Terbaik terbaik

Benarkah Agama Mengakui Sistem Politik Manapun?


Oleh: Sri Lestari (Mahasiswi)

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam (Q.S. Al-Baqarah/2:256). Perbedaan agama di Indonesia bahkan di dunia acap kali masih menjadi penghalang bagi terwujudnya kehidupan yang toleran, harmoni, jauh dari prasangka dan tindakan kekerasan. Menjadi hal yang perlu direnungi, tidak mungkin kita mengatakan Agama sumber dari perpecahan.

Semua yang berfikir cemerlang akan memahami bahwa pentingnya beragama dalam kehidupan. Bukan hanya mengharapkan kebaikan hidup di dunia tapi juga kehidupan setelah kematian (akhirat). Kehidupan akhirat, semuanya tahu, ada surga dan ada neraka.

Agama berfungsi sebagai kontrol, rambu-rambu, pegangan dan petunjuk dalam menapaki kehidupan di era global yang serba tidak pasti. Oleh sebab itu mengapa manusia harus beragama? yakni disamping sebagai fitrah, identitas, kewajiban, keturunan, karena konversi dan karena kebutuhan. http://nurkudri.lecture.ub.ac.id/2012/04/urgensi-agama/

Mari kita kerucutkan dari elemen diatas (ada 6), menjadi 2 kebutuhan yang tentunya sama konteksnya yakni kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Namun untuk lebih mengkomplekskannya, di dalam Islam di uraikan lagi menjadi 3 pemenuhan naluri. Naluri beragama (gharizatun tadayyun), naluri mempertahankan eksistensi diri (gharizaun baqa), naluri kasih sayang dan mencintai (gharizatun nau).

Baca juga  Bunuh Diri Remaja (Lagi), Bukti Generasi Semakin Rapuh

Kita anggap kebutuhan beraga sudah selesai dan sebagai sampel Agama Islam. Kita yakin agama itu turun lengkap dengan aturannya yang pembuat aturan itu sendiri adalah Allah S.W.T. Kita sudah bertuhan, sehingga takut, benci, dan bahagianya kita sudah ada syaratnya. Kapan kita takut, kapan kita tidak boleh takut dan kapan harus berani dan serusnya.

Allah S.W.T menyuruh kita taat, agar segala kebutuhan (3 naluri) tadi terpenuhi dengan benar. Dan tidak ada taat yang berlebihan atau bahasa moderennya fanatik beragama. Label ini sering disematkan buat seorang yang terus memperbaiki diri semakin taat pada tuhannya, sedang tidak ada yang salah.

Taat perwujudannya yakni aturan yang mengikat, mau tidak mau umat harus belajar menerima. Poin yang ditekankan salah satunya ialah politik berbasis Islam. Indonesia mayoritas Islam. Mayoritas seharusnya menjadi pemimpin terlebih memang tuntutan bahwa umat Islam harus dipimpin oleh dari kaumnya (agama Islam).

Baca juga  SISTEM SEKULER LAHIRKAN GENERASI KEBLINGER

Berbicara politik Islam, Benarkah agama mengakui sistem politik manapun”? Sekarang jika saya ditanya samakah aturan hidup agama Islam dengan agama lain, tentu jawabannya tidak. Lalu mengapa ada tokoh yang memberi pernyataan yang kita orang awan tahu, semua agama itu beda. Begini pernyataannya agama, khususnya Islam, dapat menerima sistem politik dan pemerintahan apapun, termasuk demokrasi (17/4/2021).

Dilanjutkan bahwa “Agama itu peraturan, norma, dan prinsipnya, datang vertikal, dari Tuhan. Pedoman hidup manusia. Wahyu Tuhan yang wajib di ikuti sesuai keyakinan. Sementara demokrasi hanya model dan sistem di dalam bernegara. Normanya lahir secara horizontal,. Meski berbeda sumbernya, agama bisa menerima sistem politik dan sistem bernegara jenis apapun. Baik demokrasi, kerajaan, monarki, otokrasi, teokrasi, dan sistem apapun saja. Dikutip dari Tribunnews.com/nasional/2021/04/18.

Sebentar, pertama kata khususnya Islam menjadi hal yang menggambarkan ia tidak paham Islam. Baik, cari defenisi kata paham. Defenisi paham adalah pandai dan mengerti benar (tentang suatu hal). Yang mengerti, maksudnya paham Islam tentu Ulama atau dibawahnya, seperti Mentri Agama, sedang yang mengungkapkan argumen diatas adalah tidak lain adalah Menko Polhukam Mahfud MD, apakah tepat?

Baca juga  Pelaksanaan Pilkada Serentak Mengancam Jiwa Rakyat

Lagi, sejauh ini tidak ada ulama yang mengatakan bahwa semua agama sama, serta Islam bisa menerima paham dari luar. Pernyataan itu menampakkan kehipokrisan konsep. Konsep ini tentu menyesatkan. Jika agama menerima sistem politik apapun, mengapa tidak menguji kelayakan sistem Islam ( dalam bingkai khilafah)? Mengapa justru alergi dan terus menyerang serta menyesatkan informasi tentang sistem Islam?

Inilah ironi, hidup dalam sistem sekuler kapitalisme, banyak aturan yang diterapkan yang tidak sesuai dengan Syariah Islam, bahkan menjadikan aturan buatan manusia sebagai hukum tertinggi, umat Islam yang menginginkan Syariah Islam justru di anggap musuh yang harus dibasmi kapanpun dan dimanapun. Semoga pertolongan Allah segera terwujud agar seluruh hukum-hukum Allah dapat ditegakkan secara sempurna di muka bumi ini. Wallohualam bissowab