Contoh Khutbah Idul Fitri Masa Pandemi Covid-19


(Foto : parahyanganpost.com)

Oleh : DR KH Masyhuril Khamis SH MM

(Ketua Pusat Dakwah Perbaikan Akhlak Bangsa MUI Pusat)

Kita baru saja menyelesaikan kewajiban mulia yaitu shiyam. Suatu ibadah untuk mengembalikan kita pada hakikat nilai kemanusiaan yaitu fitrah kesucian.

Shiyaam berarti imsaak yaitu menahan diri atau mengekang dan mengatur diri dari bergejolaknya nafsu. Diantaranya nafsu disekitar perut, seperti makan, minum kemudian nafsu yang berasal dari bawah perut, yaitu godaan syahwat seksual dan nafsu yang berada di atas perut seperti akal, mulut, mata dan  telinga.

Kebendaan atau nafsu duniawi ini sering membawa lupa dan bisa anti Tuhan, bisa dengan mudah membawa fitnah dan pengkhianatan, membawa permusuhan dan kebencian, berlaku zholim, curang, serta bersifat merusak. Sehingga dapat membawa kepincangan hidup dan kemiskinan. Oleh karena itu Ibadah shiyam adalah ibadah yang mengharuskan  nafsu duniawi semakin tunduk.

Saudaraku yang mulia,

Sebulan penuh kita berpuasa, dalam suasana di uji Allah dengan musibah Covid-19. Dimana kita masih dapat sholat jumat dan Tarawih di masjid, sedang tadarus Al-Quran dapat kita laksanakan di rumah bersama dengan keluarga.

Kita semua bersedih, namun kita yakin pasti banyak hikmah dibalik itu. Oleh karena itu wajib kita bersyukur atas hikmah yang didapatkan di balik Covid-19 ini.

Hakikat syukur adalah menghargai akan sesuatu yang telah kita terima.  Kita harus menyadari bahwa kita datang dari Allah dan kita pun kembali pada Allah.

Apa yang ada pada diri kita semua milik Allah, saat kita diujipun sepantasnya kita bersyukur kepada Allah SWT. Karena itu adalah takdir Allah, caranya menyikapi dengan positif atau Husnuzhon. Abu Laits Assamarqandi, dalam kitab Tanbihun Ghafilin, menuliskan bahwa di akhirat nanti,  Allah bertanya kepada manusia, kenapa tidak bersyukur dan lalai dari mendekatkan diri pada Allah.

Mereka menjawab, “Kami sibuk ya Rabb, sibuk karena jabatan, sibuk karena hartanya, sibuk karena sakitnya, dan sibuk karena kemiskinannya.

Rasulullah SAW pernah didatangi Jibril, menyampaikan salam dari Allah SWT dan bertanya, manakah yang engkau sukai ya Muhammad menjadi Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaeman atau menjadi Nabi yang menderita seperti Nabi Ayyub AS.

Baca juga  Majene Didaulat sebagai Sekolah Penggerak di Sulbar

“Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari, jika kenyang aku bersyukur, jika lapar aku bersabar atas cobaan Allah padaku,” jawab Nabi.

Alhamdulillah hari ini kita akhiri Ramadhan dengan ber-Idul Fitri, tentu kita isi dengan bersilaturrahmi, tapi tetap mengikuti aturan suasana Covid-19. Mungkin kita belum  berjabat tangan tapi sesungguhnya kita saling memaafkan dengan keikhlasan.

Meskipun suanananya masih banyak batasan namun kita harus merasa bahagia. Apalagi suasana ini kita jadikan sebagai upaya saling mendoakan, saling membantu untuk kebersamaan, kebersamaan menghadapi covid 19, kebersamaan untuk saling membantu akibat krisis covid 19.

Tidak boleh ada yang merasa sehat atau sudah lepas dengan covid ini, tapi yang penting semua kita wajib waspada, menjaga kebersihan fisik dan kebersihan hati, kebersihan lingkungan tempat tinggal. Paling penting selalulah menjaga nilai Ramadhan yaitu meningkatkan Taqwa serta bertawakkal pada Allah SWT.

Bila Nilai Ramadhan itu terpelihara, maka seseorang itu telah mendapatkan Taqwa yang sebenarnya, lidahnya tidak lagi dusta, fitnah, cela dan ghibah, hatinya tidak lagi dengki, hasad, mendendam, dan membenci. Matanya selalu terpelihara dari memandang yang dilarang Allah.

Tangannya (kekuasaan) semakin terjaga dari perbuatan maksiat,tidak akan mengambil milik orang lain, malah sebaliknya selalu berada diatas untuk membantu yang kurang mampu. Kakinya (fasilitas yg ada) tidak melangkah ketempat maksiat, tapi semakin rajin berjalan pada jalan Allah dan Rasulullah SAW. Syukurnya meningkat sejalan dengan bertambahnya nikmat Allah padanya.

Saudaraku,

Menjaga Kebersamaan ini adalah fitrah kita. Ini adalah esensi persaudaraan dalam islam, karenanya Idul fitri tahun ini harus kita syukuri.

Menahan diri untuk tidak mudik, untuk tidak berpergian, sebab itu bagian usaha menjaga saudara kita yang lain. Kita harus tetap waspada terutama dengan rasa takut dan khawatir berlebihan, panik, saling menyalahkan, seolah tidak menerima Taqdir Allah SWT.

