Garda Terdepan Berguguran, Berikan Solusi Terbaik



Oleh : Marwana S, S.Kep. Ns
(Perawat)

Sejak kasus pertama covid-19 di Indonesia diumumkan pada 2 Maret lalu, pasien positif di negeri ini justru semakin bertambah. Akumulasi kasus positif virus corona (covid-19) di Indonesia mencapai 200.035 orang (8/9/2020). Dari angka akumulatif tersebut sebanyak 142.958 dinyatakan sembuh dan 8.230 meninggal dunia. Di Sulawesi Barat sendiri menurut data pantauan covid-19 Sulawesi Barat (12/9/2020) kasus positif covid-19 sebanyak 462 orang. dirawat 46 orang, isolasi mandiri 71 orang, sembuh 338 orang, meninggal 7 orang. Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mencatat jumlah kematian tenaga kesehatan akibat covid-19 bertambah menjadi 153 kasus. Dari jumlah tersebut, dokter sebagai kelompok tenaga kesehatan dengan jumlah kematian terbanyak mencapai 73 kasus kematian, disusul perawat sebanyak 55 kasus kematian, dan lainnya (1/8/2020). Data terbaru (11/9/2020) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat selama enam bulan pandemi covid-19 jumlah kematian dokter karena terpapar virus corona sebanyak 111 dokter.

Pandemi corona menghantam dunia dalam segala aspek terutama aspek kesehatan, jumlah kasus terkonfirmasi positif semakin bertambah banyak, korban meninggal pun juga bertambah. bukan hanya masyarakat umum tapi juga tenaga kesehatan. IAKMI dan IDI menyoroti tingginya persentase kematian tenaga kesehatan berbanding total kematian akibat virus corona di Indonesia. Salah satu faktor yang dinilai menjadi penyebab tingginya angka kematian dokter dan tenaga kesehatan adalah burnout atau kelelahan bekerja karena pasien covid yang tidak terkendali sehingga perawatan covid-19 penuh dan pasien menumpuk. Studi terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menunjukkan semua tenaga kesehatan mengalami burnout atau gejala yang timbul karena stresor dan konflik di tempat kerja seperti kelelahan emosi, kehilangan empati, dan berkurangnya rasa percaya diri. Sebanyak 83 persen tenaga kesehatan mengalami gejala sedang hingga berat. Burnout pada tenaga kesehatan menimbulkan rasa lelah baik secara fisik maupun emosi. Keadaan ini membuat daya tahan tubuh melemah sehingga lebih rentan terhadap Covid-19 dan berisiko menimbulkan gejala yang parah sehingga menyebabkan kematian. Menurut Dekan FKUI profesor Ari Fahrial Syam, selain burnout terdapat beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian tenaga kesehatan. “Ada kemungkinan komorbid, ada faktor beban kerja, dan rata-rata yang meninggal berusia di atas 45 tahun,” kata Ari dalam pemaparan hasil studi FKUI, Jumat (4/9/2020). Ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang melindungi dari paparan virus corona juga dianggap berkontribusi pada kematian tenaga kesehatan. Saat ini berdasarkan temuan studi FKUI, masih terdapat 2 persen tenaga kesehatan yang tidak mendapatkan APD. Selain itu Ari juga menyebutkan saat ini tak bisa diketahui secara pasti penyebab kematian pada tenaga kesehatan Covid-19 secara forensik karena Indonesia belum memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan tersebut. “Di beberapa negara mungkin forensik medis itu suatu yang umum sehingga bisa tahu penyebab meninggal karena paru atau komplikasi atau yang lain. Di Indonesia belum bisa dilakukan sehingga tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang mengalami kematian secara forensik,” tutur Ari. Tanggapan juga datang dari seorang epidemiolog Australia yang mengatakan terus bertambahnya dokter yang meninggal akibat covid-19 adalah kerugian besar bagi Indonesia, berdasarkan bank dunia jumlah dokter di Indonesia terendah kedua di Asia Tenggara yaitu 0,4 dokter/1000 penduduk artinya 4 dokter melayani 10.000 penduduk sehingga kehilangan sekitar 100 dokter sama dengan 250.000 penduduk tidak punya dokter.

Baca juga  Gaungan Benci Produk Luar ditengah Impor Besar-besaran
Baca juga  Pandemi Belum Teratasi, Resesi Datang Menghantui.

Sungguh miris, memasuki bulan keenam sejak ditemukannya kasus pertama di Indonesia pemerintah terus mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait pencegahan dan penanganan pandemi covid-19, namun belum juga menunjukkan titik terang. Tenaga kesehatan sebagai garda terdepan untuk memerangi covid-19 dan masalah kesehatan lainnya yang seharusnya mendapat perlindungan maksimal dan penjaminan kesehatan seolah diabaikan. Berbeda dalam sistem kesehatan islam yang menjamin nyawa setiap rakyatnya juga para tenaga medis sebagai pahlawan garis depan disaat pandemi.

Dalam islam, kesehatan adalah salah satu kebutuhan pokok publik yang wajib diberikan oleh negara tanpa dipungut biaya sedikitpun atau gratis. Negara wajib menjamin kesehatan rakyat termasuk menghilangkan penderitaan rakyat, seperti saat terjadi wabah. Negara haram membebani rakyat untuk membayar layanan kesehatan, mengambil keuntungan dalam bentuk apapun seperti memperjual belikan obat-obatan dan alat-alat kesehatan. Ketika terjadi wabah pemimpin negara membuat kebijakan pemisahan rakyat sehat dan sakit, yang sakit akan dirawat di rumah sakit dibawah perawatan terbaik oleh dokter dan fasilitas kesehatan terbaik, menyediakan dokter dengan jumlah yang memadai disetiap rumah sakit dengan jam kerja yang manusiawi sehingga semua tenaga kesehatan bisa memberikan pelayanan terbaiknya tanpa didzolimi sehingga tenaga kesehatan bisa fokus merawat pasien yang terinfeksi. sementara itu para peneliti dengan dukungan dana yang sangat besar dari pemimpin negara akan segera melakukan penelitian terhadap vaksin yang bisa mengatasi wabah dan segera setelah peneliti menemukan vaksin maka negara akan memberikannya secara gratis kepada warga negaranya.

Baca juga  Mewujudkan Negara Mandiri Pangan

Sistem islam bisa memberikan pelayanan kesehatan terbaik dan gratis karena disokong sistem pembiayaan kesehatan yang kokoh dan anti defisit. pendanaan layanan kesehatan dalam sistem islam berbasis baitul mal yang bersifat mutlak dari pos kepemilikan umum negara. Adapun pos kepemilikan umum baitul mal berasal dari pengelolaan sumber daya alam dan energi dengan jumlah yang berlimpah. Di Indonesia terdapat sekitar 128 cekungan migas, belum lagi dari kekayaan hutan, laut, tambang emas, batu bara, serta sumber daya alam lainnya.

Pelayanan kesehatan yang terbaik hanya bisa diberikan dalam sistem pemerintahan islam, rumah sakit, dokter, akan tersedia secara memadai dengan sebaran yang memadai pula, difasilitasi Negara berbagai aspek demi terwujudnya keahlian terkini, ketersediaan obat dan alat kedokteran terbaik hingga gaji dan beban kerja yang manusiawi. Wabahpun akan mampu ditangani dengan cepat, tepat dan efektif. Wallahu a’lam bishshowab.