Terbaik terbaik

BERANI TAMPIL BEDA TANPA LOCKDOWN


Oleh : HAMZINAH

Dunia mengalami bencana, bermula dari Wuhan China muncul virus corona atau Covid-19 akibatnya puluhan juta warga di beberapa negara memberlakukan lockdown diantaranya China, Italia, Malaysia, Fhilipina, Spanyol, Prancis dan yang lainnya. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Menko Polhukam, Mahfud MD menyatakan isolasi penuh atau lockdown (penguncian wilayah) pada masa wabah Covid-19 adalah kebijakan yang tidak efektif. Dia mencontohkan seperti di Italia yang tetap berjatuhan korban meskipun sudah melakukan lockdown, sehingga lockdown itu pun di samping juga agak kurang manusiawi, itu ternyata tidak efektif di Italia. Kata Mahfud MD dalam konferensi pers, senin 23/3/2020 (WartaEkonomi.co.id).

Indonesia saat ini menerapkan pembatasan jarak atau social distancing sebagai langkah untuk mencegah penularan virus Covid-19 ini. Sampai tanggal 24 Maret 2020 jumlah terkonfirmasi kasus virus Covid-19 sebanyak 686 orang, sembuh 30 orang dan 55 orang meninggal dunia. Desakan untuk melakukan lockdown untuk menekan angka penularan Covid-19 datang dari berbagai pihak, termasuk mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selain itu, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan lockdown didaerah yang telah terjangkit Covid-19. (tirto.id).

Baca juga  Rakyat Semakin Menjerit, Butuh Solusi Tuntas

Karantina wilayah atau lockdown pun ada aturannya dalan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Lantas mengapa Indonesia tidak melakukan lockdown?. Salah satu alasan Pemerintah tidak melakukan lockdown hingga saat ini karena faktor ekonomi, lockdown dirasa akan merugikan kinerja perekonomian. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Tim Pakar Gugus Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito di kantor BNPB Jakarta (Rabu, 18/3/2020).

Melihat fakta tersebut, ini akibat dari diterapkannya sistem kapitalis-sekuler yang menjadikan materi sebagai tujuan utama, sehingga persolan seperti wabah Covid-19 yang mengancam nyawa rakyat menjadi tidak penting. Sejatinya negara dan penguasa mempunyai peran besar dalam melindungi dan menjaga keselamatan rakyatnya karena semua itu adalah tanggung jawabnya.

Pada masa Khilafah pernah terjadi wabah pandemi atau Tha’un saat kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab ra, beliau menerapkan hadits Rasulullah SAW “Jika kalian mendengar wabah pada suatu wilayah maka janganlah kalian memasukinya, sebaliknya jika kalian berada pada wilayah yang terjadi wabah maka jangan kalian tinggalkan wilayah tersebut”. Atas dasar hadits tersebut keputusan yang diambil oleh Khalifah Umar bin Khattab ra adalah memisahkan interaksi antara daerah yang terjadi wabah dengan daerah yang belum, ini seperti kebijakan lockdown yang dilakukan oleh China, Prancis, Malaysia, dan negara-negara yang lainnya.

Baca juga  Manisnya Lobster

Dalam kondisi yang genting saat ini, hal yang penting dimiliki oleh sebuah negara adalah kemampuan pemimpinnya sebagai negarawan yang dipadukan dengan sistem pemerintahan mandiri yang memiliki ketahanan keamanan, ekonomi, dan politik, maka ketika sebuah negara memutuskan untuk lockdown jelas telah memiliki kedaulatan dan ketahanan dalam menghadapi goncangan. Negara Khilafah memiliki anggaran berbasis baitul mal yang bersifat mutlak. Baitul mal adalah kas negara, pengelolaan semua harta yang diterima dan dikeluarkan negara sesuai ketentuan syariat. Negara mempunyai otoritas terhadap berbagai sumber kekayaan alam yang melimpah yang wajib dikelola oleh negara untuk dikembalikan manfaatnya kepada umat. Sehingga negara memiliki kemampuan finansial memadai untuk pelaksanaan berbagai fungsi pentingnya termasuk menyelesaikan wabah.

Baca juga  Pandangan Nyeleneh ‘Haid Boleh Puasa’, Dimana Peran Negara Menjaga Syariat?

Rakyatnya siap berkorban ketika negara tidak mampu mencukupi kebutuhan rakyat saat kas Baitul mal kosong. Inilah yang dimiliki oleh sistem Khilafah Islamiyah tanpa utang luar negeri, tanpa bantuan negara kafir penjajah. Khilafah memiliki rakyat yang tangguh, umat dalam Khilafah memiliki pemahaman standarisasi dan keyakinan yang sama dengan negara. Inilah yang pernah terjadi di saat sistem Khilafah ditegakkan, wabah yang terjadi dapat diatasi karena adanya peran aktif dan serius dari negara, sekaligus didukung oleh rakyat yang mentaati arahan dari pemimpinnya. Sungguh kita amat merindukan kepemimpinan Khilafah Islamiyah yang telah lama membuktikan dirinya sebagai pelindung dan penjaga rakyat. Wallahu a’lam bi ash showwab.