Carut Marut PPDB Sistem Zonasi, Islam Beri Solusi


Oleh: Rini Astutik
(Pemerhati Sosial dan Pendidikan)

Carut marut PPDB tahun 2021 kembali menuai kontraversi, pasalnya menurut Ketua Komisi IV DPRD Kota Balikpapan Muhammad Taqwa mengatakan, penerapan sistem zonasi dalam proses PPDB online masih belum didukung oleh ketersediaan fasilitas pendidikan yang merata.

Sehingga pemerintah harus berupaya untuk terus membenahi ketersediaan fasilitas pendidikan yang ada. Mulai dari kebutuhan ruang belajar, ruang kelas dan sekolah.

Sehingga dapat berbanding lurus antara jumlah anak didik dengan jumlah fasilitas yang tersedia. Iapun mengatakan Memang tidak ada kebijakan ataupun sistem yang sempurna, tidak bisa mengakomodir semuanya tapi pasti ada solusi dalamnya. Yang perlu kita garisbawahi adalah bahwa pendidikan ini adalah hak semua anak bangsa. https://balikpapan.prokal.co/read/news/248747-zonasi-ppdb-belum-didukung-sarana-pendidikan

Sementara itu menurut Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kaltim Rusman Yaqub mengatakan terkait mekanisme penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2021, khususnya SMA, SMK dan sederajat, ada beberapa rambu- rambu yang akan dibuat berdasarkan juknis Kepala Dinas Pendidikan Kaltim.

Rusman mengatakan mekanisme teknis penerimaan akan diserahkan kepada masing-masing kabupaten/kota. Beberapa ketentuan bisa diambil, apakah sistem zonasi akan menggunakan jarak rumah dan sekolah, ataupun menggunakan peta. Dan terkait kuota siswa di tiap sekolah,ia menegaskan kuota penerimaan sudah diatur dalam juknis, berapa besaran persentasenya di tiap kategori.

Baca juga  Ironi Hari Ibu, Kesejahteraan Yang Terenggut

“Kuota penerimaannya sudah normatif. Misalnya afirmasi sekian persen, prestasi sekian persen, zonasi sekian persen. Itu sudah baku. Bukan tanpa masalah, PPDB sistem zonasi memberikan ruang masalah nantinya. https://kaltim.suara.com/read/2021/05/30/190259/ppdb-2021-di-kaltim-masih-gunakan-sistem-zonasi

Kebijakan zonasi ini bukan pertama kali dikritisi. Sejak awal diterapkan telah menuai kritikan ditengah-tengah masyarakat. Kritikan dan penolakan selalu muncul tiap tahun, disebabkan karena pelaksanaan setengah hati sistem zonasi.

Kebijakan ini telah menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam memberikan pendidikan yang merata bagi seluruh rakyatnya.

Kebijakan zonasi tidak menjadi solusi atas semrawutnya pendidikan di Indonesia. Justru menciptakan bentuk diskriminasi baru bagi para peserta didik demi memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu. Carut marut dan kekisruhan ini merupakan potret buruk pendidikan yang tidak berkesudahan. Dikarenakan adanya sistem sekulerisme, yang memisahkan agama dari kehidupan, agama dianggap hanya untuk beribadah saja dan dikesampingkan untuk mengatur dan menyelesaikan masalah kehidupan. Sehingga gagal dalam memenuhi pendidikan yang berkualitas dan memadai.

Maka tak heran jika ternyata prestasi akademiklah yang menjadi prioritas. Pada akhirnya, lembaga pendidikan yang ada hanya menjalankan perannya sebagai fasilitator pencetak generasi pragmatis, pengejar nilai dan selembar ijazah ,sebagai modal mencari pekerjaan untuk sekedar mendapatkan gaji bulanan.

Lain halnya dengan Islam. Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan paling mendasar bagi seluruh rakyatnya. Pendidikan adalah hal yang paling penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas hidup suatu bangsa berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pendidikan rakyatnya.

Baca juga  Keputusan Atas Kasus GKI Yasmin dan Standar Ganda Toleransi

“Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat, hendaklah ia menguasai ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), hendaklah ia menguasai ilmu.” (HR. Ahmad). Dalam hadits lain juga dijelaskan “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Karena itu di dalam Islam dikatakan berhasil jika generasi penerusnya bermutu dan berkualitas sehingga dapat menghasilkan sebuah tatanan yang maju dalam segala aspek.Sungguh, hanya Islam yang mampu melahirkan generasi cemerlang baik secara intelektual, spiritual maupun emosional tanpa harus membebani rakyat dengan banyaknya syarat dan ketentuan.

Sebab dalam Islam tidak ada sistem zonasi. Siapapun berhak sekolah dimanapun, karena negara menjamin pemerataan fasilitas sekolah yang berkualitas diseluruh penjuru negeri. Tidak ada sekolah favorit yang kemudian menjadi rebutan, sementara sekolah lain kekurangan murid. Semua sekolah adalah sama. Sama –sama berkualitas baik secara fasilitas, sarana dan prasarana, kurikulum juga tenaga pendidiknya.

Islam betul-betul memahami hakikat pendidikan yang membutuhkan upaya sadar dan tersruktur serta tersistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia.Artinya negara benar-benar hadir untuk menyelenggarakan pendidikan yang merata.

Baca juga  KOMUNIS DAN LGBT DIKAJI, SYARIAT ISLAM DIBUNGKAM

Sistem islam juga menyiapkan para pengajar yang tidak hanya mampu mencerdaskan muridnya dengan ilmu pengetahuan saja, namun juga di bekali dengan adab mulia dan pengokohan Aqidah. Negara juga menjamin segala penyediaan fasilitas yang bagus dan lengkap, bahkan memberikan pelayanan pendidikan secara gratis bagi seluruh lapisan masyarakat.

Tanpa adanya diskriminasi para pembelajarnya dengan batasan agama, ras warna kulit, persoalan zona lokasi. Maka sudah sangat jelas Islam begitu sempurna mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan, dari hulu hingga hilir. Dikarenakan Hak untuk mendapatkan pendidikan bagi setiap anak adalah sama, sebab meraka adalah generasi penerus bangsa yang mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa maju dan memajukan bangsa.

Sehingga tanpa ada kekisruhan dan kerepotan -kerepotan sebagaimana yang dirasakan hari ini Islam mampu memberikan solusi yang efektif dan solutif atas berbagai macam problematika kehidupan khususnya dalam dunia pendidikan. Lalu kenapa kita masih ragu untuk menjadikan Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan kita, padahal sudah sangat jelas Islam adalah sistem yang terbaik yang berperan guna mencetak generasi-generasi khoiru ummah yang mampu memimpin peradaban yang gemilang sejak masa Rasullullah SAW yang sudah diakui oleh dunia berabad-abad lamanya. Wallahu A’lam Bishowabh.


OPINI