Islam Sejati : Islam Inspiratif, Aspiratif, dan Solutif


Oleh: (Azizah, S.PdI)*

Melalui kanal media, Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas kembali menegaskan dan mengajak masyarakat di Tanah Air agar menjadikan agama sebagai sebuah inspirasi bukan aspirasi. Sebab menurutnya, bila agama dijadikan sumber aspirasi dan dilakukan oleh orang-orang yang tidak tepat, bisa berbahaya. (antaranews.com, 27/12). Sepakatkah anda dengan pernyataan beliau?. Saya pribadi belum sepenuhnya sepakat. Kalau urusan Islam yang inspiratif saya sudah yakin sejak lama. Seperti ketika membaca ayat Al Qur’an ini :

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS At Thalaq: 4)

Pasti saya dan kita semua terpesona dengan Inspirasi yang diperlihatkannya. Sebab fakta membuktikan bahwa di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang menghendaki kesulitan. Tidak ada!. Semua menginginkan kemudahan dalam hidup. Coba saja bayangkan, sejak pertama bayi lahir yang diharapkan ibunya adalah kemudahan dan kelancaran selama proses berlangsung. Ketika tahap tumbuh kembang anak; bermain, belajar, berjalan dan berlari, yang diinginkan ibunya juga kemudahan dan keselamatan. Hingga tiba saat menuntut ilmu; di sekolah, di bangku kuliah, ikut ujian kelulusan, sampai urusan mencari pekerjaan dan menikah, hal utama yang digadang-gadang hanyalah bagaimana agar semua menjadi mudah dan lancar. Lalu apa syaratnya agar kemudahan itu terwujud?. Taqwa kepada Allah SWT yang disebut dalam ayat ini adalah garansinya. Taqwa berarti melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, serta menjauhi laranganNya. Artinya di sini kita butuh tahu tentang Islam A-Z. Kita butuh mengkaji dan mempelajari lebih dalam tentang batasan-batasan aturan dalam Islam sehingga tak mudah melakukan pelanggaran.

Islam Unik dan Komprehensif

Karena Islam sangat inspiratif, maka Islam adalah agama yang mudah difahami dan gampang dipelajari. Islam pun tidak pernah mempersulit umatnya. Sebab di dalam Al Qur’an tidak terkandung satu ayat pun yang memerintahkan demikian. Justru sebaliknya keberadaan Rasul Saw diutus oleh Allah SWT untuk membawa risalah Islam, agar menjadi rahmat bagi semesta alam.Tujuan mulia dan agung ini tentu bukan tanpa alasan. Sebab Islam adalah agama yang unik dan komprehensif. Unik karena Islam beda dengan agama yang lain. Islam adalah agama Ilahiyah yang meliputi aqidah dan syariah. Aqidah memancarkan fikrah atau pemikiran-pemikiran Islam yang tegak di atas asas ‘Laailaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Aqidah ini tidak sekedar memerintahkan setiap individu untuk menyembah Allah SWT, namun Islam juga hanya membenarkan jika kehidupan manusia dijalankan mengikuti aturan Islam (syariat). Karena syariat Islam berisi aturan yang meliputi seluruh interaksi manusia baik yang menyangkut hubungan individu dengan penciptaNya dalam urusan ibadah; aturan yang menyangkut hubungan individu dengan dirinya sendiri seperti urusan makanan minuman pakaian dan akhlak serta aturan yang menyangkut hubungan individu dengan orang lain seputar masalah muamalah dalam bidang pendidikan, sosial, pemerintahan, dan sebagainya. Cakupan hukum-hukum Islam yang luas meliputi semua aspek kehidupan, dilengkapi tata cara penerapan aturan yang bersifat khas menyebabkan syariah Islam ini bersifat komprehensif. Belum lagi adanya metode khusus untuk menyebarluaskan ajarannya yang tidak main-main, serta cara istimewa dan tiada duanya untuk melindungi Islam agar mampu bertahan hidup dan terpelihara dari kemusnahan. Benar-benar sempurna dan tanpa tanding.

