Baha’i dan Arus Kebebasan Beragama


Oleh: Djumriah Lina Johan
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Staf Khusus Menteri Agama, Ishfah Abidal Aziz menyebut bahwa langkah Menag Yaqut Cholil Qoumas yang mengucapkan selamat Hari Raya Naw Ruz kepada masyarakat Baha’i sudah berdasarkan aturan perundang-undangan yang berlaku.
Hal itu ia sampaikan untuk merespons pernyataan Ketua MUI Cholil Nafis yang mengingatkan pemerintah jangan offside soal agama Baha’i.

“Dalam hal Menag menyampaikan ucapan selamat Hari Raya bagi umat Baha’i beliau merupakan bagian dari negara. Jadi bagian tugas negara. Offside-nya di mana?” kata Ishfah kepada CNNIndonesia.com, Kamis (29/7).

Ishfah lantas mengutip Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama (PNPS) yang menyebut bahwa terdapat 6 agama yang diakui di Indonesia.

Agama tersebut yakni Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Budha, dan Hindu yang banyak dianut masyarakat di Indonesia.

Meski demikian, kata Ishfah, tidak berarti selain enam agama tersebut dilarang di Indonesia. Agama-agama ini tetap diizinkan selagi tidak bertentangan dengan peraturan perundangan.

Sebelumnya, sempat beredar viral video ucapan selamat Hari Raya Naw Ruz terhadap masyarakat Baha’i oleh Yaqut di media sosial.

Baha’i merupakan agama yang lahir di Persia pada 23 Mei 1844. Agama itu masuk ke Indonesia pada 1878. Kemenag menyebut penganut Baha’i di Indonesia mencapai sekitar 5.000 orang.

Gaung Kebebasan Beragama

Adanya ucapan dari Menag di atas telah menggaungkan kembali isu kebebasan beragama. Bagi pengagum kebebasan beragama, komunitas Baha’i juga warga negara sehingga harus dijamin dan dilindungi hak beragamanya. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari raya kepada mereka dianggap sudah sesuai amanat konstitusi.

Kebebasan beragama sejatinya semakin menyuburkan aliran sesat meski pada akhirnya aliran-aliran itu menjelma menjadi agama baru seperti halnya Ahmadiyah dan Baha’i. Ketua MUI Sumatera Barat (Sumbar), Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa menegaskan, bahwa esensi dari agama Baha’i tersebut adalah ajaran sesat.

Baca juga  Islamophobia Virus Berbahaya

“Bahaiyyah ditinjau dari latar belakang sejarah, esensi ajaran dan gerakan penyebaran merupakan ajaran sesat yang menodai ajaran Islam dan menjadi pintu masuk musuh untuk merusak umat Islam,” katanya (suara.com, 30/7/2021)

Dalam pandangan kaum kafir kapitalis, yang menjadikan Liberalisme (kebebasan) sebagai pandangan hidup mereka, setiap manusia mempunyai kebebasan yang menjadi hak hidup mereka. Dari sinilah, lahir kebebasan beragama, yang berarti bebas sebebas-bebasnya; baik bebas tidak beragama (ateis), bebas pindah-pindah agama (murtad) maupun bebas mengubah dan mengutak-atik agama (bebas menistakan agama).

Dalam pandangan kaum kafir kapitalis, yang memang menjadikan Sekularisme sebagai basis ideologi mereka, memang bisa dinalar, karena agama memang tidak mempunyai tempat dalam kehidupan mereka, selain sebagai urusan pribadi. Inilah prinsip dasar Sekularisme, yaitu fashl ad-din ‘an al-hayat (pemisahan agama dari kehidupan).

Kebebasan beragama seperti ini jelas bertentangan dengan Islam, bahkan tidak bisa diterima oleh setiap orang yang beragama sekalipun. Al-Qur’an telah menegaskan:

Siapa saja yang ingin (beriman), hendaknya beriman, dan siapa saja yang ingin (menjadi kafir), silahkan kafir. (QS al-Kahfi []: 29).

Ini berarti, menjadi Mukmin dan kafir memang merupakan pilihan masing-masing orang. Meskipun demikian, pilihan menjadi kafir yang dinyatakan oleh Allah di dalam ayat ini, menurut para mufassir, bukan berarti izin dan legalitas (tarkhish) serta pilihan (takhyir) untuk menjadi kafir.

