Dibaca : 17 kali.

COVID-19 TERJADI SAAT RAMADHAN, PELUANG TOBAT KOLEKTIF


oleh : Muliah Hamarong

Kabar gembira dengan datangnya bulan Ramadhan meskipun ditengah pandemic COVID (Corona Virus Disease)-19 tanpa sholat berjama’ah di masjid seyogyanya kita syukuri seraya menyambut bulan yang agung ini dengan segala kekuatan, mempelajari hukum-hukum puasa, sholat malam, dan taubat sebenarnya dari segala dosa, taubatan nasuha. Dalam kondisi mencekam seperti sekarang ini dimana sholat berjama’ah di Masjid dipindahkan secara serentak ke rumah masing-masing ummat Islam sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona, sebuah kondisi yang baru dirasakan oleh mayoritas masyarakat pun bagi para sepuh, seharusnya tidak mempengaruhi kesungguhan dan keteguhan hati kaum muslimin untuk menghidupkan Ramadhan dengan segala bentuk ibadah wajib maupun sunah.

Kenyataan ironis bahwa ditengah ummat berupaya menghadapi pandemic COVID-19 ini di dunia maya masih ada saja pemikiran, seandainya orang boleh tidak berpuasa dan membayarnya dengan fidyah. Kontradikasi dengan nasehat-nasehat menjelang Ramadhan yang disyiarkan mayoritas kaum muslim. Ironi ini membuka mata hati kita bahwa begitulah small-effect yang ditimbulkan oleh pembiaran mengabaikan hukum Allah. Tidak sedikit (kalau kita belum sanggup mengatakan banyak) hukum Allah yang tidak dianggap karena telah tergantikan oleh hukum selain dari Allah sedangkan satu-satunya yang berhak menetapkan hukum hanyalah Allah SWT sebagaimana dalam Surah Al An’am ayat 57. Yang artinya “Katakanlah (Muhammad), Aku (berada) di atas keterangan yang nyata (Al-Qur’an) dari Tuhanku sedang kamu mendustakannya. Bukanlah kewenanganku (untuk menurunkan azab) yang kamu tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan (hukum itu) hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik”.

Baca juga  Tren Bulliying, Buah Penerapan Sistem Pendidikan Sekuler

Kecewakah kita? Sedihkah kita? Atau marahkah kita dengan kondisi ini? Semua belum berakhir saudaraku! Walaupun terlambat namun kita masih diberi kesempatan untuk menghirup udara di bulan suci ini, maka hendaknya momentum Ramadhan 1441 H menjadi titik tolak taubat kolektif atas kemaksiatan mengabaikan hukum Allah. Saatnya untuk menghentikan semua aktivitas yang bertentangan dengan syariah, baik sebagai insan maupun sebagai sebuah bangsa. Semua bentuk kemaksiatan kepada Allah SWT harus segera kita hentikan karena sesungguhnya kemaksitan itu menjadi sumber malapetaka yang kita rasakan hari ini.
Sebagaimana Firman Allah SWT:

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (TQS Asy Syura : 30).

Ayat tersebut ditutup dengan ketegasan bahwa Allah SWT mengampuni sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh hamba-Nya sebagai satu rahmat besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

Taubat, secara bahasa bermakna kembali atau kembali kepada Allah dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa lalu melaksanakan semua hak Allah Azza wa Jalla. Secara syar’i, taubat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya.

Dosa itu substansinya adalah kejahatan, yaitu perbuatan – perbuatan tercela yang ditetapkan syara’. Jadi, kejahatan (jarimah) adalah tindakan melanggar peraturan yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Rabbnya, dengan dirinya sendiri, dan dengan manusia yang lain. Orang-orang yang bertaubat secara garis besarnya dibedakan atas dua golongan, Taubatan nasuha atas dosa-dosa dari kesalahan yang tidak berimplikasi dan berimplikasi sanksi. Orang-orang yang menyadari kesalahan yang dilakukannya, berupa berbohong, bergunjing, melihat aurat lawan jenis, menyakiti hati dengan perbuatan dan perkataan, serta perbuatan semisal lainnya, lalu beristigfar kepada Allah, tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan, memperbanyak amal sholeh untuk menutupi kesalahan di masa lalu dan mengambil jalan dakwah sebagaimana yang dilakukan para sahabat Rasulullah serta salafus sholeh merupakan Golongan Pertama. Maka Allah akan memberikan ampunan, menutupkan aib-aibnya di masa lalu serta menggantikan kesalahan-kesalahannya dengan pahala kebaikan yang berlimpah serta kenikmatan jannah. Sementara kesalahan yang terkategori jarimah dan berimplikasi adanya sanksi pidana (uqubat), seperti kejahatan zina, homoseksual, LGBT, pencurian, peminum khamar, pembunuhan, korupsi atau yang semisal dengan itu. Maka bukti taubat seorang hamba yang melakukan kesalahan golongan ini adalah dengan diterapkan uqubat atas kesalahannya. Taubatan nasuha dalam hal ini, selain beristigfar, sholat taubat, melakukan amal-amal sholeh, yang terpenting dari itu semua adalah ditegakkannya hukum atas kesalahan yang dilakukannya. Dalam kitab Nidzamul Uqubat Fiil Islam, Abdul Rahman AL Maliki menjelaskan diantara fungsi uqubat dalam Islam adalah sebagai pencegah (zawajir) karena ketegasannya dan penebus (jawabir) karena hukum Allah yang dijalankan.

Baca juga  Koruptor Merajalela, Sistem Islam Solusinya

Dalam keseharian kehidupan kita, kesalahan-kesalahan individual yang tidak berimplikasi uqubat pun terjadi karena lingkungan yang tidak kondusif, sementara semua jenis kesalahan hina dan menghinakan yang berimplikasi uqubat merajalela dan didiamkan serta terjadi pembiaran bahkan dipropagandakan oleh berbagai pihak. Kejahatan sudah tidak lagi dianggap, karena tidak ada lembaga yang compatible untuk menegakkannya. Maka malapetaka yang kita rasakan saat ini harus dihentikan dengan menutup sumber malapetakanya yakni menghentikan semua aktivitas yang bertentangan dengan syariah, baik sebagai insan maupun sebagai sebuah bangsa. Kembalilah hanya kepada hukum-hukum Allah SWT.

Baca juga  Khilafah Dinanti Atasi Pandemi

Problem yang tengah dihadapi bersama oleh seluruh umat manusia di bumi ciptaan Allah SWT saat ini sesungguhnya bukanlah hanya Pandemi COVID-19 semata. Masalah kesehatan yang merambat secara pelan namun pasti pada semua lini kehidupan. Kenikmatan beribadah seperti biasanya mulai dirampas, kehidupan sosial untuk memupuk Ukhuwah Islamiyah dan amar ma’ruf nahi mungkar terbatas, dunia pendidikan sebatas hanya bagi yang memiliki fasilitas teknologi, bahkan pemenuhan kebutuhan pokok bagi masyarakat sangat memilukan. Semua persoalan ini akan terus membersamai kita sekiranya peluang taubat di bulan Ramadhan ini kita sia-siakan.

Bertaubatlah secara kolektif atas segala dosa yang telah dilakukan dan taatlah atas segala perintah dan larangan-Nya. Karena hanya dengan bertaubat dan taat yang akan menghantarkan kita pada solusi tuntas problem mendunia saat ini, COVID-19 beserta semua turunan masalahnya. Semoga dengan berakhirnya wabah ini menjadi pintu gerbang tegaknya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Aamiin…
Wallahu a’lam bi ash showwab.