Derita Uyghur, Sampai Kapan?

  • Bagikan

Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Penulis Buku Antologi)

Muslim Uyghur kembali ditindas, semakin menambah daftar panjang deretan penderitaan kaum muslim. Padahal, umat Islam ibarat satu tubuh, jika bagian yang satu merasakan sakit maka bagian yang lainnya pun ikut merasakan. Sayangnya, kini tak berlaku lagi. Disaat kekerasan dan penganiayaan tengah terjadi pada kaum muslim etnis Uyghur di Xinjiang, Cina, kaum muslim dari belahan dunia lain tak mampu menolong untuk mengeluarkan mereka dari kekejaman penguasa setempat.

Belum lama ini The New York Times melaporkan dokumen setebal 403 halaman yang berisi arahan dan laporan tentang pengawasan dan pengendalian populasi Uyghur oleh otoritas Tiongkok.
“Dalam pidato tahun 2014 kepada para pejabat yang dibuat setelah gerilyawan dari minoritas Uyghur menewaskan 31 orang di sebuah stasiun kereta di Cina Barat Daya, Xi menyerukan akan dilakukan perjuangan melawan terorisme, infiltrasi dan separatisme habis-habisan menggunakan organ kediktatoran dan tanpa belas kasihan”, tulis media ini menjelaskan isi pidato Xi, seperti dikutip kembali oleh AFP. (cnnindonesia.com).

Berbagai aturan tak masuk akal diberlakukan atas mereka. Seperti: melarang puasa di bulan Ramadhan dan shalat jamaah, tidak dibolehkannya mengadakan pengajian, larangan menutup aurat dan memelihara jenggot hingga penutupan mesjid. Yang menolak ketentuan itu akan diganggu dan diintimidasi.

Hal diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Panel Hak Asasi Manusia PBB dua tahun lalu tepatnya pada bulan Agustus 2018 yang mengaku telah menerima banyak laporan terpercaya, bahwa satu juta warga etnis Uighur di Cina telah ditahan di satu tempat pengasingan rahasia yang sangat besar.

Disebutkan pula bahwa ada ratusan ribu tahanan etnik Muslim Uyghur yang bertempat tinggal di kamp-kamp tahanan Xinjiang mengklaim sebagai pekerja paksa saat bekerja di sebuah pabrik di dalam gedung. Pemerintah China menggambarkan tahanan ini di TV sebagai model ‘penyesalan’ yang menerima upah yang menguntungkan – dan keselamatan politik – sebagai pekerja pabrik, kutip The New York Time, Senin (18/12/2018).

Meski ini fakta dari dua tahun lalu, namun saat ini tetap sama. Tak ada yang berubah. Muslim Uyghur tetap dalam penderitaan yang tiada hentinya. Hal ini diperkuat dengan adanya dokumen rahasia yang bocor untuk pertama kalinya merinci upaya pemerintah Cina mencuci otak ratusan ribu muslim secara sistematis dalam jaringan kamp-kamp dengan penjagaan ketat. Sebagaimana yang diberitakan oleh bbc.com pada 25 November 2019.

Dokumen tersebut menunjukkan bagaimana para tahanan dikurung, diindoktrinisasi dan dihukum. Dokumen-dokumen resmi itu dibocorkan ke Konsorium Jurnalis Investigatif International yang bekerja sama dengan 17 mitra media, termasuk BBC Panorama dan surat kabar The Guardian Inggris. Penyelidikan ini menjadi bukti baru yang melemahkan klaim Beijing.

Diberlakukannya aturan yang tak masuk akal kepada bangsa Uyghur tidak lain karena mereka memeluk Islam. Segala aturan yang dibuat mengarah kepada kebencian terhadap Islam. Hak asasi Uyghur berupa kebebasan dalam memeluk agama dan beribadah sesuai agama mereka telah dicabut. Tak ada ruang sama sekali. Pemerintah China hendak memusnahkan Islam dari bangsa Uyghur. Melucuti segala hal yang berbau Islam.

