Disdikpora Majene Tak Perhatikan Sekolah Inti Gugus SDN 55 Deteng-deteng, Dibiarkan Siswa Kepanasan

  • Bagikan

MAJENE, Sungguh miris melihat kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) No 55 INP deteng deteng kecamatan Banggae kabupaten Majene. Beberapa ruang kelas SDN tersebut pernah di rehab tahun 2013 tanpa diberi plafon karena anggaran terbatas. Hal ini membuat siswa kepanasan saat berjalannya proses belajar mengajar di kelas.

SDN No 55 Inp Deteng deteng memiliki jumlah siswa 126, jumlah guru ASN 5, semuanya 9 termasuk kepala sekolah dan non PNS 6. Status sekolah SD inti gugus Siamasei tidak memiliki ruangan gugus, meskipun masih memilki lahan yang masih kosong.

Kondisi ruang kelas, 2 dan 3 tak ada plafon sehingga anak anak merasa kepanasan saat berjalannya proses belajar mengajar di kelas tersebut. Yang lebih parah, ruang kelas tersebut sudah dibiarkan puluhan tahun semenjak ruang kelas tersebut di rehab tahun 2013 yang tak ada plafon dan lebih mirisnya sekolah tersebut ada di dalam kota dan berstatus sekolah SD inti gugus Siamasei di kabupaten Majene.

Tak hanya itu, kondisi ruangan kelas juga sangat tidak layak untuk proses belajar mengajar siswa. Banyak meja dan kursi yang sudah rusak termasuk meja guru dimakan rayap, bahkan ada yang sudah patah tapi masih tetap digunakan.

Kepala SDN No 55 Inp Deteng deteng Muliana, S.Pd, SD, MM, saat ditemui di ruang kerjanya membenarkannya dua ruangan sekolahnya yang tidak memiliki plafon yang direhab tahun 2013 sampai tahun ini dibiarkan tanpa plafon begitupun dengan pagar di belakang sekolah sudah rusak parah adapun status sekolah sebagai SD inti gugus Siamasei.

“Kami tidak memiliki ruang gugus padahal masih ada lahan yang kosong begitupun dengan laptop yang akan digunakan dalam AKM, kami sangat kekurangan padahal sekolah lainnya sudah dapat pengadaan dapat lagi, sedangkan sekolah kami tidak dan kami kekurangan guru ASN 5 orang justru dikurangi 2 orang,” tuturnya.

Muliana menambahkan baru baru ini ada bantuan ke beberapa sekolah tapi sekolahnya tidak mendapatkannya sementara di sekolah lain selalu mendapatkan bantuan, baik itu bantuan berupa perbaikan gedung maupun sarana dan prasarana yang lain. “Padahal sekolah kami sangat membutuhkannya,” lanjutnya.

Salah satu orang tua murid dan warga sekitar menuturkan bahwa kondisi sekolah yang rusak sudah berlangsung lama. Menurutnya, ruang kelas 2 dan 3 pernah direhab tapi tidak ada plafonnya. “Harapan kami agar sekolah tempat anak kami menempuh pendidikan betul betul diperhatikan agar anak anak kami memiliki kenyamanan dalam belajar di kelasnya,” harapnya. (Syarifuddin Andi)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *