Terbaik terbaik

Dibaca : 37 kali.

Haruskah Sekolah Dibuka Kembali Kala Wabah?


Oleh : Nurul Fajriyah (Aktivis Mahasiswa Sulbar)

Sejak pemerintah menetapkan physical distancing, ini merupakan alarm bahwa virus Wuhan sudah bermutasi ke Indonesia dan mewabah kebeberapa daerah, physical distancing adalah upaya pencegahan virus Covid-19, awal diumumkanya physical distancing hingga sekarang Covid-19 terus memakan korban tanpa pandang bulu. Penyebaran virus yang mengalami percepatan mengharuskan WHO umtuk memberikan pernyataan bahwa Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi global.

Masa inkubasi yaang dilakukan selama dua pekan mempersulit tenaga kesehatan untuk mendeteksi setiap masyarakat yang terkena virus ini, proses pendeteksian yang sulit juga merupakan salah satu penyebab banyaknya korban yang meregang nyawa. Peluang besar penularan Covid-19 melalui kontak langsung dengan orang yang terserang virus mematikan tersebut. Kegiatan sosial yang terus terjadi merupakan bagian dari penunjang sulitnya memprediksi penyebaran Covid-19.

Beberapa hari yang lalu media massa memberitakan padatnya masyarakat disuatu bandara dan adanya kerumunan pembakaran lilin atas tertutupnya salah satu tempat makan. Peliknya penanganan wabah Covid-19 memancing para pemimpin untuk menerapkan kebijakan yang disiplin sebagai langkah memutus mata rantai penyebaran wabah Covid 19.

Upaya yang lain sebagai bentuk pencegahan penyebaran covid-19 dengan cara mengalihkan kerja luar rumah menjadi Work From Home (WFH), ibadah dirumah, dan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dialihkan menjadi kegiatan belajar mengajar dalam bentuk daring (online), dan benar saja, sejumlah sekolah dan perkuliahan menerapkan kuliah daring.

Namun, selama penerapan kebijakan ini, tidak semua pihak dapat mengakses aplikasi yang ditentukan dengan mudah. Jika kita telisik dari segi tenaga pengajar atau guru, tenaga pengajar dari generasi X (1980-kebawah) tidak dapat dipastikan bahwa semua faham teknologi, bukan berarti para tenaga pengajar tidak ingin mempelajarinya, maupun tidak bisa bahkan tidak mampu, sebab sejatinya pahlawan tanpa tanda jasa adalah pembelajar yang harus siap dengan pergantian zaman dengan segala perkembanganya, hanya saja pada eranya penggunaan teknologi belum masif, yang membuat para tenaga pengajar harus meluangkan waktu untuk berlama-lama didepan layar. Disisi lain tidak menutup kemungkinan para guru sudah punya rencana lain yang sudah tersusun rapi yang siap dijalankan.

Baca juga  Bahaya Sekulerisme Bagi Generasi

Kondisi yang tak jauh berbeda juga dialami oleh siswa dan mahasiswa, tidak semua dari mereka mampu menggunakan teknologi, kalaupun mampu dari segi teknologi, besar kemungkinan terkendala pada biaya pengisian quota internet secara terus menerus, sementara kita semua paham bahwa Covid-19 memperparah kondisi perekonomian, sebagaimana yang dilansir dalam republika.com. Selasa, 12 Mei 2020 menyatakan “ada 300 mahasiswa Undip mengundurkan diri karena kesulitan ekonomi, sedikitnya 200 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang terdampak pandemi Covid-19 meminta keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT)”. (12/05/20).

Tak cukup sampai disitu, kendala jaringan internet juga menjadi masalah yang serius dan harus ditangani. Kompas.com pada Rabu 13 mei 2020 memberitakan bahwa “seorang mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makasar bernama Rudi Salam tewas karena terjatuh dari menara Masjid dikampung halamanya, menurut kerabatnya yang bernama Sharny “dia memanjat menara Masjid untuk mencari jaringan dengan tujuan ingin mengirim tugas kuliahnya, saat Rudi dimenara Masjid sembari mencari internet jaringan seluler dia tidak sengaja menginjak tripleks dan balok rapuh diatas menara itu sehingga terjatuh dan meninggal”. (Jum’at, 08/05/2020)

