Ironi Hari Ibu, Kesejahteraan Yang Terenggut


Penulis : Sri Wahyuni, S.Pd (Praktisi Pendidikan & freelance writer) 

Gegap Gempita” Begitulah kiranya ungkapan yang pas dalam menggambarkan betapa meriahnya peringatan hari Ibu. Agenda tahunan yang rutin digelar setiap 22 desember ini merupakan wujud penghargaan kepada sosok Ibu atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam menjalankan perannya dalam rumah tangga bahkan dalam terwujudnya sebuah peradaban yang besar. Pada moment ini, para Ibu banjir ucapan terimakasih dan sanjung puji dari anak-anak mereka, suami dan kerabat. Tak ketinggalan adalah ucapan hangat dari para pejabat untuk para Ibu di seluruh Nusantara. Kegembiraan tersebut mengisyaratkan pada kesimpulan yang sama yakni pengakuan akan hebatnya sosok Ibu dalam kehidupan.

Namun mengapa kemeriahan peringatannya tak semanis realita? Nasib Ibu tetap nelangsa. Kemiskinan, pelecehan, penindasan dan eksploitasi kerap diterima perempuan di berbagai tempat. Di masa pandemi ini bahkan kekerasan pada perempuan meningkat. Komnas Perempuan bersama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak mencatat terjadi peningkatan sebesar 75% sejak pandemi Covid-19. Dari 14.719 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 5.548 kasus diantaranya berupa kekerasan fisik, 2.123 kasus kekerasan psikis, 4.898 kasus kekerasan seksual, 1.528 kasus kekerasan ekonomi, dan 610 kasus kekerasan buruh imigran dan traffiking (CNNIndonsia, 10/07/2020). Melihat realita semacam ini tentu sangat miris, sosok yang mulia itu berubah menjadi obyek yang diperlakukan tak manusiawi.

Baca juga  Wacana Presiden 3 Periode, Setuju?

Mengapa kontradiksi? Hal ini tak lain disebabkan jeratan sistem Kapitalis-Demokrasi yang mempengaruhi cara pandang serta kebijakan yang diambil Pemerintah, dimana perempuan dijadikan sebagai mesin penggerak ekonomi dengan anggapan perempuan lebih teliti dan cakap mengelola keuangan sehingga berpotensi besar mengentaskan kemiskinan. Dengan pandangan demikianlah justru membuat perempuan akhirnya terperosok menjadi mesin ekonomi kapital yang rentan menjadi obyek eksploitasi. Hal ini dapat kita saksikan pada banyak sektor dunia kerja seperti buruh, Sales Promotion Girls (SPG), pramugari hingga pekerjaan yang terkesan high class seperti artis atau pun model. Perempuan benar-benar diperlakukan tak manusiawi, mulai dari upah yang murah, eksploitasi tubuh, hingga pelecehan seksual diterima perempuan. Sementara disaat yang sama, perempuan akhirnya kehilangan fungsi fitrahnya sebagai Ibu generasi. Hal ini disebabkan pergeseran peran dari yang seharusnya dinafkahi menjadi tulang punggung. Bukan pula para laki-laki yang enggan mencari nafkah melainkan kebutuhan hidup yang kian mahal setiap tahunnya. Fakta inilah yang mendorong perempuan bekerja ditambah lagi kebijakan ekonomi Negara yang membuka kran selebar-lebarnya bagi perempuan untuk bekerja.

Baca juga  Ironi Kehidupan Bertetangga Tanpa Aturan Islam

Realita semacam ini sungguh nyata kita saksikan. Perempuan menjadi korban kebiadaban sistem jahil Kapitalis-Demokrasi dengan melibatkannya dalam menggerakkan ekonomi. Inilah bukti buruknya sistem ini, perempuan yang harusnya ditempatkan pada posisi mulia yang terjadi justru sebaliknya. Oleh karenanya, jika hal ini terus dibiarkan tentu saja hanya masalah waktu, kehancuran suatu institusi berikut generasi di dalamnya terjadi.

Cara pandang kapitalisme ini sangat berbeda dengan Islam. Agar kebutuhan primer para perempuan dapat terpenuhi, Islam telah menetapkan jalur-jalurnya. Mekanismenya yakni, pertama, mewajibkan laki-laki memberi nafkah kepada diri dan keluarganya. Seorang perempuan yang belum menikah terjamin nafkahnya oleh ayahnya. Setelah menikah, maka akan dijamin oleh suaminya atau dalam kondisi tertentu nafkah perempuan akan dijamin oleh saudara laki-lakinya atau anak laki-lakinya. Kedua, jika semua jalur sebagaimana disebutkan di atas tidak ada, maka kerabat terdekat yang memiliki hubungan darah serta kelebihan harta berkewajiban untuk menjamin nafkahnya. Ketiga, jika tak ada pihak-pihak yang dapat menanggung nafkahnya maka kewajiban memberi nafkah akan diambil alih Negara, melalui Baitul Mal.

Baca juga  Polemik Pembatalan Haji 1441 H

Dengan demikian para perempuan akan lebih terjaga kehormatan serta keamanannya. Bahkan dapat fokus untuk mengemban tugas utamanya tanpa dikhawatirkan persoalan ekonomi. Maka perayaan hari Ibu akan benar-benar bermakna jika solusi tersebut dapat dijalankan. Tentu saja, hal ini pernah dipraktekkan berabad-abad lamanya di masa kekhilafahan Islam, perempuan ditempatkan sesuai fitrahnya dan tata aturan Syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.


OPINI