Adanya kamp-kamp konsentrasi yang didirikan tidak lain tujuannya adalah untuk mencuci otak kaum Muslim Uyghur dan menanamkan paham komunisme. Berusaha sekuat tenaga menjauhkan bangsa Uyghur dari nilai-nilai dan ajaran Islam. Menguji keimanan mereka, membuatnya murtad berharap menjadi atheisme. Sangat nyata kebencian mereka terhadap Islam. Tak mengherankan hal demikian terjadi, sebab begitulah sikap orang kafir pada umumnya kepada kaum muslim. Dengan jelas, kebencian mereka telah diberitakan dalam firmanNya:
“Mereka (kaum kafir) tidak pernah berhenti memerangi kalian (kaum Muslim) sampai mereka bisa mengembalikan kalian dari agama kalian (pada kekafiran) andai saja mereka sanggup”. (TQS al-Baqarah [2]: 217). Itulah gambaran bagaimana kebencian dan permusuhan mereka terhadap kaum muslim.

Sungguh banyaknya jumlah umat Islam saat ini tak akan mampu menggentarkan kaum kuffar. Kondisi ini telah digambarkan Rasulullah SAW dalam sabdanya, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang yang menyerbu makanan diatas piring.” (HR. Ahmad)
Umat Islam, kita dan muslim Uyghur adalah satu tubuh, diikat dengan ikatan yang kuat yaitu akidah Islam dan ukhuwah Islamiyyah. Sekiranya jeritan Uyghur yang memohon pertolongan dan keselamatan didengarkan. Sebab, ini adalah permasalahan Islam. Wajib menolong mereka, melindungi dan memelihara akidahnya serta menjauhkannya dari kekufuran yang dipaksakan.
“Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama maka kalian wajib memberikan pertolongan”. (TQS al-Anfal [8]: 72).

Lihatlah saat ini, disaat muslim Uyghur memohon pertolongan dari umat Islam lainnya, tak satu pun yang datang untuk membawa mereka keluar dari penindasan luar biasa ini. Termasuk penguasa negeri ini, yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Semua itu karena sekat nasionalisme, memisahkan umat Islam yang satu dengan lainnya. Membuat negeri-negeri muslim lainnya tak berkutik atas penindasan bangsa Uyghur. Urusan negeri muslim yang satu tak boleh dicampuri oleh negeri muslim lainnya.

Sesungguhnya, kasus Uighur telah menambah daftar panjang betapa besar penderitaan umat Islam sekarang. Sebab Uighur tak sendirian. Nasib serupa juga dialami oleh Muslim Rohingya, Pattani Thailand, Moro Philipina, Palestina, Suriah, dan lain-lain. Semua penderitaan kaum Muslim ini semakin meneguhkan kesimpulan tentang betapa butuhnya umat terhadap Khilafah.

Mengapa Khilafah? Tentu karena umat Islam di berbagai wilayah mengetahui bahwa keselamatan mereka hanya ada pada Islam, juga pada kekuasaan Islam (Khilafah). Sebab Khilafah adalah perisai/pelindung sejati umat Islam. Ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:
“Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, penderitaan muslim Uyghur dan muslim lainnya hanya akan berakhir manakala aturan-aturan Allah dijadikan sebagai landasan pengaturan kehidupan dalam sebuah institusi dibawah kepemimpinan seorang pemimpin yang akan menjadi perisai (pelindung) setiap umat Islam di seluruh dunia, yaitu Khilafah Islamiyyah. Sebagaimana yang telah terjadi di masa lampau.

Ketika ada wanita Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, sebagai kepala negara, Nabi Muhammad SAW menyatakan perang terhadap mereka. Mereka pun diusir dari Madinah. Itulah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, sebagai kepala Negara Islam saat itu, demi melindungi kaum Muslim.

Hal yang sama pun dilakukan oleh para khalifah setelah beliau. Khalifah Al-Mu’tashim, juga di era Khilafah ‘Abbasiyyah, pernah memenuhi permintaan tolong wanita Muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi di Amuriah. Ia segera mengirim ratusan ribu pasukan kaum Muslim untuk menyelamatkan wanita tersebut. Wallahu a’lam.

  • Bagikan