Anggaran Rs Dan Nakes Seret, Apa Prioritas Pemerintah di Tengah Ledakan Covid?


Oleh: Annida Indah Khofiyah

Bismillahirrohnaanirrohiiim…….
Di tengah ledakan wabah saat ini, dengan banyak pasien yang semakin melonjak karena Covid-19, gelombang ke 2 kembali parah, kemudian ada pula varian baru dari virus Covid-19 atau Corona Virus yaitu varian delta, dimana virus ini jauh lebih mudah menjangkiti manusia hanya dengan berpapasan dengan orang yang terjangkit. Dengan banyaknya pasien Covid-19 tenaga kesehatan pun semakin mengencangkan sabuk mereka dan berada di barisan paling depan untuk menangani para pasien tersebut.

Para tenaga kesehatan pun pastinya merasa sangat lelah dan harus diberi gaji yang tinggi akan kerja keras yang telah mereka lakukan kepada masyarakat terutama dalam menangani wabah. Namun dibalik kerja keras para tenaga kesehatan tersebut, ternyata upaya mereka belum terbayarkan, malah pemerintah menunggak pembayaran tenaga kesehatan tersebut dan juga tunggakan di rumah sakit juga menunggak sebanyak Rp. 22,08 triliun.

Mengapa pemerintah berbuat demikian? Seharusnya pemerintah segera melunasi tunggakan tersebut agar para tenaga kesehatan dan pihak rumah sakit segera menangani para pasien dan tanpa harus terhambat oleh biaya karena kekurangan alat-alat medisnya.

Baca juga  Demokrasi Anti Kritik

Belum lagi hotel-hotel, wisma, dan tempat-tempat pengisolasian mandiri juga menunggak, bagaimana bisa hal itu terjadi? mengapa pemerintah seakan lalai dalam menanggapi kasus Covid-19 ini, yang diperparah dengan melonjaknya angka pasien?. Bagaimana rumah sakit, tenaga kesehatan dan layanan isolasi bisa melayani pasien bila pemerintah tidak memberikan fasilitas kemudahan pencairan anggaran?

Apa saja prioritas kebijakan anggaran pemerintah di tengah ledakan kasus covid-19 gelombang ke 2 ini?. Dalam masalah ini pemerintah terkesan abai dan lalai dalam mengatasi wabah. Demokrasi menghasilkan penguasa berorientasi kapitalis dan menciptakan birokrasi yang kaku. Pemerintah terkesan tidak bertanggung jawab atas rakyatnya. Jargon-jargon yang mereka kampanyekan saat pemilu dulu seolah omong kosong belaka dan sama sekali tidak direalisasikan. Sungguh miris dan membuat masyarakat muak akan kepemimpinan ini.

Lalu bagaimana Islam menanggapi hal ini? Dalam Islam masalah seperti ini akan diselesaikan langsung oleh pemerintahnya, pemerintah dalam sistem Islam akan langsung turun tangan dalam mengatasi problematika yang terjadi terutama pemimpinnya atau Kholifahnya, dengan begitu pemerintah tidak akan abai karena diawasi oleh pemimpinnya secara langsung, bagaimana kinerja para kabinet atau bawahannya.

Baca juga  Cilaka Rakyat Akibat Demokrasi dan Sistem Oligarki

Dalam pemerintahan Islam, tidak akan terjadi pengabaian problematika masyarakat, malah rakyat akan merasa terlindungi dan terjamin kehidupannya terutama ketika terjadi wabah, masyarakat akan terjamin kesehatannya, pasien yang terjangkit akan segera tertangani dan keluarga atau para masyarakat (kepala keluarga) di haruskan untuk dirumah sehingga tidak dapat mengais rezeki diluar rumah karena pandemi yang melonjak, akan diberikan tunjangan hidup oleh pemerintah tanpa harus khawatir akan kekurangan apapun karena pemerintah akan menjamin hal itu. Lalu darimana pemerintah Islam mendapatkan uang untuk memberikan tunjangan setiap kepala keluarga? Baitul mal adalah jawabannya.

Ya, tunjangan tersebut didapatkan dari Baitul mal pemerintah yang dimana Baitul mal merupakan tempat penyimpanan berbagai pemasukan dan juga tempat pengeluaran negara. Baitul mal juga merupakan suatu Lembaga yang bertugas memungut dan membelanjakan harta yang menjadi milik kaum muslim. Dari sinilah pemerintah mengambil harta dari Baitul mal dan diberikan kepada masyarakat untuk tunjangan mereka yang terdampak Covid-19. Begitu mulianya pemerintahan islam dalam mengatasi segala problematika yang terjadi.

Begitulah sistem Islam dalam mengatasi problematika umat, tidak ada sejarah yang mengatakan bahwa sistem lalai terhadap rakyatnya, berbeda dengan pemerintahan dalam sistem demokrasi saat ini yang terkesan abai dan lalai dalam menjalankan tugasnya. Namun, bagaimana masalah ini dapat teratasi bila sistem Islam saja tidak ada ?. Oleh karena itu, sebegai umat muslim sudah waktunya kita bangkit mengambil garda terdepan untuk membangkitkan kembali sistem pemerintahan kejayaan Islam yang pernah menguasa 2/3 dunia. Jangan sampai kita kalah dengan non-muslim yang memiliki semangat lebih tinggi dari kita untuk menghalangi berdirinya kembali sistem Islam.

Baca juga  Tujuan Pendidikan dalam Islam

Semangatlah para pejuang Islam, tetaplah berdakwah di jalan kebenaran, Allah akan membantu hambanya yang juga memperjuangkan agama Allah. Walau banyak rintangan dan masyarakat masih banyak yang belum paham akan sistem Islam, dan para pendakwah hanya sedikit layaknya kita adalah orang asing ditengah masyarakat, tapi tenang saja, orang-orang yang terasing merupakan orang-orang yang beruntung.

Seperti dikatakan dalam sebuah hadits “islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang orang yang asing” (HR.Muslim no 154).
Wallau a’lam bi ashawab