Campakkan Demokrasi Atau Otoriter! Pilih Perubahan ke Arah Islam


Oleh: Yozii Asy Syarifah

Sudah satu setengah tahun pandemi Covid-19 tak juga mereda. Tak hanya Indonesia yang masih berjuang untuk menangani pademi ini. Termasuk negara Inggris dan Australia yang masih berjuang hingga saat ini, dan bahkan Sidney kembali melakukan lockdown.
Indonesia sendiri setiap hari mengalami penambahan kasus seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia pada tanggal 05/08/2021. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mencatat jumlah kematian karena Covid-19 mencapai 35.274 kasus sepanjang Juli 2021. Jumlah ini naik 348 persen dibandingkan Juni 2021. Bahkan, kenaikan ini tercatat paling drastis selama Covid-19 mewabah di Indonesia.

Dengan kasus yang tak kunjung mereda masyarakat beranggapan bahwa pemerintah tak mampu menyelesaikan pandemi dan ini menyebabkan gelombang protes. Namun sayangnya langkah yang diambil masih berkutat dalam sistem demokrasi.seperti yang dilakukan Tunisia.

Dilansir republika.co.id Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan mendesak presiden Tunisia pada Sabtu (31/7) untuk segera membawa negaranya kembali ke “jalur demokrasi” setelah mengambil alih kekuasaan pemerintah pada Ahad lalu (25/7).

Baca juga  Majene Kota Tua

Presiden Tunisia Kais Saied menerapkan keadaan darurat nasional atas pandemi virus corona dan pemerintahan yang buruk dengan memberhentikan perdana menteri, membekukan parlemen, dan merebut kendali eksekutif. Langkah itu disambut oleh demonstran jalanan dan dicap sebagai kudeta oleh lawan-lawan politiknya.

Tindakan diatas pastinya tidak dapat diambil sebagai langkah yang paling tepat untuk menyelesaikan pandemi. Harusnya hari ini kaum muslimin belajar dari sejarah peradaban Islam. Bagaimana Islam menyelesaikan pandemi dengan baik. Yah, didalam sistem pemerintahan Islam juga pernah mengalami pandemi/wabah dan ini menyadarkan kita bahwa pandemi bisa terjadi dizaman kapanpun dan itu atas kehendak Allah SWT.
Karenanya sikap yang pertama yang diambil adalah ridho terhadap keputusan Allah. Kedua menjadikan kita untuk instropeksi, karena walaupun kita yakin bahwa pandemi adalah kehendak Allah, tetapi kadang wabah itu atau suatu kejadian justru disebabkan oleh kesalahan atau dosa manusia.

Baca juga  Islam Menjadi Inspirasi, Aspirasi dan Solusi

Ketiga, saat ada wabah kita harus berikhtiar untuk mengatasi dengan memperhatikan kaidah syariahh dan kaidah kausalitas.

Dari sisi negara dan pemimpin yang memiliki peran yang paling penting yang mengacu pada syariat Islam yaitu dengan menentukan tes dan tracing dengan cepat, dengan begitu dapat diketahui mana yang terinfeksi dan mana yang tidak. Pusat wabah harus ditentukan dengan cepat dan dijaga dengan ketat agar wabah tidak meluas. Saat ada wabah disuatu daerah tertentu maka daerah tersebut diisolasi agar tidak menyebar sebagaiman yang disampaikan oleh Rasulullah SAW saat ada wabah.”jika kalian mendengar wabah terjadi si suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayahh itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi ditempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu.” (HR. al-Bukhari).

Baca juga  Indonesia-China Makin Mesra, Rakyat Makin Merana?

Tentunya yang mempunyai peran penting dalam isolasi daerah tersebut adalah negara. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok hidup masyarakat yang berada didaerah isolasi karena masyarakat tidak boleh keluar untuk mencari nafkah.

Dan merawat, mengobati dan melayani orang-orang sakit di daerah wabah agar meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang dapat membahayakan si penderita. Menjaga wilayah lain yang tidak masuk zona tetap produktif agar sistem ekonomi tetap baik. Meningkatkan sistem kesehatan seperti fasilitas, obat-obatan, SDM dan lain-lain, dengan mendorong para ilmuan untuk menemukan obat/vaksin dengan cepat dan pastinya dilakukan secara gratis.

Saatnya kita menerapkan syariat Islam dalam kehidupan agar kita mampu menyelesaikan wabah ini dengan baik.
Wallahu’alam