Implementasi Pariwisata Kota Tua di Mc Kinnac Island, Role Model Pariwisata Kota Tua Majene


Penulis : Mursidin Amiruddin

Mahasiswa Pasca Sarjana Program MA Fulbright di University of New Orleans, USA

Setelah menempuh perjalanan dengan Ferry selama 30 menit di atas danau Huron yang luasnya sejauh mata memandang, lebih terlihat seperti lautan, akhirnya kami berlabuh di Mc Kinnac Island, sebuah pulau dengan konsep kota tua. Di pulau yang luasnya sekitar 9.8 km2 tidak terdapat adanya kendaraan bermotor, hanya ada dua mode transportasi, Kuda (dokar) dan sepeda.

Mulai dari pengangkutan barang dagangan, pengangkutan sampah, pembersihan kotoran kuda, semuanya memakai dokar/kereta kuda, sementara pengunjung pulau ‘disambut’ dengan toko toko penyewaan sepeda.

Dahulu tempat ini merupakan tempat bagi penduduk asli Amerika jauh sebelum orang orang Eropa menginjakkan kaki di Benua Amerika. Kemudian setelah pergolakan politik dan peperangan terjadi pasca kedatangan Bangsa Eropa, pulau ini berubah fungsi menjadi pulau pertahanan awal dari serangan pihak musuh.

Baca juga  Tradisi Nyalakan Palla-pallang Hampir Punah

Hingga saat ini sisa benteng pertahanan dan meriam serta gambaran sejarah pulau ini terdapat di sekeliling pulau. Pasca peperangan kemerdekaan, di tahun 1889 pemerintah mengeluarkan peraturan pelarangan kendaraan bermotor untuk masuk dan digunakan di daerah ini, Peraturan ini adalah bagian dari perencanaan pariwisata setempat yang kelak akan dijadikan ‘museum hidup’ dengan tema kota Tua, konsep yang terus digunakan hingga saat ini.

Di pulau ini juga terdapat beberapa museum, hotel, toko suvenir, rumah makan, dan toko Fudge, coklat khas masyarakat pulau ini, “Anda belum ke Pulau ini kalau belum mencicipi Fudge”, ini diantara beberapa tagline yang banyak ditanamkan ke kepala pengunjung dan terdapat di depan toko toko penjual Fudge.

Lalu apa hubungannya tulisan ini dengan Pesona Majene ?? ya, banyak korelasinya. Penulis yang merupakan mahasiswa sekaligus Pegawai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Majene yang ditugaskan untuk belajar Master Manajemen Pariwisata dan Pelayanan dalam Program MA Fulbright di University of New Orleans, USA mendapati bahwa semua karakter dan sumber daya yang ada di Pulau ini juga terdapat di Majene.

Baca juga  Museum Mandar Majene Mulai Berbenah. Ini Yang Diperbaiki

Melalui niat yang tulus dan perencanaan yang baik, pulau ini dapat menjadi role model bagi pariwisata Majene dengan mengangkat tema Kota Tua Majene sebagai destinasi Pariwisata. Dapat dibayangkan bagaimana perputaran ekonomi di tempat ini, setiap musim panas (liburan) pulau ini dikunjungi 15.000 orang per hari, biaya transportasi Ferry per orang saja $30 an, setiap orang minimal makan1 kali, sewa sepeda minimal 1 jam, naik kereta kuda dan banyak lagi lainnya sumber pengeluaran bagi wisatawan dan pendapatan dan pemutar ekonomi bagi warga dan pemerintah setempat.

Baca juga  Dipadati Pengunjung, Polsek Banggae Amankan Obyek Wisata Puncak Raja Bunga

Hal ini juga dapat dilakukan di Kota Majene dan efek ekonomi bagi masyarakat juga bisa didapatkan. Majene mempunyai sejarah yang panjang dari zaman pra kolonial, kolonial sebagai ibukota afdelling Mandar dan pasca kemerdekaan. Majene mempunyai museum, kuda, situs, kebudayaan, dan lain lain yang kesemuanya ini dapat menjadi modal Pariwisata Majene.

Semoga Pariwisata Majene kedepannya dapat menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Majene sesuai dengan tujuan pariwisata yang tertuang dalam UU No.10 tahun 2009 tentang kepariwisataan bahwa tujuan pariwisata antara lain: meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi pengangguran, inilah tolak ukur sesungguhnya dalam menilai keberhasilan Pariwisata suatu daerah, dan keberhasilan pariwisata suatu daerah merupakan tanggung jawab bersama seluruh stakeholder Pariwisata yaitu Pemerintah, Pelaku Pariwisata, dan Masyarakat.

New Orleans, 7 September 2019.


KEBUDAYAAN