Blok Wabu Jadi Incaran para Kapitalis, Rakyat Kembali Gigit Jari


Oleh : Ulfiah

Blok WABU merupakan blok tambang emas atau kawasan yang pernah dipakai Freeport untuk menambang emas. Blok Wabu yang berada di Intan Jaya, Papua, diduga memiliki potensi kandungan emas yang lebih besar dari Tambang Grasberg, Freeport Indonesia.

Blok ini disebut-sebut menjadi rebutan para pengusaha setelah dikembalikan Freeport Indonesia ke pemerintah sebelum 2018. MIND ID dan PT Aneka Tambang Tbk menyatakan siap untuk mengelola blok tersebut. Dan Sebagai anak perusahaan MIND ID, PT Antam berkomitmen menggandeng Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bila dipercaya mengelola Blok Wabu tersebut.

Holding perusahaan tambang Mining and Industry Indonesia atau MIND ID jg pernah menyampaikan wilayah tambang terbuka tersebut memiliki potensi emas yang diperkirakan mencapai 8,1 juta ounces. Dalam kesempatan lain, MIND ID juga menyampaikan bahwa hasil penghitungan sumber daya pada 1999 untuk kategori measured, indicated, dan inferred terdapat sekitar 117,26 juta ton dengan average 2,16 gram per ton emas.(economy.okezone.com/read/)

Dengan dikembalikannya PT. Freeport Indonesia ke pemerintah secara resmi, saat penandatanganan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 21 September 2018, yang disinyalir jatuh ketangan swasta. Blok Wabu dengan potensi sumber daya sebanyak 8,1 juta troy ounce tersebut sudah bukan lagi wilayah Freeport. Sehingga dengan potensi emas yang demikian besarnya itu, wajar saja Blok Wabu menjadi incaran para korporasi. Bagai gadis perawan yang belum terjamah, semua berebutan ingin memilikinya. Siapa pun yang membaca potensi gunung emas ini pasti terpesona dan tergoda untuk memilikinya.

Baca juga  Tenaga Kesehatan dalam Elegi

Fakta Blok Wabu yang berpotensi hasilkan emas ini dan sedang menjadi incaran banyak pengusaha, seharusnya menyadarkan kita bahwa pengelolaan oleh swasta sebagaimana yang terjadi pada Freeport, bagaikan mata rantai yang saling menguntungkan. Inilah bentuk nyata kapitalisasi tambang.

Sehingga berkuasanya Freeport selama puluhan tahun mengeksploitasi tambang emas di Papua itu cukuplah menjadi bukti nyata begitu kuatnya aroma kapitalisasi tambang. Dimana semua ini bermula dari liberalisasi ekonomi di segala lini yang menjadi konspirasi antara penguasa dan pengusaha atas nama kerja sama. Padahal negara hanya bertindak sebagai regulator dan fasilitator dengan ketok palu UU dan kebijakan yang lebih memihak kepentingan kapitalis.

Oleh karenanya dengan kekuasaan itu mereka lebih leluasa memegang kendali atas nama kebebasan kepemilikan. Dan penguasa belum tentu berkuasa sepenuhnya, namun pengusaha bisa jadi penguasa yang sesungguhnya. Sehingga dengan kebebasan kepemilikan ini sangat berdampak pada masyarakat. Misalnya saja satu wilayah memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi tidak menjadikan masyarakat disitu hidup sejahtera, bahkan sekedar mencari sesuap nasi pun susah.

Baca juga  SARJANA JADI INTELEKTUAL ATAU PEKERJA?

Padahal sumber daya alam merupakan kepemilikan umum, dimana semua rakyat berhak atas kekayaan itu. Namun tidak demikian didalam sistem ini, yang kuat akan menang dan yang bermodal akan menguasai. Dan rakyat hanya bisa gigit jari menonton keserakahan ini.

Berbeda halnya dengan sistem ekonomi Islam. Kekayaan alam adalah bagian harta milik umum, sehingga tidak boleh dikuasai oleh swasta atau diprivatisasi. Bahkan, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan harta milik umum kepada individu, swasta, ataupun asing. Dan kepemilikan bersama ini juga membatasi bahwa kepemilikannya tidak ditangan pemerintah atau negara saja tapi ditangan rakyat. Hanya saja negara berkewajiban mengelola dan hasilnya dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyat secara umum.

Pengelolaan kepemilikan umum ini merujuk pada sabda Nabi saw., “Kaum muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah).

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis dari penuturan Abyadh bin Hammal. Dalam hadis tersebut diceritakan bahwa Abyad pernah meminta kepada Rasul saw. untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul saw. lalu meluluskan permintaan itu. Namun, beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda apa yang telah Anda berikan kepada dia? Sungguh Anda telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (mâu al-iddu).” Rasul saw. kemudian bersabda, “Ambil kembali tambang tersebut dari dia.”

Baca juga  Penulis, Lowongan Sepanjang Masa

Dalam Islam, tambang yang jumlahnya besar, baik garam ataupun selain garam, seperti batu bara, emas, perak, gas, besi dan lainnya semuanya itu terkategori milik umum, sebagaimana dijelaskan hadits diatas. Sehingga pengelolaan tambang emas seperti Freeport dan Blok Wabu itu tidak seharusnya dilelang atau diperjualbelikan layaknya barang pribadi.

Bisa dibayangkan bila tambang emas Freeport dan Blok Wabu dikelola berdasarkan pedoman syariat Islam, maka itu sudah cukup memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya Papua. Bahkan bisa pula membayar hutang Indonesia yang membengkak.

Dan itu baru satu gunung emas. Belum kekayaan alam lainnya, seperti hutan, laut dan tambang lainnya. Maka alangkah luar biasanya bila negeri ini benar-benar menerapkan syariat-Nya secara kaffah dalam sebuah institusi negara.

Namun selama negeri ini masih menerapkan sistem kapitalis ini, maka ekonomi kapitalis akan tetap bercokol di negeri ini. Dan kepemilikan sumber daya alam akan selalu ditangan para pemilik modal. Dengan demikian, rakyat tetaplah menjadi korban keserakahan. Untuk itu sudah saantnyalah menggantikan sistem pengelolaan kapitalis ini dengan pengelolaan Islam yang akan mengembalikan hak rakyat dan menghantarkan ridho ilahi. Wallahu a’lam.