Dibaca : 77 kali.

Ironi Kehidupan Bertetangga Tanpa Aturan Islam



Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam (Islamic Opinion Maker)

Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan rumah kita. Tanpa adanya tetangga, kehidupan suatu keluarga dalam rumah terasa sangat sunyi seperti di tengah hutan atau kuburan. Tanpa adanya tetangga, sulit untuk meminta bantuan ketika ada hajat mendesak. Maka beruntunglah kita yang memiliki banyak tetangga. Karena semakin banyak tetangga, semakin banyak pula tempat kita untuk berbuat baik dan meminta bantuan dikala genting. Idealnya begitulah impian hidup bertetangga.

Sayangnya zaman modern sekarang, tetangga justru menjadi satu masalah berat dalam pandangan social masyarakat modern. Ada istilah “rumput tetangga lebih hijau”, menjadi satu gambaran kehidupan bertetangga ala masyarakat modern era kapitalisme. Memang istilah itu tidak melulu ditujukan kepada tetangga secara zahir. Namun bukankah istilah itu lahir karena perseturuan tetangga? Misalnya seorang isteri yang kurang bersyukur dengan keadaannya, sering kali membandingkan kehidupannya dengan kelarga sebelah alias tetangga. Lalu akan muncul tuntutan kepada suami untuk memenuhinya.

Demikian sebaliknya, suami melihat isteri tetangga lebih bening. Lalu mencela isterinya. Padahal, isteri bening itu tergantung perlakukan suami. Gimana mau bening, kalau isteri tidak pernah dibantu di rumah? Tidak diberi uang bulanan yang cukup untuk skincare, atau sekedar me- time bagi isteri, dan shopping satu kilo buah atau sepasang sepatu baru? Isteri berputar 24 jam di rumah tanpa ada perhatian dan rasa peduli anggota kelurga lain menjadi gambaran kehidupan rumah tangga modern ala kapitalisme.

Itu salah satu contoh life style keluarga yang membandingkan kondisinya dengan tetangganya. Contoh lain adalah ketika bertetangga bukan lagi dianggap sebagai berkah, berbagai peristiwa tak lazim pun terjadi. Misalnya saja, persoalan saluran pipa toilet/WC yang menyebar ke tetangga dan menyebabkan tetangga lain merasa tidak nyaman dengan bau kotoran yang mengalir. Pelaku merasa tidak bersalah, lalu muncullah keberatan dengan nada suara tinggi oleh tetangga yang merasa korban. Tidak jarang, pertengkaran dan permusuhan terjadi antar tetangga yang mirisnya, hanya jarang sekian meter dari keduanya.

Baca juga  OLIGARKI DIBALIK PENANGANAN CORONA

Belum lagi urusan tanaman yang tumbuh menghampiri tanah tetangga. Sangat sering menjadi pemicu pertengkaran. Apalagi jika tetangga dianggap tidak sesuku, seagama, atau sederajat. Perang dunia bisa pecah seketika. Bahkan urusan asmara antar tetangga juga tidak jarang jadi awal permusuhan bertetangga. Lebih gila lagi, ketika ada tetangga yang sengaja membuang kotoran seperti membuang air seni dari lantai dua rumahnya agar jemuran tetanggganya dikenai najis yang ia keluarkan. Naudzubillah min zalik.

Apakah semua fenomena tersebut harus terjadi diantara sesama tetangga? Lalu, bagaimana mengatasi problematika bertetangga agar tercapai kehidupan masyarakat khususnya bertetangga dengan aman dan khidmat? Padahal, mayoritas kejadian itu antar sesame muslim lagi. Ironis bukan?

Kehidupan manusia tentu saja tidak bisa lepas dari adanya interaksi satu sama lain sebagai fitrah yang diciptakan Allah SWT. Selain itu, manusia adalah makhluk sosial yang harus saling membutuhkan satu sama lain. Tentunya, aturan interaksi diantara manusia haruslah berasal dari yang menciptakan manusia itu sendiri. Karena aturan yang mampu mengatasi problematika manusia dengan benar haruslah dari sumber dan pembuat aturan yang benar juga.

