Terbaik terbaik

Adat Mandar Atraksi 35 Kuda Menari Bergema di Pinrang


Foto : Firdauz/sulbar99

SULBAR99.COM-PINRANG – Desa Ujung Lero kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang mengadakan Seni Budaya kuda menari Atau Sayyang Patuqduq. Pagelaran ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali yang dihadiri kepala kecamatan Suppa, Andi Amran, Sabtu (21/12/2019).

Andi Amran mengungkapkan, acara ini rutin dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan biasaya acara ini sering dikunjungi oleh masyarakat dari luar kota. “Soalnya acara ini menyerap antusias masyarakat khususnya suku Mandar yang tinggal di desa ujung lero,” ujar Andi Amran.

Sejumlah masyarakat antusias menyaksikan atraksi kuda menari termasuk Kepala desa ujung lero H. Muhammad Amin Neke, TNI, Polri serta tokoh masyarakat.

Baca juga  Ny. Fatmawati Terenyuh Melihat Kondisi Nenek Miskin di Lembang

Mereka berbondong-bondong ikut menyaksikan acara sayyang patuqduq ini, bahkan istri dari kepala desa ujung lero Hj. Afi Naimah Buraera sekaligus ketua PKK Ujung Lero ikut menjadi peserta sayyang patuqduq.

Amin Neke mengatakan, istrinya ikut sebagai peserta atraksi kuda menari. “Ya, istri saya pun juga ikut, beserta kemanakan saya memeriahkan acara ini. Soalnya ini budaya Mandar dan patut dilestarikan,” ujar Kepala desa Ujung Lero.

Hal senada diungkapkan ketua Panitia penyelengara H. M Nurhamma A.Md. Dia menjelaskan, acara ini sebagai bentuk dari budaya Mandar yang masyarakat nantikan. “Kalau anak yang sudah khatam Alquran, bisa diikutkan di acara adat sayyang patuqduq. Acara ini diselengarakan biasanya setiap memperingati maulid Nabi Muhammad, ” ujar Nurhamma.

Baca juga  Kodim 1401 Majene Bakti Sosial dan Pameran Alusista TNI
Perempuan yang khatam Alquran berada di atas kuda menari. (Foto : Firdauz/sulbar99)

Atraksi kuda menari kali ini, tambah Nurhamma, dimeriahkan 35 kuda dan sebagian dari luar daerah. “Bahkan ada dari kepulauan di Pangkep sengaja kesini bawa anaknya. Yah harapan kami, semoga adanya acara ini tidak pernah menghilangkan adat kita, khususnya suku Mandar,” ujar Nurhamma.

Adat ini, menurut Nurhamma, dahulu dilakukan oleh keturunan bangsawan Mandar. Tapi sejak masuknya Islam, kegiatan atraksi kuda menari juga bisa diikuti masyarakat umum.

Sementara itu, salah satu anggota komunitas gabungan anak jalanan yang ditemui mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. “Kami masyarakat ujung lero sangat senang dan haus akan kegiatan budaya seperti ini, selain lebaran, acara sayyang patuqduq membuat keluarga dari daerah jauh bisa pulang untuk sekedar melihat acara ini sambing kumpul sama keluarga,” ujarnya.

Baca juga  Kabar Baik Bagi Petani Majene. Pemerintah Segera kerjasama dengan Dompet Dhuafa Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Harapannya, semoga budaya ini bukan hanya kami yang ikut merasakan tapi semua orang. “Saya bangga, walaupun bukan di tanah Mandar, tapi budaya kami masih bisa dijalankan di tempat kami, ujung lero dan semoga pemerintah selalu mendukung acara seperti ini,” pungkasnya. (Firdauz)