakan keamanan pangan desa (GKPD), pangan jajanan anak sekolah (PJAS) dan pasar pangan aman berbasis komunitas (PPABK) yang dilaksanakan Selasa 30 November 2021 di Hotel Villa Bogor Majene.

Kegiatan tersebut bertujuan untuk menggugah komunitas desa, komunitas sekolah dan komunitas pasar agar dapat berdaya, berpartisipasi dan mandiri dalam pembinaan dan pengawasan keamanan pangan di komunitasnya masing-masing.

Kepala BPOM Mamuju Lintang Purba melaporkan hasil kegiatan yang telah berjalan sejak April – Desember. yaitu GKPD yang mengintervensi 7 Desa diantaranya Desa Pamboborang, Buttu Baruga Betteng, Bukit Samang, Tinambung, Sulai dan Onang.

Baca juga  Tidak Disiplin, 9 ASN Majene Menjalani Sidang Kode Etik

Selain itu BPOM Mamuju juga berhasil menjaring 126 kader keamanan pangan dan melakukan pembinaan bagi 350 komunitas melalui kegiatan Bimtek pangan. Ada juga lima industri rumahan berbasis pangan telah memiliki izin edarnya, dan bersiap untuk melakukan produksi massa.

Untuk program PJAS lanjut Lintang, ada 24 sekolah setingkat Madrasah, SMP dan SMA sederajat yang juga telah memiliki sertifikasi sekolah aman. Termasuk program PPABK dengan pilot project di Pasar Sentral Majene.

Sebelumnya ditemukan pangan yang tidak memenuhi syarat, namun pada sampling kedua dari 708 sampel pangan di pasar tersebut, 662 diantaranya atau 95 % telah dinyatakan memenuhi syarat. “Kami sangat berterima kasih, khususnya kepada para pimpinan OPD terkait, yang sudah bekerjasama dengan sangat baik. Saya harap kita bersama-sama bisa mewujudkan keamanan pangan yang baik,” ungkapnya.

Baca juga  Perbatasan Ditutup, Sejumlah Orang Manfaatkan Jalur Tikus di Puawang

Sekda Majene Ardiansyah yang turut hadir sangat mengapresiasi kegiatan tersebut karena telah mendukung penerapan pencapaian rencana pemerintah daerah untuk jangka menengah yaitu ketahanan pangan.

Dipilihnya Majene menjadi pilot project yang telah mengintervensi 7 Desa, 24 Sekolah dan 1 pasar telah memberikan dampak yang signifikan.

Namun yang menjadi pertanyaan besar kata mantan Sekda Mamasa ini, bagaimana kelanjutan di tahun tahun yang akan datang. Perlu untuk mendorong OPD terkait, berikut para fasilitator untuk tetap berkomitmen jangan sampai program ini berhenti ditengah jalan. “Untuk itulah OPD terkait, dan peran para fasilitator jangan sampai program ini berakhir berhenti di tengah jalan juga. Sekecil apapun peran kita, hal itu sangat kita butuhkan. Kalau kita hanya mengandalkan APBD maka itu sangat terbatas, apalagi tahun ini dana transfer pusat berkurang Rp 37 M sehingga dibutuhkan kerja yang ikhlas dan tulus,” jelasnya.

Baca juga  Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Majene Anggaran Rp15,8 Miliar Terlambat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, pimpinan OPD terkait, para Camat, Kepala Desa yang diintervensi dan kepala Pasar. (ih)