Derita Muslim Rohingya Tak Kunjung Usai, Umat butuh Perisai


Oleh: Ummu Aulia (Pengurus MT Nurul Muthmainnah)

Muslim Rohingya saat ini sudah dikenal dimata dunia sebagai salah satu etnis minoritas yang mengalami ketertindasan. Sekalipun mereka punya sejarah lama di Myanmar akan tetapi etnis Rohingya yang umumnya muslim tidak pernah diakui secara resmi oleh pemerintahan Myanmar. Sebaliknya justru menganggap mereka sebagai imigran gelap dari negara tetangga Bangladesh. Karena anggapan seperti inilah sehingga membuat etnis Rohingya tidak berhak mendapat kewarganegaraan berdasarkan Undang Undang Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982. Sehingga sebagai akibatnya, hak-hak mereka dalam hal pendidikan, bekerja, menikah, berkunjung ke tempat lain, menjalankan agama, serta akses layanan kesehatan sangat sulit didapatkan.

Tidak hanya persoalan hak sebagai warga negara yang dialami oleh etnis muslim Rohingya, akan tetapi ketertindasan, pembunuhan, pemerkosaan, diskriminasi, bahkan genosida kini mereka alami. Semua ini bermula ketika terjadi penyerangan tiga pos perbatasan pada 25 agustus 2017 yang dilakukan oleh kelompok militan Rohingya. Penyerangan inilah yang dijadikan alasan Militer Myanmar untuk melakukan serangan balik terhadap etnis muslim Rohingya dengan tembakan mortir, pembakaran, bahkan pembunuhan yang semena-mena terhadap warga sipil. Kondisi seperti ini terus berlanjut hingga akhirnya, Etnis Rohingya memutuskan untuk mengungsi ke negara lain dengan harapan akan mendapatkan perlindungan.

Baca juga  Makin Kapitalistik, Pejabat Memperkaya Diri Saat Rakyat Makin Sekarat

Namun sayangnya justru yang terjadi adalah mereka harus mempertaruhkan nyawa dilautan selama berbulan bulan, hingga pada akhirnya mereka ditempatkan di kamp-kamp COX’S BAZAR di Bangladesh. Adanya kamp-kamp ini tidak lantas membuat penderitaan etnis Rohingya berakhir tapi justru semakin menambah penderitaan mereka karena di kamp-kamp ini aksi kekerasan, peredaran narkoba, pemerkosaan, bahkan perdagangan manusia sering terjadi.

Masalah Tak kunjung Usai

Pihak berwenang Bangladesh mulai memindahkan ribuan pengungsi Rohingya ke pulau terpencil yang tak layak huni meskipun banyak pihak yang memprotes keputusan ini. Sebagaimana yang dikatakan HRW Amnesty Internasional dan Portify Rights sangat menentang relokasi pengungsi etnis Rohingya ke Pulau Bashan Char. Alasanya, Pulau tersebut rentan terhadap bencana alam dan tidak cocok untuk pemukiman manusia. (Okezone.com 15/12/2020).

Dipindahkannya mereka ke pulau terpencil, menjadi indikasi bahwa masalah yang dialami etnis Muslim Rohingya tak kunjung usai, terlebih kondisi di pulau tersebut sangat memilukan. Sebagaimana Amnesty International merilis kondisi yang dialami 360 penghuni awal pulau tersebut tidak higienis, terbatasnya fasilitas makanan dan kesehatan, banyaknya kasus pelecehan yang dilakukan oleh TNI AU dan pekerja lokal yang melakukan pemerasan semakin memperparah penderitaan mereka.

Baca juga  PERUBAHAN MENDASAR KE ARAH ISLAM

Nasionalisme Jadi Penghalang

Perlakuan tidak manusiawi kepada pengungsi Rohingya tidak hanya dilakukan oleh Bangladesh akan tetapi Malaysia dan Indonesia sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim bahkan turut menolak mereka. Inilah wajah asli nasionalisme, yaitu sebuah paham yang memandang bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan pada negara bangsa (Hans Kohn dalam Nasionalism : it’s Meaning and History).

Paham inilah yang menghilangkan ukhuwah Islamiyah. Atas nama Nasionalisme negeri-negeri muslim seolah menutup mata atas penderitaan yang dialami oleh etnis muslim Rohingya. Mereka lebih mementingkan urusan dalam negerinya dibandingkan urusan dan nasib saudara muslim mereka. Bahkan tidak hanya itu, mereka juga menganggapnya sebagai beban dan mengatakan bahwa Rohingya bukanlah urusan mereka karena etnis Rohingya bukanlah bagian dari bangsanya.

Umat Butuh Perisai

Persoalan yang dialami oleh umat Islam saat ini, khususnya apa yang dialami oleh muslim Rohingya adalah karena tidak adanya perisai yang menjadi pelindung mereka. Perisai ini tidak lain adalah sebuah institusi yang akan menerapkan sistem Islam dan akan mempersatukan kaum muslim dengan satu ikatan yakni akidah islam, akidah yang sangat jauh berbeda dengan ikatan nasionalisme yakni ikatan yang menjadi penyebab umat islam tercerai berai dan membuat mereka lemah dan tidak mampu menolong saudara mereka yang terzalimi.

Baca juga  Mendudukan Akar Persoalan Bangsa Dalam Polemik RUU HIP

Institusii ini akan menyelesaikan persoalan Rohingya dengan beberapa langkah yaitu penyatuan negeri-negeri muslim dan penghapusan garis perbatasan, digunakannya seluruh perangkat negara termasuk memobilisasi militer untuk membela muslim yang tertindas, menerapkan paradigma kewarganegaraan Islam dalam masyarakat.

Dengan adanya Institusi yang akan menjadi perisai umat yang berani menerapkan sistem Islam dan mengambil langkah-langkah tersebut akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dialami muslim Rohingya. Termasuk apa yang dialami oleh muslim-muslim minoritas lainnya, seperti Gaza di Palestina, muslim Uyghur di China, muslim Pattani di Thailand, muslim Moro di Fhilipina Selatan dan lain-lain yang mengalami persoalan serupa. Wallahu A’lam.


OPINI