Campakkan Demokrasi dan Otoriter atau Perubahan ke Arah Islam, Pilih Mana?


Oleh : Ulfiah

Musibah pandemi covid 19 yang tak kunjung usai telah mengguncang perekonomian. Hilangnya banyak nyawa dan kondisi perpolitikan dunia. Ini terjadi hampir di semua negara. Salah satunya terjadi di Tunisia. Presiden Tunisia, Kais Saied, mengambil alih pemerintahan dengan menerapkan keadaan darurat nasional atas pandemi virus corona dan pemerintahan yang buruk. Dia memberhentikan perdana menteri, membekukan perlemen dan merebut kendali eksekutif. Langkah itupun disambut oleh demostran jalanan dan dicap sebagai kudeta oleh lawan-lawan politiknya. (republika.co.id).

Dan hal ini pula yang membuat penasehat keamanan nasional As, Jake Sullivan, mendesak Presiden Tunisia untuk segera membawa negaranya kembali ke jalur demokrasi, bukan jalur otoriter semacam itu. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah benarkah demokrasi mampu menyelamatkan sebuah negara dari keterpurukan?

Sebagai contoh Indonesia sendiri misalnya, yang saat ini disebut negara yang demokratis, justru mendapatkan peringkat terburuk dalam menangani covid 19 di dunia. Yakni peringkat ke 53 dari 53 negara-negara di dunia. Sebagaimana laporan yang dibuat oleh Bloomberg pada 27 Juli 2021. Ini berarti bahwa Indonesia berada di posisi terbawah dengan skor 40,2 dan turun empat peringkat dari laporan sebelumnya.

Baca juga  Laporan Langsung Orang Mandar di Amerika Serikat (2)

“Kita tahu tidak ada jurus yang jitu untuk menangani Covid-19, semua negara sebenarnya sedang berupaya keras keluar dari situasi ini,” kata Nadia, dikutip dari tayangan Youtube tvOne, Sabtu (31/7/2021).

Buruknya penanganan pandemi covid 19 dalam sistem demokrasi ini membuktikan bahwa demokrasi talah gagal menyelamatkan negara dari keterpurukan. Parahnya, demokrasi kapitalisme dan sosialisme memandang kasus penularan yang sakit dan meninggal karena covid 19 hanya sebagai angka, dan penanggulangan penularan virus ini tidak didasarkan sepenuhnya pada paradigma bahwa warga negara harus dilindungi dengan sungguh-sungguh. Kesehatan rakyat tak menjadi prioritas. Sebaliknya, aspek ekonomi dan politik cenderung lebih diprioritaskan.

Untuk itu jika tidak segera mengambil kebijakan penanganan pandemi yang tepat, bisa- bisa negara terjebak pandemi yang tidak jelas kapan akan berakhir. Kondisi inilah yang terjadi hampir diseluruh dunia,

Pandemi covid 19 ini adalah musibah dunia, setiap pandemi pasti ada masa berlalunya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana caranya kita segera keluar dari masa pandemi ini, dengan meminimalkan korban nyawa. Untuk itu Islam hadir sebagai alternatif solusi untuk menghentikan pandemi covid 19, bukan hanya secara teknis tapi juga secara paradigmatis.

Baca juga  Buka Sekolah Saat Pandemi, Amankah?

Islam mewajibkan melakukan karantina wilayah atau isolasi bagi yg sakit. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kalian mendengar wabah disuatu tempat makan janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi ditempat kalian, sedangkan kamu berada ditempat itu, maka janganlah keluar dari tempat itu.” (HR Muslim).

Di samping itu, Islam pun mewajibkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya selama masa karantina, dan jika diperlukan negara melakukan lockdown. Negara akan memenuhi kebutuhan rakyat, sehingga rakyat tidak perlu khawatir tidak bisa makan selama pandemi. Adapun pendanaannya ini bisa diambil dari pemasukan negara, melalui pengelolaan sumber daya alam atau pungutan lainya yang tentunya dibolehkan oleh syariah.

Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, juga mengalakkan vaksinasi secara menyeluruh untuk rakyat dengan terus melakukan penelitian terhadap virus, ini adalah bentuk ikhtiar kita dalam menghadapi pandemi.

Semua solusi ini dilandasi paradigma Islam, bahwa setiap nyawa rakyat harus dilindungi dan juga pemimpin itu adalah pelayan bagi rakyat, yang harus bersungguh-sungguh mengurusi ummat. Karena sadar itu adalah amanah yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Baca juga  Carut Marut PPDB Sistem Zonasi, Islam Beri Solusi

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW, “bahwa iman (khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)

Tanggung jawab kepemimpinan dalam pandangan Islam sangatlah berat. Karena apa yang dilakukan seorang pemimpin dalam kepemimpinannya akan berimplikasi pada kehidupannya di akhirat kelak. Sistem yang baik akan melahirkan kepemimpinan yang baik.

Karena sistem yang buruk, dipastikan akan melahirkan kepemimpinan yang buruk. Dan kebaikan yang dimaksud standarnya adalah hukum syariat. Karena baik dan berkah adalah dampak penerapan hukum syara’.

Untuk itu sudah saatnya kita membuka mata hati kita untuk mencampakkan sistem rusak demokrasi kapitalis dan sosialis ini. Kemudian memilih perubahan ke arah Islam dengan menerima dan menerapkan Islam secara kaffah. Sebab, hanya dengan penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, segala persoalan umat, termasuk pandemi ini, akan mampu diatasi dengan maksimal tanpa mengorbankan kepentingan rakyat.

Wallahu A’lam.


OPINI