Terbaik terbaik

Islamophobia Virus Berbahaya


Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

Tak hentinya penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad Saw. terus terjadi. Penghinaan ini menunjukkan begitu bencinya mereka terhadap Islam. Kembali, karikatur Nabi Muhammad Saw. ditampilkan dalam kelas oleh seorang guru saat mengajar. Sontak hal ini memicu kemarahan dari kalangan kaum muslim. Tak terima hal tersebut.

Sebagaimana di kutip dari tempo.co, seorang guru Batley Grammar School, di West Yorkshire, Inggris, menampilkan karikatur Nabi Muhammad saat mengajar di kelasnya. Ia memakai kartun yang dipublikasikan majalah Charlie Hebdo. Sontak, hal ini memicu banyak kemarahan dan protes dari warga muslim di sana, warga berunjuk rasa di depan sekolah dan meminta guru tersebut dipecat. Protes ini direspon positif oleh sekolah dengan menangguhkan guru tersebut. Pihak sekolah dan guru tersebut meminta maaf atas insiden yang terjadi. (28/03/2021)

Bagi mereka, para pembenci Islam ini, menganggap karikatur ini adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin dalam sistem kapitalisme sekular. Tapi, sungguh ini bukanlah kebebasan berekspresi, melainkan sebuah bentuk penghinaan terhadap Islam. Terlebih penghinaan ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw. Islamophobia, itulah yang sejak dulu dihembuskan oleh barat dengan tujuan menanamkan ketakutan yang sangat kepada siapapun terhadap Islam.

Islamofobia adalah istilah kontroversial yang merujuk pada prasangka dan diskriminasi pada Islam dan Muslim. Istilah itu sudah ada sejak tahun 1980-an, tetapi menjadi lebih populer setelah peristiwa 11 September 2001. (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Islamofobia).

Baca juga  Ironi Kehidupan Bertetangga Tanpa Aturan Islam

Bermula di Eropa pada tahun 80-an, disebabkan adanya migrasi besar-besaran warga Timur Tengah sejak berakhirnya perang dunia ll. Dilanjutkan dengan serangan WTC 11/9, yang kemudian tragedi ini menjadi pemicu orang-orang Barat semakin tertarik terhadap Islam. Amerika sebagai pengemban ideologi kapitalisme sejati, tentu saja menganggap ini sebagai ancaman yang bisa menganggu keberadaannya sebagai negara adidaya. Maka dari itu, diluncurkanlah misi Islamofobia. Perang melawan terorisme.

Seiring berjalannya waktu, ternyata virus Islamophobia ini tak hanya menjangkiti orang-orang non muslim tapi juga telah merasuk ke dalam diri seorang muslim. Ini lebih berbahaya lagi, sebab mereka takut akan agamanya sendiri tanpa dasar yang kuat. Sehingga saling curiga terhadap sesama akan terjadi. Ini akan menjadi penghalang bangkitnya kesadaran umat atas keterpurukan dan kemunduran yang menimpanya.

Efek yang luar biasa dari virus Islamophobia ini adalah semakin menjadi-jadi dari tahun ke tahun. Semakin menakutkan dan mengkhawatirkan. Baik secara individu maupun kelompok hingga tataran negara. Yang disayangkan adalah ketika yang mengidap islamophobia ini adalah umat Islam itu sendiri. Mereka menjadi takut akan agamanya, hingga mereka menganggap cukup berislam biasa-biasa saja. Yaitu, sebatas memenuhi rukun Islam. Sementara lingkup Islam dalam aspek kehidupan diabaikan.

Baca juga  Sekolah Putus, Akankah Harapan Pupus?

Jika sudah demikian, ini menjadi senjata ampuh bagi para pembenci Islam untuk menyudutkan dan menyerang umat Islam. Kebencian pun merajai hingga berujung pada pengusiran dan pembunuhan yng ditujukan kepada umat Islam. Tak hanya di negeri minoritas, bahkan di negeri mayoritas pun niscaya hal ini akan terjadi. Tujuan dari Islamophobia ini jelas, tak lain untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin, agar kaum muslim semakin jauh dari kemuliaan hakiki. 

Jika dalam sistem kapitalis sekular saat ini, umat Islam sulit mendapatkan keamanan dan perlindungan, maka berbeda halnya dalam sistem Islam. Perlindungan dan keamanan akan agama, jiwa dan harta tak hanya akan diperoleh oleh umat Islam saja, namun non muslim pun akan merasakannya.

Sejarah telah mencatat, bahwa dalam perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW serta para Khulafaur rasyidin dan khalifah setelahnya pun terbukti tak pernah membeda-bedakan kaum muslim karena perbedaan tempat tinggal atau wilayah. Semua bersatu dalam satu ikatan yang kuat. Yaitu ikatan akidah Islam. Pun, terhadap kaum minoritas disetiap wilayah kekhilafahan. Tak memandang suku, etnis atau pun agama. Semua diperlakukan adil, tak ada diskriminasi.

Demikian pula dalam masa kekhilafahan Ustmaniyyah telah menyelamatkan 150.000 orang Yahudi saat konflik memanas di Liberia. Di saat orang-orang Spanyol membuat kebijakan membantai dan mengusir orang-orang muslim dan Yahudi dari wilayah mereka. Ini terjadi di tahun 1492.

Baca juga  Perjanjian Ekonomi RCEP, Indonesia Untung atau Buntung?

Ketika kabar ini sampai kepada Sultan Bayazid II, sultan langsung mengirimkan angkatan lautnya di bawah pimpinan Laksamana Kemail Reis. Padahal saat itu, posisi kekhilafahan dalam keadaan sulit. Yaitu adanya berbagai perlawanan dan pemberontakan, dari internal ataupun eksternal yang harus dihadapi.

Tak hanya menyelamatkan kaum muslim, pasukan Islam juga menyelamatkan orang Yahudi yang terusir. Jumlah mereka lebih dari 150.000 orang, yang kemudian dibawa menuju wilayah Turki Ustmani yang aman. Mereka pun hidup damai dalam keamanan dan perlindungan kekhilafahan. Juga bebas melakukan perdagangan, memiliki rumah bahkan tanah sendiri, layaknya warga negara lainnya yang telah lama hidup dalam naungan kekhilafahan.

Ini adalah salah satu bukti bagaimana Islam dalam penerapan aturan-aturanNya secara kaffah (totalitas) sangat melindungi warganya, tak hanya muslim tapi juga non muslim. Tanpa melihat wilayah, agama atau pun etnisnya. Dengan demikian, hanya dengan penerapan Islam secara kaffah, Islamophobia akan bisa diatasi. Tak akan ada lagi rasa takut terhadap Islam, baik bagi muslim itu sendiri mau pun non muslim.

Wallahu a’lam. (*)