Terbaik terbaik

Dibaca : 07 kali.

Dari Wabah Virus Corona Kita Belajar!


Oleh : Siti Herliah, S. Sos
Profesi : Guru Honorer

Virus Corona memberikan banyak pelajaran bagi manusia. Virus yang diberi nama oleh WHO dengan Covid 19 ini, telah banyak menewaskan manusia diseluruh penjuru muka bumi. Bahkan sampai saat ini telah puluhan ribu yang terinfeksi. Diperkirakan angka ini akan terus bertambah setiap harinya. Pasalnya, sampai saat ini belum dapat ditemukan vaksin yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. WHO pun telah menetapkan status darurat. Ini karena virus tersebut telah meluas lebih dari 25 negara.

Dikutip dalam halaman Kompas.com, hingga Senin (30/3/2020) pagi data real time yang dikumpulkan oleh John Hopkins CSSE menunjukkan, angka positif Corona sebanyak 720.117 kasus. Dari jumlah tersebut, 33.925 meninggal dunia dan 149.082 pasien talah dinyatakan sembuh. Data tersebut menunjukkan kasus terbanyak saat ini tercatat di AS dan Italia. Kedua negara itu memiliki jumlah kasus lebih banyak dari Cina, neagara yang pertama kali mengidentifikasi adanya virus Corona baru di wilayahnya.

Sementara kematian terbanyak terjadi di Italia disusul Spanyol. Kasus di dua negara ini juga melebihi jumlah kematian yang terjadi di Cina. Sementara jumlah pasien sembuh paling banyak dilaporkan di Cina. Dari 82.122 kasus, 75.582 diantaranya dinyatakan sembuh. Perkembangan masih terus terjadi dan berubah di tiap negara yang terjangkit.

Di Indonesia sendiri dikutip di halaman Kompas,com hingga hari Senin (30/3/2020) total kasus Covid 19 mencapai 1.414 kasus. Angka ini bertambah 129 pasien yang dinyatakan positif virus Corona dalam 24 jam terakhir. Hal ini dinyatakan juru bicara pemerintah untuk penanganan kasus virus Corona Achmad Yurianto melansir data yang dihimpun sejak Minggu (29/3/2020) pukul 12.00 WIB hingga Senin pukul 12.00 WIB.

“Penambahan konfirmasi kasus positif sebanyak 129 orang sehingga total kasus sekarang menjadi 1.414 kasus.” Ujar Achmad Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB, Senin. Kemudian diketahui total ada 122 pasien Covid 19 yang meninnggal dunia.

Baca juga  Hormati Guru, Berkahlah Ilmu

Angka di atas tentu bukan angka yang sedikit dalam perkembangan setiap harinya. Korban semakin bertambah namun belum ada kebijakan tepat untuk mengatasi problema ini. Dalam kondisi pandemik ini, kebijakan yang kini kemudian muncul sangatlah berbeda-beda disetiap daerah. Pemerintah pusat menyerahkan kepada tiap kepala daerah menangani kasus ini seakan tidak membuat masyarakat jerah dan ingin tinggal di rumah. Sosial distancing yang selalu diserukan seakan tidak ada artinya bagi warga masyarakat dan masih tetap berkeliaran di luar rumah sehingga tidak memberi efek berkurangnya penularan virus ini. Semestinya ada kebijakan nasional yang diikuti seluruh pihak termasuk seluruh kepala daerah yang ada di Indonesia, agar tiap masyarakat di daerah tersebut tidak begitu ngeyel saat ada aturan yang berlaku. Ditambah saat ini penyebaran virus Corona tak membuat pemerintah membatasi wisatawan Cina yang ingin masuk ke Indonesia ini ditandai pemerintah hanya menutup penerbangan langsung ke Wuhan, Ibukota Provinsi Hubei. Padahal di media sosial sudah banyak netizen menolak kedatang warga asing yang ingin masuk ke Indonesia. Karena jika ini masih dibiarkan maka penyebaran virus ini akan semakin berkembang dengan cepat jika tak ada kebijakan nasional yang dibuat oleh pemerintah.

Cina yang sebelumnya membanggakan diri tidak dapat terkalahkan dengan majunya perkembangan ekonomi yang dimiliki, akhirnya berhadapan dengan virus. Saat perayaan 70 tahun kekuasaan Partai Komunis Cina Presiden ina Xi Jinping sesumbar tidak ada kekuatan yang bisa menggoyahkan Cina. Jika sebelumnya, Komunis CIna mengisolasi lebih dari 1 juta Muslim Uyghur, di kamp politik Turkistan Timur (Xin Jiang), maka dengan munculnya wabah virus Corona ini kemudian memaksa Cina untuk mengisolasi warganya lebih dari 50 juta penduduknya untuk mencegah menyebarnya wabah lebih luas lagi di Negara tersebut. Dari sini kita melihat bahwa sungguh manusia memang tidak pantas untuk menyombongkan diri. Allah SWT sendiri telah berfirman (yang artinya): Manusia diciptakan dalam keadaan lemah (TQS An-Nisa [4] : 2).

