Amalan Utama di Tengah Pandemi



Oleh : Rubiah Lenrang (Praktisi Kesehatan)

“Tangkap saya Pak! Saya enggak kriminal, Pak! Tangkap saya, Pak! Saya enggak jual narkoba di sini! Penjarain saya, Pak!” kata pria itu. “Bapak jangan… pakai seragam jadi nindas-nindas rakyat. Saya di sini cari makan Pak, bayar anak buah, bayar anak sekolah,” tambahnya (Kompas.com, 12/07/2021). Demikianlah ucapan salah seorang pemilik angkringan saat sedang berdialog dengan nada tinggi dengan salah seorang anggota polisi yang sedang melakukan patroli pelaksaan PPKM. Pemilik angkringan tersebut diduga telah melanggar jam operasional saat PPKM.

Miris! Di satu sisi penerapan aturan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kesehatan Masyarakat) sebagai upaya pencegahan penularan virus Covid-19. Sementara di sisi lain perut dan kebutuhan masyarakat menuntut untuk dipenuhi. Padahal dengan kebijakan pembatasan tersebut, tentu banyak kegiatan usaha masyarakat terpaksa berhenti. 

Sebagaimana yang diberitakan oleh Finance.detik.com, 23/4/2021, jutaan buruh jadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) imbas pandemi COVID-19. Adapun industri yang paling banyak melakukan PHK selama pandemi adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Total pengurangan tenaga kerja yang terjadi di sektor ekonomi selama pandemi ini mencapai 1.715.066 orang atau 8,93% dari total sebelum pandemi.

Baca juga  Kebocoran Data dan Perlindungan Diskriminatif Negara

Adapun terkait dengan pemenuhan kebutuhan pokok, sebuah aturan Islam telah menjelaskan hal ini. Pertama-tama, kewajiban itu ada di pundak laki-laki (suami). Jika dia tidak ada atau tidak mampu, kewajiban itu melebar kepada kerabat laki-laki/suami itu. Jika tidak ada kerabat yang mampu atau ada kerabat, tetapi tidak mampu, kewajiban itu beralih kepada negara/Baitulmal. Pertama-tama diambilkan dari pos zakat. Jika tidak cukup, bisa diambil dari harta milik negara dan harta milik umum.

Namun, berharap bantuan kebutuhan pokok rakyat dari pemerintah tentu sangat kecil harapan, khususnya di tengah wabah saat ini. Oleh karenanya sangat penting bagi kaum muslimin untuk mempererat ukhuwah. Di dalam Al-Qur’an Allah Swt. berfirman, “Sungguh kaum mukmin itu bersaudara.” (TQS al-Hujurat: 10)

Berdasarkan ayat tersebut Allah telah mengikat orang-orang mukmin dalam sebuah persaudaraan walaupun tanpa hubungan nasab. Karena bersaudara, normal dan alaminya kehidupan mereka diliputi kecintaan, perdamaian, dan persatuan, saling memperhatikan, saling menguatkan, saling peduli, serta saling membantu dalam ragam kesulitan. Hal ini diperkuat pula dengan sabda Rasulullah SAW., “Mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan. Sebagian menguatkan sebagian lainnya.” (HR Bukhari, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad)

Baca juga  Krisis Pangan Melanda, Butuh Sistem Komprehensif

Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan khususnya pemenuhan kebutuhan pokok adalah fardhu kifayah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Bukanlah mukmin sempurna orang yang kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR al-Bukhari, Abu Ya’la, ath-Thabarani, al-Hakim dan al-Baihaqi)

Orang yang harus melaksanakan fardu kifayah adalah orang yang mampu menanggung nafkah orang di luar keluarganya. Orang yang mampu untuk itu adalah orang kaya, yaitu orang yang memiliki kelebihan harta dari keperluan untuk nafkah dirinya dan orang yang menjadi tanggungannya serta kebutuhan hidup mereka secara makruf.

Demikianlah salah satu perwujudan hakiki ukhuwah islamiyah adalah saling peduli, terutama pada saat-saat wabah seperti ini, dimana kesulitan hidup begitu menghimpit bahkan hanya sekedar mencari sesuap nasi. Di sinilah pentingnya kaum muslim untuk saling tolong menolong. Apalagi membantu atau menolong sesama muslim merupakan salah satu amal saleh yang utama dan agung.

Baca juga  Bendera Tauhid Diinvestigasi, Korupsi Dibiarkan

Rasulullah saw.,“Siapa saja yang menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin di antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan dari dirinya satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan pada Hari Kiamat. Siapa saja yang memudahkan orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah memberikan kemudahan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Siapa saja yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya.“ (HR Muslim)

Mengurangi beban atau memecahkan kesulitan orang lain adalah bagian dari kepedulian kita kepada sesama muslim sekaligus bukti cinta kita kepada mereka. Rasulullah SAW menegaskan hal ini dalam sabdanya, “Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim demi memenuhi kebutuhannya lebih aku sukai daripada beritikaf di masjid selama dua bulan. Siapa saja yang berjalan menyertai saudaranya yang muslim demi memenuhi suatu kebutuhannya hingga dia mampu meneguhkan keadaannya, Allah akan meneguhkan kedua kakinya pada Hari Kiamat nanti pada saat banyak kaki-kaki manusia tergelincir…” (HR ath-Thabarani)