Terbaik terbaik

Dibaca : 37 kali.

Bunuh Diri Remaja (Lagi), Bukti Generasi Semakin Rapuh


Oleh: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter dan Penulis Buku Antologi)

Kematian dikarenakan wabah covid-19 sudah begitu menyesakkan dada. Keluarga yang kehilangan ditinggal dengan kesedihan mendalam. Dengan perlakuan jenazah berdasarkan SOP yang sangat ketat, keluarga tak dapat memperlakukan jenazah sebagaimana mestinya di saat keadaan normal. Keluarga korban harus pun menerimanya dengan ikhlas dan sabar.

Apalagi kematian yang diakibatkan karena bunuh diri, membuat hati pilu. Telah dikabarkan kematian seorang remaja berinisial WN (16), seorang warga Desa Pappang, Kec. Campalagian, Kab. Polman, Sulawesi Barat, yang ditemukan tewas gantung diri di kamarnya, pada hari Kamis (07/05/2020). Tentu saja ini menyisakan kesedihan pada keluarganya. Apalagi keluarga tak pernah menyangka anaknya akan mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Diduga korban nekat bunuh diri lantaran persoalan asrama. Seketika warga Desa Pappang dibuat gempa dengan kejadian ini. Tak ada yang menyangka anak yang terkenal periang dan selalu ceria nekat memilih bunuh diri sebagai jalan untuk mengakhiri hidupnya. Terlebih keluarga tak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan sebelum korban bunuh diri.

Sebagaimana dilansir dari makassar.tribunnews.com, “Dia ini pintar bergaul dan ceria, makanya kami kaget, tidak menyangka kalau akan bunuh diri,” ucap saudara almarhum, Puja, kepada wartawan ditemui di kediamannya di Desa Pappang, Kamis (7/5/2020).
Namun, fakta lain pun terungkap. Di duga korban nekat bunuh diri karena depresi akibat pengaruh obat-obatan. Bahkan, warga kerap mendapati korban menghisap lem fox dan mengonsumsi obat-obatan seperti triexoenidine dan tramadol. (makassar.tribunnews.com, 07/05/2020).

Baca juga  PENGHINAAN TERHADAP NABI MUHAMMAD SAW KEMBALI TERJADI, KAUM MUSLIM BUTUH KHILAFAH

Kasus ini kembali menambah daftar panjang angka kematian remaja dengan bunuh diri. Tentu saja, hal ini membutuhkan perhatian serius. Mencegah agar kasus seperti ini tak lagi terulang. Jika tidak, angkanya akan semakin tumbuh subur dari tahun ke tahun.

Solusi yang Tak Solutif
Menurut WHO, di seluruh dunia satu orang bunuh diri di setiap 40 detik dan lebih banyak orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun daripada dalam perang. Bunuh diri merupakan tindakan mengakhiri hidup dengan sengaja yang dilakukan oleh seseorang karena sesuatu alasan tertentu.

Caranya bermacam-macam. Seperti menggantung diri, meminum racun, menjatuhkan diri dari ketinggian, memutus urat nadi, dll. Penyebabnya pun beragam, yang terbanyak adalah depresi dan gangguan bipolar serta gangguan mental. Selain itu, faktor persaingan hidup yang kuat, ekonomi dan sosial yang bisa menimbulkan stress dan depresi.
Maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja, menunjukkan bahwa begitu rapuhnya mental generasi saat ini dalam menghadapi kehidupan. Persoalan asmara yang membuatnya putus asa ataupun pelampiasan diri ke penggunaaan obat-obat terlarang adalah solusi sesaat yang tak memecahkan masalah. Justru sebaliknya, menambah masalah baru. Berujung pada depresi karena tak kuat menghadapinya, hingga memilih mengakhiri hidup. Ini adalah solusi yang tak solutif.

Sekularisme -pemisahan agama dari kehidupan- yang lahir dari penerapan sistem kapitalisme saat ini, telah berhasil membuat generasi jauh dari nilai-nilai Islam. Keimanan semakin lemah dan rapuh, budi pekerti dan kepribadian Islam tak terbentuk. Sehingga tak ada rasa takut sama sekali ketika mereka berbuat maksiat. Maka, tak heran jika generasi saat ini berprilaku serba bebas. Ada yang masih bocah sudah mengenal gaul bebas, pacaran sudah menjadi hal yang wajib hingga berprilaku layaknya orang dewasa. Bertindak semaunya. Ketika punya masalah bingung cara penyelesaiannya. Hingga, banyak yang rela memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena tak sanggup menahan malu atau beban psikologis.

Baca juga  Tunjangan Guru Dihapus, Jaminan Kesejahteraan Terabaikan

Disamping itu, sistem pendidikan yang ada saat ini hanya terfokus pada kemajuan sains dan teknologi. Penguasaan sains dan teknologi adalah hal yang penting. Melahirkan generasi yang menguasai sainstek melalui pendidikan umum, bisa diwujudkan namun tak mampu membentuk budi pekerti dan kepribadian Islam peserta didik serta penguasaan tsaqafah Islam. Akhirnya, out put dari pendidikan ini adalah generasi yang buta agama dengan kepribadian yang rapuh.

Pembentukan Karakter dalam Islam
Berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Islam memandang bahwa penyelenggaraan pendidikan adalah kewajiban negara dan negara wajib memfasilitasi pendidikan secara gratis untuk rakyatnya.

Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk karakter yang berkepribadian Islam. Yaitu mewujudkan pola pikir dan pola sikap yang islami, sesuai fitrah manusia. Ditanamkan sejak kecil melalui penguasaan tsaqafah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi berikut ilmu terapan tepat guna yang akan akan diberikan kepada peserta didik.

Dalam sirah Nabi SAW, sebagaimana yang digambarkan oleh Al Baghdadi (1996) terkait bagaimana peran negara Islam dalam menyediakan fasilitas pendidikan untuk rakyatnya, diantaranya: memberikan pelayanan pendidikan secara gratis, cuma-cuma, tak dipungut biaya. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan fasilitas sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan.

Baca juga  Kesejahteraan Guru Honorer yang Tak Kunjung Terwujud

Sistem pendidikan bebas biaya pun dilakukan oleh para sahabat (ijma), termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul mal. Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Munthasir di Kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar satu dinar (4.25 gram emas). Kehidupan kesehatan mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan permandian tersedia lengkap disana.
Jadi, tak mengherankan jika dalam sistem pendidikan Islam mampu melahirkan generasi yang tak hanya cerdas dalam agama tapi juga unggul dalam berbagai disiplin ilmu, termasuk sains dan teknologi. Sukses dunia, akhirat pun demikian. Sebut saja; Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali yang ahli dalam bidang fiqh, Imam Bukhari dan Imam Muslim yang ahli dalam bidang Hadist, Al Battani seorang ahli astronomi, Ibnu Sina seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, Ibnu Batutah adalah seorang pengembara sekaligus ahli geografi, Al Khawarizmi adalah seorang ahli matematika dan masih banyak lagi, yang tak mampu disebut satu per satu. Wallahu a’lam.