Baca juga  Demokrasi Anti Kritik

Sehingga pelajaran pertama yang dapat diambildari virus ini: Manusia begitu lemahnya dihadapan sang penciptanya Allah SWT. bahkan manusia sering kali merasa hebat akan ilmu yang dimilikinya. Mereka melupakan Allah, bahkan merasa lebih besar dari Allah SWT. Wabah virus Corona ini memberikan kita pembelajaran betapa kemahabesaran Allah yang menciptakan virus itu yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sehingga manusia ditimpa penyakit. Bahkan ilmuan pun sampai saat ini masih mencari vaksin untuk mengatasi perkembangan virus ini di tubuh manusia.

Pelajaran kedua: Setiap pelanggaran yang melanggar syariah Islam akan menghasilkan kemudaratan, kehancuran, dan kerusakan. Penyebaran virus Corona ini tentu tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan-kebiasaan manusia yang sudah melanggar syariah baik itu masalah kebersihan maupun makanan. Seperti penyebaran virus ini diawali dengan memakan hewan liar seperti kelelawar, ular dan tikus. Virus Corona ini diduga bermutasi pada kelelawar kemudian berlanjut pada ular kemudian manusia. Pasar Huanan di Wuhan Cina banyak menjual hewan-hewan liar sehingga ditutup oleh Pemerintah Cina karena diduga menjadi tempat penyebarluasan virus ini.

Pada zaman Rasulullah untuk mencegah apabila ada wabah penyakit menular agar tidak meyebar ke daerah yang lain maka dipakailah metode karantina wilayah. Sebab disinilah Rasulullah melarang ummatnya untuk mendekati suatu daerah apabila daerah tersebut sedang terkena wabah. Sebagaimana sabda beliau: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kamu memasukin wilayah itu. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian, yang janganlah kalian meninggalkan tempat itu (HR. Bukhari).”
Islam telah mengajarkan kita bagaimana menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Misalnya dengan makanan, Allah SWT telah memerintahkan umat manusia hanya memakan makanan yang halal dan thayyib; tidak memakan makanan yang menjijikkan (khaba’its). Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim menyebut thayyib adalah sesuatu yang baik, tidak membahayakan tubuh dan pikiran. Dan Imam Syafii menyebutkan thayyib adalah sesuatu yang lezat dan layak untuk dikonsumsi. Allah SWT pun memerintahkan kita memakan rezeki yang baik yang telah Allah berikan dan tidak berlebihan (QS Thaha [20] : 81). Para ulama menjelaskan tidak berlebihan artinya tidak tidak memakan yang haram; tidak mendapatkannya melalui cara yang diharamkan Allah SWT seperti menzalimi pihak lain termasuk kewajiban bersyukur atas segalah yang Allah berikan saat ini baik berupa rezeki makanan yang diberikan secara gratis dari Allah kepada kita. Pelanggaran terhadap perkara itu akan mendatangkan murka Allah SWT (QS An-Nur [24] : 63).

Baca juga  Hanya Islam yang Mampu Mencetak Generasi Penakluk

Penguasa memiliki peran utama dalam menjamin keselamatan dan kesehatan warga negaranya melalui regulasi yang tepat. Penguasa yang menetapkan aturan yang akan diberlakukan kepada warganya. Tentu rakyat membutuhkan perlindungan yang optimal sehingga tidak ada rasa khawatir saat menghadapi musibah wabah seperti ini. Namun, kondisi yang kita lihat saat ini sungguh sangat mengkhawatirkan. Dalam skala internasional, masing-masing negara bergerak untuk menangani Pandemi ini, beberapa negara memberlakukan karantina Wilayah/ Lockdown, ada pula yang tampil beda tanpa Lockdown. Kondisi ini karena masing-masing negara disekat oleh sekat nasionalisme, yang memungkinkan suatu negara hanya memikirkan dampak yang terjadi pada wilayah masing-masing. Selain itu akses keluar-masuk diwilayah sumber penyebaran wabah tidak ditutup, wilayah yang awalnya tidak terdampak juga tidak dikarantina dan inilah yang menjadi sebab penyebaran Virus ini keseluruh dunia.

Berbeda halnya pada masa kepemimpinan Rasulullah dan Umar bin Khattab dimana beliau mampu memberikan contoh bagaimana cara menghadapi wabah virus menular. Yakni dengan melakukan karantina bagi penderita penyakit menular serta karantina Wilayah. Untuk itu, umat membutuhkan pemimpin yang menjalankan pemerintahan sesuai dengan tuntunan Alloh dan RosulNya. Bukan pemimpin yang mementingkan korporasi Asing. Hal ini akan terwujud jika Islam diterapkan secara menyeluruh dan akan menjadi rahmat bagi seuruh alam. Wallahu a’lam bi ash-shawwab