Baca juga  Blok Wabu Jadi Incaran para Kapitalis, Rakyat Kembali Gigit Jari

Adapun pelaksanaan aturan-aturan Islam bergantung pada dua perkara. Pertama ketaqwaan dan keimanan individu muslim, kedua penjagaan undang-undang beserta seluruh sangsinya oleh negara. Sebagai contoh, di dalam Islam terdapat konsep hukum atau perintah sholat sebagai kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap individu muslim. Jika tidak, maka orang yang meninggalkannya akan dikenai sangsi (ta’zir) oleh Khalifah sebagai pemimpin negara. Demikian pula dengan perintah untuk mencari nafkah dengan cara yang halal telah diatur dalam Islam. Namun jika hal ini dilanggar, dan yang dilaksanakan justru tindakan kriminal seperti pencurian atau korupsi, maka syariat menetapkan sangsinya melalui hukum potong tangan, dan penetapan ta’zir. Tentang cara untuk meluaskan ajaran Islam ada di bawah tanggung jawab negara melalui aktivitas dakwah dan jihad. Sedangkan perlindungan Islam jaminannya langsung dari Allah SWT sebagaimana firman Nya :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (TQS Al Hijr : 9)
Berkaitan dengan perkara ini, Rasul Saw juga bersabda :

“Agama ini akan diemban di setiap masa oleh orang-orang adil yang akan membantah interpretasi para penakwil pendusta, yang menyeleweng dan ekstrem, yang membabi-buta lagi bodoh, sebagaimana ubupan (alat peniup api) tukang besi yang bisa menghilangkan kotoran besi.”

Namun eksistensi Islam dan realisasinya hanya dapat diterima oleh mereka yang bersedia menggunakan timbangan akal dan fitrah untuk menemukan hakikat alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta menguraikan simpul besar (uqdatul kubro) dengan penguraian yang memuaskan manusia dengan sifatnya yang lemah, serba terbatas, kurang dan membutuhkan keberadaan Al Khalik yang Maha pengatur. Sebab jika tidak, Islam dianggap berbahaya dan membahayakan keragaman serta kemajemukan. Disinilah akhirnya Islam dianggap tidak aspiratif. Tentu sangat disayangkan. Padahal ayat-ayat Al Quran yang menggugah akal dan fitrah manusia telah jelas berbicara dan menjadi sebuah bukti nyata atas kebenaran kalamNya :

“Maka hendaklah manusia memperhatikan, dari apakah dia diciptakan?. Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang Sulbi dan tulang dada. ” ( TQS At Thariq : 5-7)
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan.” (TQS Al Ghasyiyah : 17-20)

Islam Bangkitkan Inspirasi, Menampung Aspirasi, dan Memberi Solusi

Sungguh tak bisa diingkari. Islam yang datang sesuai dengan tabiat dan realita manusia, benar-benar mampu merangsang pikiran kita untuk menghadirkan percikan-percikan cahaya inspirasi, mendorong semangat dan keyakinan kita untuk tetap menyuarakan Islam sebagai sebuah aspirasi, sehingga Islam yang diridho Ilahi ini menjadi solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi umat manusia dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka baik yang bersifat jasmani maupun naluri. Tentang Islam yang menginspirasi, menyedot aspirasi, dan memberi solusi telah nyata terbukti, hitam di atas putih. Utamanya di masa kegemilangan saat Islam dimanifestasikan dalam kehidupan dan pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Dalam masalah yang paling esensi dari kehidupan manusia, soal sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, bahkan keamanan.

Baca juga  Kampanye Liberal di Balik Serangan Terhadap Pembiasaan Hijab

Pada abad 9 / 10 Masehi, Abu Bakr Ahmad Ibn Ali Ibn Qays Al Wahsyiah (sekitar tahun 904 M) menulis kitab Al Falaha An Nabatiya. Kitab ini mengandung 8 juz yang kelak merevolusi pertanian di dunia, antara lain tentang teknik mencari sumber air, menggali nya, menaikkannya ke atas sehingga meningkatkan kualitasnya. Di barat teknik ibnu Al wahsyiyah ini disebut Nabatean Agriculture. Para insinyur muslim merintis berbagai teknologi terkait air, baik untuk menaikkannya ke sistem irigasi atau menggunakannya untuk menjalankan mesin giling. Dengan mesin ini setiap penggilingan di Baghdad abad 10 sudah mampu menghasilkan 10 ton gandum setiap hari.

Di Andalusia pada abad 12 Ibnu Al Awwam Al Ishbili menulis kitab Al filaha yang merupakan sintesa semua ilmu pertanian hingga zamannya, termasuk 585 culture mikrobiologi. 55 diantaranya tentang pohon buah. Buku ini sangat berpengaruh di Eropa hingga abad 19.

Masalah sanitasi yang erat kaitannya dengan kesehatan. Islam juga menginspirasi lewat konsep thoharah, yang menjadikan air sebagai pembersih utama dalam tradisi Islam. Air suci dan mensucikan. Karenanya pada abad ke -13 ilmuwan muslim Al jazari menulis sebuah buku Al jami baina Al Ilmi wa Al amal An Nafi di Shina’ati Al hill yang menjelaskan perangkat mekanis termasuk alat untuk berwudhu. Alat ini bersifat mobile dan biasa digunakan untuk melayani para tamu. Bahkan toilet -toilet pada masa kejayaan Islam di abad pertengahan adalah model toilet basah seperti yang kita kenal saat ini, dengan sabun sebagai bagian tak terpisahkan. Masyarakat di bawah kekuasaan khilafah Utsmaniyah biasa membuat sabun sendiri dengan mencampur minyak zaitun dengan alkali. Demikian juga dengan tradisi pembuatan parfum dari penyulingan tanaman bunga. Al-kindi menulis sebuah buku tentang parfum yang disebut Book of the chemistry of parfume and Destilation, berisi lebih dari 100 resep untuk minyak salep dan air aromatik.

