Dibaca : 37 kali.

Bom Bunuh Diri Katedral Makassar


Oleh : Annida Indah Khofiyah
(Siswa SMKN 2 Majene)

Bismillahirrohmaanirrohiim…..
Pada 28 Maret 2021, telah terjadi ledakan bom yang diduga merupakan bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan. Akibat aksi pelaku bom bunuh diri tersebut setidaknya ada 14 orang korban mengalami luka-luka akibat terkena serpihan bom. Diduga pelaku merupakan salah satu anggota Jamaah Anshor Daulah (JAD) yang menggunakan bom berdaya ledak tinggi atau bom jenis explosive high untuk meledakkan gereja katedral makassar. Kapolri menyebutkan aksi pelaku bom bunuh diri yg tewas sebanyak 2 orang yg terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan.

Lebih lanjut, ketua umum pimpinan pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa masyarakat hendaknya tetap waspada dan agar tidak mengaitkan tindakan aksi pengeboman tersebut dengan agama dan golongan umat beragama tertentu. Bisa saja aksi bom di gereja katedal makassar ini menjadi adu domba kepada rakyat Indonesia. Bisa jadi tindakan bom tersebut merupakan suatu bentuk adu domba, memancing di air keruh, dan wujud dari perbuatan teror yang tidak bertemali dengan aspek keagamaan.

Baca juga  Ramadhan Momentum Tobat Kolektif

Semenjak terjadinya kasus bom bali, pada 12 oktober 2002, insiden bom bunuh diri sering berulang, belum reda lagi kasus pengadilan Imam Samudera dan kawan-kawan yang mengaku sebagai anggota Jamaah Isalmiyah (JI) dan keterlibatan mereka dalam kasus bom Bali meletus lagi kasus Bom Marriot. Dari kedua insiden bom tersebut melekatlah stigmatisasi istilah terorisme pada paham Islam Militan, Islam fundamentalis, dan paham Islam radikalis mencuat ke publik. Melalui media, pelaku selalu di identikkan dengan simbol ke Islaman seperti cadar, keluarga aktivis, penggemar ajaran islam radikal, fundamental, militan dan sebagainya. Ditambah lagi dengan banyaknya kemunculan kasu serupa seperti seperti bom tamrin, kerusuhan di mapo brimob, peledakan gereja dan markas kepolisian di Surabaya dan baru-baru ini bom di gereja katedral makassar selalu difrasakan dengan runtutan aksi terorisme .

Tentu saja kasus bom bunuh diri yang selalu berulang ini menjadi sebuah pengingat dan seolah justifikasi bahwasanya aksi terorisme merupakan masalah besar bagi bangsa dan dunia hari ini. Jika memang masalah besar, seharusnya penguasa memberantasnya secar tuntas sehingga kasus bom bunuh diri tidak berulang.

Baca juga  Garda Terdepan Berguguran, Berikan Solusi Terbaik

Kemudian tindakan Densus 88 yang melanggar hukum yang seharusnya menerapkan prinsip keadilan,keterbukaan, berdasarkan bukti yang kuat dan menghormati hak asasi para pelaku yang masih terduga belum terbukti bersalah. Buktinyak banyak korban extra judicial killing yakni pembunhan tanpa proses pengadilan terhadap orang-orang yang baru diduga melakukan tindakan terorisme. Namun tindakan Densus 88 tersebut alih-alih menghentikan kasus terorisme, malah menimbulkan kecurigaan terhadap orang-orang yang terlihat Islamis.

Sebagai contoh pemahaman orang-orang muslim yang ingin menerapkan sistem Islam di bawah naungan khilafah malah dilarang dianggap radikal dan sebagainya, dianggap sebagai pemecah belah umat beragama dan dan umat beragama tertentu juga pemecah belah NKRI dan mengarahkan opini demi kepentingan politik tertentu, sebab hal itu akan menjadi stigma bagi orang orang yang mempelajari dan menyebarkan ide ajaran Islam sebagai pihak yang telah menimbulkan kerusuhan dari kalangan kaum muslim.

Baca juga  Islam dan Mahasiswa dalam Membawa Perubahan Bangsa

Padahal sistem Islam adalah sistem yang diajarkan oleh Rasulullah yang datang dari Alloh swt, yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam menerapkan sistem Islam tersebut. Ajaran sistem Islam tersebut juga merupakan warisan dari Rasulullah yang terbukti mampu menjadi solusi atas semua problematika umat sebab syariat Islam diturunkan sebagai sebuah sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia dari ia bangun tidur sampai tidur lagi, kehidupan ekonomi,kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara.

Oleh karena itu,sebagai umat muslim dan tentunya para aktivis dakwah, marilah kita bersama-sama berada di satu jalur, berada di satu barisan yakni barisan para penegak sistem syariat Islam. Marilah bersama-sama kita berjuang memahamkan kepada masyarakat bahwa hanya sistem Islam lah yang mampu menjadi solusi atas segala permasalahan. agar mayoritas masyarakat paham akan sistem Islam dan mampu menerapkan kembali sistem Islam yang pernah berjaya menguasai 2/3 dunia selama kurang lebih 3 abad lamanya sebelum ditumbangkan oleh manusia laknatullah Mustafa Kemal Attaturk. Wallohualambisshowwab