Sebaliknya, pilihan yang dinyatakan oleh Allah di dalam ayat ini berarti ancaman (tahdid) dan peringatan keras (tahdzir). Sebab, setelah Allah menyatakan pilihan iman dan kufur, Allah mengancam mereka yang zalim, apalagi kafir, dengan ancaman neraka:

Sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS al-Kahfi []: 29).

Baca juga  Impor Garam Meningkat, Swasembada Terancam Gagal

Oleh karena itu, sejatinya di dalam pandangan Islam tidak ada kebebasan beragama secara mutlak.

Itulah mengapa, istilah HAM (hak asasi manusia) ditolak oleh Islam. Yang benar adalah hak manusia yang diberikan oleh Allah sehingga tetap harus tunduk pada ketentuan hukum Allah. Karena itu, di dalam Islam disebut al-huquq as-syar’iyyah li al-insan (hak manusia menurut syariat).

Negara Islam Menjaga Agama

Dalam negara Islam, khalifah adalah perisai tempat umat berlindung padanya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, di mana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Negara Islam wajib menjaga akidah umat Islam dari berbagai penyimpangan, pendangkalan, serta penyesatan sebagaimana syariat Islam berfungsi  menjaga agama, akal, jiwa, harta, dan keamanannya.

Dalam hal menjaga agama, negara Islam memberikan toleransi terhadap pemeluk agama lain. Agama lain dapat hidup berdampingan dengan tenang bersama kaum muslimin di bawah naungan Islam. Sebab, pengakuan Islam terhadap pluralitas (ragam) masyarakat tidak lepas dari ajaran Islam. Allah berfirman, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama [Islam].” (QS al-Baqarah [2]: 256).

Terhadap aliran-aliran sesat, negara Islam akan  menghentikan aktivitasnya, membubarkan jamaah atau organisasinya. Adapun orang-orang yang terjebak pada aliran sesat tersebut, negara Islam akan memberikan pendampingan berupa pembinaan hingga ia kembali pada akidah yang lurus, memberikan pemahaman, menjelaskan kesesatan dan kepalsuan ajaran tersebut dengan bukti dan argumentasi yang mampu memuaskan akal pikiran dan perasaanya. Serta mendorong agar mereka melakukan taubatan nasuha.

Baca juga  Papua Dalam Cengkraman Asing

Negara Islam juga akan menetapkan sanksi tegas bagi mereka yang murtad, mengakui sebagai Nabi, menistakan Islam dan ajarannya. Nabi Saw. bersabda, “Siapa saja yang murtad dari agamanya, bunuhlah!” (HR at-Tirmidzi).

Tegasnya hukuman ini merupakan imunitas bagi kaum muslim. Saat ia masuk Islam, ia harus memahami konsekuensi memeluk Islam berikut sanksinya jika ia menyalahi syariat Islam. Karena memeluk Islam adalah bagian dari pilihan yang dibuat dengan penuh kesadaran bukan paksaan.

Selain melindungi Islam, negara Islam pun melindungi agama lainnya, dengan syarat, pemeluknya menjadi ahli dzimmah. Negara Islam membiarkan mereka dalam agama mereka; Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha dan sebagainya. Nabi saw. bersabda, “Rasulullah Saw. pernah menulis surat kepada penduduk Yaman, bahwa siapa saja yang tetap memeluk Yahudi atau Nasrani, dia tidak boleh dihasut [untuk meninggalkan agamanya], dan dia wajib membayar jizyah.” (HR Ibn Hazm dalam kitabnya, Al-Muhalla).

Penjagaan negara Islam terhadap agama Islam tidak akan memunculkan aliran-aliran sesat. Perlindungan negara Islam terhadap umat agama lain telah dibuktikan dalam lembaran sejarah bagaimana negara Islam memperlakukan nonmuslim dengan sangat baik. Hal ini sudah teruji bagaimana umat nonmuslim hidup tenang dan damai di bawah pemerintahan  Islam. Toleransi yang pas dan tidak bablas hanya bisa diterapkan dalam negara Islam. Umat muslim terjaga akidahnya, nonmuslim pun aman beribadah.

Dengan demikian, tidakkah kita ingin kembali pada penerapan Islam dalam bingkai negara?