Di masa keemasannya, dinasti Utsmaniyah menguasai hampir seluruh pantai Afrika di laut tengah, kedua tepi laut merah, Eropa tenggara, termasuk Balkan dan sebagian besar Bulgaria dan Rumania saat ini,Turki dan Irak saat ini. Di daerah-daerah yang dikuasai, tradisi Islam turut disebarkan termasuk pentingnya menjaga kebersihan. Sejarah mencatat saat mereka menguasai konstantinopel salah satu yang dibenahi adalah urusan buang hajat. Mereka membangun 1400 toilet umum ketika tak satupun WC ditemukan di seantero Eropa. Invasi umat muslim ke kawasan Eropa ternyata membawa dampak pada lahirnya peradaban hidup bersih dan sehat. Pada masa itulah untuk pertama kalinya orang Eropa mengenal aktivitas mandi dan menggosok gigi setelah makan dengan memperkenalkan siwak yang cukup wangi sekaligus dijadikan bahan pasta gigi.

Baca juga  Fidusia Penting Diketahui Bagi yang Ingin Ambil Kredit.

Pada masa kekhalifahan Islam negara menerapkan sistem pendidikan dan kesehatan gratis juga pembangunan infrastruktur, transportasi dan irigasi. Agar daerah-daerah miskin perlahan-lahan bangkit menjadi kaya. Jalan-jalan bahkan dilengkapi dengan tempat tempat singgah untuk para musafir, hingga musafir dari negeri-negeri kafir pun akan di jamu dengan cuma-cuma selama maksimum 3 hari bila singgah di sana. Seperti dilaporkan oleh pengelana Eropa paling legendaris, Marcopolo yang pada abad 13 M pergi dari Venezia, Italia ke China melewati jalur sutera, yang berarti sebagian besar perjalanannya melewati wilayah daulah Islam. Maka Islam memberikan jaminan keamanan bagi warga asing yang masuk ke negeri Islam agar mereka dapat mendengarkan ayat-ayat Allah dan melihat langsung bukti kehebatan Islam yang diamalkan. Hingga hari ini sisa-sisa jalan atau saluran air yang dibangun di masa khilafah itu masih dapat dilihat bahkan di tempat paling terpencil di Asia tengah, di Andalusia Spanyol atau di selatan sahara di Afrika.

Islam pun sangat aspiratif dalam menampung suara hati umat asal tak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Bukankah Al Qur’an telah mengabadikan pengaduan seorang Khaulah binti Tsa’labah kepada Rasulullah saw atas ucapan suaminya, yang mengatakan “engkau seperti punggung ibuku bagiku”, hingga pengaduanya itu naik ke langit lapis tujuh.

“Sungguh Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (TQS Al Mujadalah : 1)

Juga keberaniannya mengingatkan Umar bin Khattab yang saat itu menjabat sebagai Amirul mukminin dengan ucapannya, “Wahai ‘Umar, dulu aku menemuimu saat engkau masih bernama ‘Umair di pasar ‘Ukazh. Engkau menakut-nakuti anak-anak dengan tongkatmu. Hingga hari berlalu dan namamu berganti ‘Umar. Dan masa terus berlalu hingga engkau menjadi seorang Amirul Mukminin. Maka bertaqwalah kepada Allah terhadap rakyatmu. Dan ketahuilah, barangsiapa yang takut ancaman Allah, dia akan merasakan bahwa siksa Allah itu amat dekat. Dan barangsiapa yang takut terhadap kematian, maka kematian itu pasti tidak akan luput darinya.”

Bukankah dalam sistem pemerintahan Islam khilafah juga memiliki Majelis Ummat, tempat bagi rakyat mengutarakan pendapat dan keinginannya ?. Islam yang aspiratif ini tentu bertolak belakang dengan sistem sekular zaman sekarang yang mengidap Islam phobia, dan getol membungkam aspirasi Islam.

Maka tak perlu ragu lagi dengan Islam yang inspiratif, aspiratif, dan solutif karena demikianlah adanya. Kita hanya butuh kacamata iman saja untuk melihatnya.

)*Penyuluh Agama dan Penulis Buku Remaja Islam