Catatan Menuju Kemerdekaan Yang Hakiki


Oleh : Nurul Alimah Kasim (Mahasiswa)

“Indonesia saat ini adalah middle income country. Kita semua tahu di dalam pengalaman lebih dari 190 negara di dunia ini, mayoritas mereka berhenti di middle income. Tidak banyak negara di dunia ini, kurang dari 20 yang bisa menembus middle income trap itu,” kata Sri Mulyani dalam webinar CSIS di Jakarta, Rabu (4/8/2021). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indawati menyebutkan empat strategi untuk keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap).

Pertama, Meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) . Hal ini sangat krusial tak akan bisa dicapai tanpa support penuh dari pemerintah, mulai dari kebutuhan primer, sampai hal hal yang menunjang peningkatan kualitas SDM menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

Kedua, Membangun Infrastruktur yang memadai dan berkualitas. Akan tetapi jika berbicara mengenai infrastruktur, sangat sulit untuk mengelolanya tanpa melibatkan pihak swasta, melihat keterbatasan anggaran Negara.

Ketiga, Meningkatkan Birokrasi dan Penyederhanaannya. Dan terakhir, yaitu digitalisasi pada sektor sektor unggulan sebagai langkah untuk transformasi ke ekonomi berbasis digital.

Baca juga  'DIPLOMASI LUNAK' CUKUPKAH UNTUK MEMBELA NEGARA?

Bisakah Indonesia keluar dari Middle Income Trap? Bagaimana jika ‘hijrah’ yang notabene hanya dianggap sebagai tren di kalangan anak muda, justru menjadi tonggak awal kemajuan peradaban? Hal yang sangat menarik untuk kita bahas, dimana saat ini kita berada di bulan Muharram dalam pengkalenderan hijriah.

Bulan Muharram menjadi bulan yang spesial bagi umat muslim. Peristiwa hijrah menjadi titik awal dari peradaban jahiliyah menjadi peradaban islam pada masanya. Berbicara mengenai hijrah, gelombang hijrah sangat luar biasa. Dimulai dari hijrahnya para publik figur didukung oleh kemajuan arus sosial media, hijrah saat ini menjadi tren di kalangan anak muda di Indonesia. Tentu hal ini patut di apresiasi , karena hal ini secara gamblang memperlihatkan bahwa generasi kita sedikit demi sedikit telah semangat dalam mempelajari dan mendalami agama islam. Menandakan kebangkitan kaum muslim yang selama ini ‘tertidur’.

Secara bahasa, hijrah berasal dari kata dasar hajara-yahjuru yang padanannya dalam Bahasa Indonesia adalah memutuskan, meninggalkan. Tak terlepas dari tuntunan Nabi Muhammad SAW, melalui peristiwa hijrah beliau bersama para sahabat dari Mekkah menuju ke Madinah. Sejarah nya tentu telah kita ketahui bersama. Perihal (perintah) berhijrah sendiri tertulis dalam kalam Allah SWT. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah ayat 218).

Baca juga  Megaproyek Islamofobia di Tengah Pandemi

Spirit hijrah sangat dekat dengan spirit kemerdekaan, dan kebetulan beberapa tahun terakhir bulan muharram selalu bertepatan dengan bulan agustus sebagai bulan kemerdekaan. Spirit kemerdekaan sangat kental dengan spirit jihad para santri melawan penjajah. 76 tahun Indonesia merdeka seharusnya waktu yang cukup lama untuk memperjuangkan nasib bangsa . Akan tetapi yang kita lihat justru fakta yang menyayat hati. Pandemi bahkan sampai saat ini, masih menjadi topik utama di negeri kita. Setiap hari ribuan nyawa melayang, bak mimpi buruk. Saat ini , sepertinya merdeka dari virus adalah yang paling penting untuk di utamakan sebelum hal lainnya, kesehatan rakyat adalah tanggung jawab yang besar.

Baca juga  Menyoal RUU Miras

Mengenai hijrah dan kemerdekaan, seharusnya hijrah tidak hanya dikuatkan dan dilaksanakan secara individual, padahal jika hijrah dilakukan secara total dalam skala Negara, maka cita – cita bangsa untuk menjadi Negara maju, dan meraih kemerdekaan dapat diraih seutuhnya. Peningkatan sumber daya manusia, hanya bisa benar benar terwujud dengan islam, melalui pemenuhan kebutuhan masyarakat mulai dari sandang, pangan, dan papan. Sebagai kewajiban mutlak seorang khalifah ( pemimpin). Birokrasi yang sederhana, tidak menyulitkan rakyat tentu saja telah dicontohkan pada zaman rasulullah dan para sahabat.

Maka tidak ada jalan lain untuk meraih kemerdekaan yang hakiki, kecuali dengan kembali kepada aturan islam yang menyeluruh, yaitu hijrah secara total ( kaffah ). Maka akan terwujud baldhatun tayyibatun warobbun ghofur (negeri yang baik dengan Rabb Yang Maha Pengampun). Wallahu’alam


OPINI