Sebagai masyarakat muslim yang mendominasi di negeri ini, sangat wajar jika aturan Islam seharusnya menjadi standar atau patokan dalam menyelesaikan segala persoalan kehidupan. Adakah yang berani mengatakan kalau Islam tidak mampu mengatasi masalah bertetangga seperti di atas? Selama ia adalah seoarng muslim yang beriman, tentu tidak menolak ajaran agamanya.

Baca juga  Impor Garam Meningkat, Swasembada Terancam Gagal

Islam bukan hanya agama ritual, namun juga sebagai way of life yang telah terbukti menjadikan manusia hidup bermartabat dan meraih kemuliaan. Interaksi yang dibangun antar manusia di bawah aturan Islam, sangat menunjukkan perbedaan yang khas dengan aturan dari sumber pikiran manusia yang lemah.

Bertetangga adalah salah satu poin bermasyarakat dalam pandangan ajaran Islam. Seorang muslim tidak boleh bertetangga sembarangan tanpa mengindahkan ajaran – ajaran Islam dalam memenuhi hak – hak tetangganya. Bahkan ajaran Islam sungguh menghadirkan kehidupan bertetangga yang harmonis dan humanis.

Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam kehidupan. Bahkan bukan hanya untuk kaum muslim tetapi juga untuk seluruh manusia seluruh alam. Rasululllah SAW telah menunjukkan cara berinteraksi dengan tetangga baik dengan sesama muslim maupun yang non muslim, seperti yang diajarkan dalam Islam. Banyak hadis – hadis yang menjelaskan tentang kehidupan bertetangga, diantaranya:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada terangganya.” (HR Bukhari-Muslim).

Masih urusan bertetangga, dalam hadis lain dengan redaksi yang berbeda, Rasulullah SAW juga bersabda, “ Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).” (HR Bukhari-Muslim).

Begitu besarnya pengaruh kehidupan masyarakat dalam berinteraksi dengan tetangga. Sudah seharusnya antar tetangga menjalin silaturahim yang erat dan bukan saling iri apalagi hasad. Bahkan urusan makanan pun, Islam mengajarkan tidak boleh mengabaikan tetangga. Apalagi jika sampai tetangga mencium aroma makanan dari rumah kita. Untuk hal ini saja, Rasulullah SAW bersabda,“Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas.” (HR Muslim).

Baca juga  Majene Kota Tua

Mungkin kelihatannya sepele dalam berinteraksi dengan tetangga. Tetapi nyatanya, banyak yang gagal memahami dan mengamalkannya. Padahal, jika merujuk pada aturan Islam, sangatlah lengkap dalam menjaga dan memelihara interaksi dengan tetangga.

Sehinggga sangat jelas, bahwa model bertetangga hari ini bukanlah model yang diajarkan Islam. Melainkan model bertetangga ala kapitalisme yang lebih mengedepankan egoisme dan individualisme bahkan memicu perpecahan. Begitulah ironisnya bertetangga tanpa adanya aturan Islam yang diterapkan secara total.
Tetangga adalah sebutan untuk orang – orang sekitar rumah kita. Para ulama memang berbeda dalam memberikan jumlah yang disebut dengan tetangga.

Namun yang mashur dipakai adalah hitungan 40 rumah ke depan, ke belakang, kanan, dan kiri. Bayangkan sebanyak itulah tetangga dalam Islam. Artinya, ajaran Islam dalam mengajak manusia untuk hidup rukun dan damai sangatlah luar biasa. Lalu, kenapa masih banyak diantara kita yang tidak bangga berislam dengan totalitas? Atau mungkin masih malu mengatakan kalau Islam adalah ajaran sempurna yang tiada duanya?
Bisa dibayangkan, ketika zaman keemasan Islam tingkat kepedulian masyarakat sangat jauh bedanya dengan zaman modern ala barat hari ini. Begitulah bukti indahnya kehidupan manusia tatkala aturan Islam itu ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan. Bukan hanya dipraktekkan di wilayah privat dan vertikal. Namun juga di wilayah publik dan horizontal. Wallahu a’lam bissawab.