Untuk itu kebersamaan keluarga inti selama Ramadhan harus kita tetap pelihara terutama untuk meningkatkan kualitas anak dan generasi kita. Dengan begitu dibalik musibah ini tentu kebersamaan keluarga semakin akrab.

Baca juga  Shalat Idul Fitri Baiknya di Lapangan atau di Masjid?

Kita harus berupaya mengejar ketinggalan dan keterbelakangan pengetahuan anak-anak kita terutama pemahaman agamanya. Caranya kita bimbing mereka untuk kembali mendekatkan diri dengan mempelajari Al Quran, Membaca kembali hadits-hadits Rasul SAW, insya Allah akan terjadi peningkatan iman, ilmu dan pemahaman mereka pada ajaran Islam.

Mungkin selama ini anak kita sudah mempunyai ilmu, tapi bila Ilmu tanpa iman akan membuat orang menjadi iblis yang sombong dan angkuh bahkan perusak manusia sepanjang zaman. Sebaliknya Iman tanpa ilmu akan membuat seseorang bagaikan malaikat monoton yang membosankan. Ilmu dan imanlah yang menyebabkan Adam diangkat menjadi Khalifah di bumi, dan berhasil menyisihkan saingannya yang ambisi dari golongan iblis.

Rasulullah SAW pernah bertanya pada sahabat, bagaimana sikap kalian nanti jika sekiranya telah terbukanya pembendaharaan Roma Parsi. Sahabat menjawab, bahwa mereka akan tetap memegang agama yang asli.

Rasul tersenyum kecut, sambil bersabda bahwa pada waktu itu kamu akan berkelahi sesamamu, berpecah belah, setengah yang lain memusuhi yang lain. Padahal jumlah umat islam itu banyak sekali, tapi nasibnya seperti buih di tengah lautan, lemah, kamu akan hancur laksana hancurnya kayu dimakan anai-anai.

Sahabat bertanya, apa penyebabnya ya Rasulullah. Rasul menjawab karena ketika itu hatimu telah terpaut pada dunia (kebendaan), dan kamu takut menghadapi maut atau jihad dan perjuangan.

Saudaraku,

Sejak bulan syawal ini kita wajib merawat fitrah dengan cara selalu menjaga imannya, meningkatkan semangat menuntut ilmu dan ketrampilan. Dengan begitu kita akan jadi manusia yang terhormat dan disegani, bagaikan masyarakat lebah mampu menghasilkan madu untuk obat dan minuman.

Mereka punya senjata tapi tidak pernah mengganggu, mereka dapat dijadikan sahabat yang saling membantu, mereka tidak pernah merusak walau ranting dan dahan kayu. Lebah sangat terampil, lebah sangat pembersih, lebah sangat tertib dan tahu diri, lebah juga menghormati pemimpin dan yang dipimpin. (Q.S An-Nahl:68)

Baca juga  Hari-hari Besar Nasional dan Internasional yang Jarang Diketahui Orang

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.

Saudaraku Kaum Muslimin

Kita harus menjaga kebersamaan ini dengan baik, dan terus berupaya untuk menjadikan negeri ini menjadi negeri nadani, begeri yang rakyat dan penguasanya pandai bersyukur dan bersabar, begeri yang beradab, berbudaya, berilmu pengetahuan, dan Negeri yang berakhlakul Karimah.

Oleh karena itu kami mengajak kita semua untuk meningkatkan kebersamaan dan bersatu dalam perbedaan, sehingga ulama, umara, aghniya dan fuqara saling mengingatkan, saling mendengarkan dan saling membantu.

Nabi SAW pernah bersabda,

قوام الدنيا بأربعة أشياء. أولها بعلم العلماء والثانى بعدل الأمراء والثالث بسخاوةالأغنياء والرابع بدعوة الفقراء.

Artinya: “Tegaknya dunia karena empat perkara, pertama dengan ilmu ulama, kedua. dengan keadilan penguasa, ketiga. dengan kemurahan orang kaya, keempat  dengan doa fuqara,”.

Kita tingkatkan pendidikan agama dan  keterampilan anak-anak kita, jadilah kita menjadi teladan yang baik dan benar, sebab saat ini mereka memerlukan keteladanan. Cukup banyak anak terlantar yang putus sekolah, anak yatim yang tidak mampu tapi punya kecerdasan dan cita-cita mulia

Mereka mengharapkan uluran tangan dari kita dan itulah hakikat kebersamaan dan kemanusian yang hakiki. Ketahuilah saudaraku, sumber kehancuran sebuah masyarakat dan bangsa apabila berkhianat pada janji yang pernah di ucapkan maka seseorang itu akan kehilangan cahaya hidup.

Berani melanggar hukum Allah , maka  Allah akan datangkan kekeringan. Perzinahan (LGBT) dibiarkan merajalela, maka akan muncul penyakit berbahaya yang sulit mencari obatnya.

Kebiasaan mengurangi takaran dan timbangan, maka akan menghilangkan keberkahan hidup. Enggan berzakat, maka Allah akan mencabut nikmat dari sisi-sisi yang tidak terduga.

Jagalah sumber makanan dan sumber mencari penghidupan, upayakan supaya benar-benar halal, bukan dari sumber yang subhat, apalagi yang jelas haram. Sebab jika kamu makan yang haram maka akan lemahlah imannya, dan matilah hatinya dari mengingat Allah.

(sumber : republika)


PENDIDIKAN