Anak Berdaya dan Bahagia Demi Peradaban Mulia


Oleh : Yuli Wulandari, S.Pd.I
(Anggota Persatuan Istri Tentara, Pemerhati Anak, Pegiat Literasi, dan Founder Ar-Royan RuCaBe)

Anak-anak merupakan generasi penerus kebangkitan bangsa. Melalui tangan mereka, harapan besar ditumbuhkan untuk keberlangsungan kehidupan bernegara. Saking penting keberadaan mereka, maka butuh perhatian khusus. Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni, sedangkan di Indonesia peringatan Hari Anak Nasional (HAN) setiap tanggal 23 Juli.

Dikutip dari Wikipedia, sejarah HAN berawal dari gagasan mantan Presiden Soeharto yang melihat anak-anak sebagai aset kemajuan bangsa. Sehingga sejak tahun 1984 berdasarkan Keppres RI Nomor 44 Tahun 1984, ditetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai HAN.
Sebelumnya, mari kita cermati kondisi generasi saat ini. Masih ada potret anak-anak putus sekolah, terpapar pornografi, pergaulan bebas, kecanduan gadget, penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual dan berbagai permasalahan lain yang menjangkiti.

Perlu diingat bahwa sistem pendidikan sekuler dan liberalis yang diadopsi hari ini turut berkontribusi. Tidak sedikit generasi terdidiknya yang mumpuni dalam pengetahuan, tetapi minus dalam adab dan kesopanan serta tidak memiliki visi hakiki.

Tentu hal demikian memicu kekhawatiran para orang tua sebagai sosok pertama dan utama yang bersentuhan langsung dengan anak-anak. Lebih-lebih tidak berdaya menghalau konten/iklan porno yang ada kalanya gentayangan saat pembelajaran online. Maka, bagaimana mengantarkan generasi agar mampu menjadi motor kebangkitan dan membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan? Sementara hari ini, mereka malah enjoy menjadi pembebek, terbiasa berpikir pendek dan tidak peduli nasib umat.

Baca juga  Mempertanyakan Seruan Benci Produk Luar Negeri

Anak-anak berhak mendapatkan kebahagiaan dan kecermelangan hakiki dalam diri sehingga mampu membangun sebuah peradaban gemilang. Lalu, apa yang harus kita lakukan demi mewujudkan kualitas anak sesuai harapan?

Tunas dari Rumah
Membersamai anak-anak dengan memberi pemahaman serta  pendidikan sejak usia dini menjadi prioritas utama. Orangtua yang mampu memberikan pendidikan tersebut adalah orangtua pembelajar dan berilmu dalam mengasuh anak.

Rumah merupakan tempat penyemaian generasi pembangun peradaban mulia, kader tangguh, dan penerus perjuangan orangtua. Apa pun dan bagaimana pun suatu rumah, tidak harus mewah, tetapi menjadi berkah. Perlu diupayakan menjadikan rumah sebagai basis pendidikan yang lahir dari keimanan.

Dalam Islam, Rasulullah Saw telah mengajarkan umat bagaimana cara mendidik anak yang tepat. Mendidik dengan cara Islam menjadi satu-satunya cara agar dapat membentuk kepribadian anak yang bahagia, cerdas, dan cemerlang. Tidak memisahkan antara agama dengan kehidupan membuat pendidikan semakin sempurna.

Baca juga  Tujuan Pendidikan dalam Islam

Zaman kecanggihan teknologi yang semakin mumpuni saat ini, hubungan orangtua dengan anak harus tetap terjalin mesra. Konsekwensi sebagai orangtua, harus berkomitmen melakukan perubahan dengan melakukan pendampingan secara sungguh-sungguh karena Allah Ta’ala. Orang tua perlu memberi pemahaman kepada anak-anak sesuai usia untuk bijak berteknologi agar tidak dikuasai teknologi, tetapi menguasai teknologi dengan membekali literasi digital serta memahamkan keuntungan/kerugian saat berinteraksi dengan gadget.
Maka, saatnya orangtua menjadi smart dan semangat update ilmu dalam mengasuh anak. Jika meminjam istilah yang disampaikan oleh motivator parenting kelas dunia yaitu Abah Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari “menjadi orang tua betulan, bukan orang tua kebetulan.”
Melek Literasi

Literasi dan minat baca memiliki hubungan yang sangat erat. Adanya literasi inilah muncul suatu perbedaan antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Ada enam jenis literasi dasar dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN) : literasi baca tulis; literasi numerasi; literasi sains; literasi finansial; literasi digital; literasi budaya dan kewargaan.

Pada dasarnya, anak usia 0-6 tahun telah memiliki kemampuan untuk berliterasi melalui keaksaraan lingkungan. Anak-anak membutuhkan kehadiran sosok-sosok kreatif yang mampu mengembangkan energi positif dan potensi inti. Kenalkan anak pada buku dan membacakannya.

Baca juga  Papua Dalam Cengkraman Asing

Mengapa membaca penting? Karena membaca memiliki dampak luar biasa, antara lain menambah wawasan, membentuk empati, menjaga agar fungsi otak tetap aktif, mengenalkan tata bahasa, mengantarkan pada ketrampilan menulis, menolong untuk menjadi ahli, dan membangun kepercayaan diri.”Today a reader, tomorrow a leader” (Margaret Fuller).
Bersinergi

Keberlangsungan generasi memang bukan semata tanggung jawab orang tua saja. Sehingga, butuh peran multi-stake-holder di antaranya ada lembaga pendidikan atau sekolah, lingkungan pergaulan, kontrol masyarakat, dan institusi negara. Ada yang mengatakan bahwa mendidik anak itu butuh orang sekampung. Namun, menurut penulis lebih dari itu, mendidik anak butuh peran negara, bahkan kalau perlu sedunia. Semua bersinergi bersama.

Selamat Hari Anak Nasional, semoga anak Indonesia semakin berdaya dan bahagia dengan berpegang teguh agama serta kecerdasan multi dimensi dalam kehidupannya. Tetap semangat meski pandemi menyapa. Jaga imun dan iman agar tetap aman. Selamat membacakan agar anak-anak kelak menjadi pemimpin masa depan.

Malang, 13 Juli 2021


OPINI