Dengan melihat kondisi pendidikan yang tidak berjalan normal dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, Nadiem Makarim selaku kemendikbud sudah sepantasnya mencari solusi atas permasalahan ini, agar belajar daring tetap bisa terlaksana secara merata dan tanpa meregang nyawa, para pelajar online bisa belajar tanpa mengeluh “gaptek” serta tidak mengeluh boros paket quota internet. Namun faktanya, CNNIndonesia memuat berita pada Sabtu, 09 Mei 2020, dimana kemendikbud berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020 mendatang. “Kita merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli”. Ujar Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Hamid (Sabtu, 09/05/20), dalam waktu yang sama Hamid juga mengatakan, nantinya kegiatan sekolah akan menggunakan protokol kesehatan diarea institusi pendidikan yang sudah ditentukan pemerintah dan wajib memakai masker.

Baca juga  Tren Bulliying, Buah Penerapan Sistem Pendidikan Sekuler

Tak perlu melangkah jauh ke bulan Juli untuk menetapkan protokol kesehatan, saat ini saja physical distancing masih berlangsung ada banyak masyarakat yang mengabaikan aturan dari pemerintah, kegiatan sosial terus terjadi seakan kondisi dunia sudah kembali stabil, lantas apa jaminan pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19 dibulan Juli nanti, melihat peraturan #dirumahaja terus dilonggarkan?

Ditengah serangan Covid-19 yang sangat berbahaya, pemerintah sebagai institusi harus memperhatikan kesehatan masyarakatnya, bukan justru menunjukkan sikap setengah peduli seolah nyawa rakyat tak ada artinya. Bukan menjadi rahasia, bahwa kepemimpinan yang dianut sekarang ini adalah kepemimpinan diktator, demi sebuah kepentingan dengan teganya mengabaikan kebutuhan dan kondisi rakyat serta sangat mudah dalam mengambil keputusan tanpa memikirkan dampak negatif pada rakyat.

Berbanding terbalik dengan kepemimpinan dalam Islam, kebutuhan pangan disejajarkan dengan kebutuhan kesehatan dan keamanan. Ini membuktikan bahwa kesehatan memiliki status yang sama dengan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Melindungi masyarakatnya dari bahaya virus Corona sudah menjadi kewajiban pemerintah, menduduki jabatan sebagai seorang pemimpin dalam suatu negara tidaklah dibenarkan jika ingin berlepas tangan dari permasalahan yang ada tanpa terkecuali baik kesehatan, pendidikan maupun ekonomi yang saat ini menjadi masalah utama bagi masyarakat.
Sebuah negara yang penduduknya mayoritas Muslim, harusnya bisa menjadi alasan bagi pemerintah untuk melirik seperti apa Islam dalam mengatasi wabah penyakit menular dan menyelesaikan permasalahan selama wabah masih bebas berkembang biak dari manusia satu kemanusia yang lain.

Baca juga  Piutang Dari Negara Kepada Keluarga, Apa Kata Dunia?

Ide karantina adalah langkah yang tepat dalam pencegahan wabah dan sudah diterapkan pada zaman Rasuslullah SAW. Selama masa karantina, pemerintah pusat memiliki peran penting untuk memnuhi kebutuhan rakyatnya, seperti menyalurkan pasokan bahan makanan dan kebutuhan lainya, hal ini dilakukan sampai masa wabah berakhir. Bukan hanya ide karantina, Islam juga mengedukasi penciptaan vaksin, dimana bahan atau persiapan pembuatan vaksin disediakan oleh negara, ikhtiar penciptaan vaksin dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyebaran wabah. Penyediaan fasilitas kesehatan yang cukup dan memadai untuk digunakan para tenaga medis yang terjun langsung menghadapi keganasan wabah tak luput dari perhatian pemerintah sebagai pelundung.

Tanpa adanya peran pemerintah secara serius dalam menghadapi Covid-19 ini, maka besabarlah menunggu berakhirnya Covid-19 dalam kurun waktu yang tidak diketahui, disisi lain masyarakat yang terpapar virus Covid-19 terus bertambah, andai saja pemerintah ingin berdamai dengan aturan Islam, kemungkinan besar akar hingga daun permasalahan yang terjadi ditengah masyarakat dapat terselesaikan, terkhusus kesehatan, pendidikan dan ekonomi. betapa indahnya Islam yang memuliakan umat manusia. Wallahu A’lam.