75 Tahun Merdeka, Saatnya Bangsa Berbenah


Oleh: Nelly, M.Pd

Pemerhati Masalah Keumatan, Aktivis Peduli Negeri

Indonesia negeri yang Allah SWT anugerahi limpahan kekayaan alam dari Sabang sampai Merauke. Tanahnya subur, hasil alamnya berupa emas, tembaga, minyak, batu bara, nikel dan hasil laut yang beragam jenis. Apa yang tidak ada di negeri ini? semua ada, sampai-sampai di juluki sebagai jamrud khatulistiwa. Negeri ini juga sudah merdeka hingga usia ke-75 tahun, usia yang cukup matang untuk menjadikan negeri ini maju, sejahtera.

Namun faktanya berkata lain, setumpuk persoalan bangsa silih berganti mewarnai sepanjang perjalanan pembangunan negeri ini. Berbagai macam terobosan telah pemimpin canangkan hingga terapkan, namun belum juga terlihat keberhasilan dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang telah mencapai kondisi darurat. Bagi yang masih peduli terhadap kondisi bangsa tentu ini menjadi masalah besar.

Dalam rangka kepeduliaan terhadap nasib bangsa inilah seperti yang dilansir di media vivanews.com, sejumlah tokoh berkumpul dan mendeklarasikan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Mereka menganggap, negara saat ini sudah melenceng jauh dari yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa. Beberapa tokoh seperti Din Syamsuddin, Rocky Gerung, Refly Harun, Ichsanuddin Noorsy, Abdullah Hehamahua hingga Said Didu, nampak hadir.

Mereka menyatakan koalisi ini merupakan gerakan moral yang terbentuk atas keresahan bersama terhadap kondisi bangsa terkini. Menurut Din Syamsudin (KAMI), Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia, adalah sebuah gerakan moral seluruh elemen-elemen dan komponen bangsa lintas agama, suku, profesi, kepentingan politik kita bersatu. Kita bersama-sama sebagai gerakan moral untuk menyelamatkan Indonesia.

Lebih jauh mantan Ketua Umum Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini mengibaratkan, Indonesia bagaikan kapal besar. Namun saat ini kapal itu sedang goyang dan hampir karam. Kondisi sekarang, kata dia, terlihat dari jutaan orang yang masih kelaparan, kehilangan pekerjaan, dan praktik korupsi yang terus berjalan. Ia juga menyebut, koalisi ini berupaya menyelamatkan negara agar tidak dikuasai oleh oligarki dan dinasti politik. Turut bergabung juga sejumlah tokoh beberapa nama disebut seperti mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan ekonom senior Rizal Ramli. (2/8/2020).

Baca juga  RCEP Alat Baru Penyempurna Penjajahan ASEAN

Sementara itu, mantan Sekjen Kementerian BUMN Said Didu, mengajak semua pihak bersuara. Termasuk para pekerja perusahaan milik negara dan birokrat. Sebagai mantan petinggi di Kementerian BUMN, ia melihat momentum saat ini sudah saatnya meluruskan kembali kebenaran. Dia mengaku, kalau teman-temannya yang masih di BUMN saat ini sudah merasa bahwa pembangunan di negara ini sudah berbelok dari cita-cita sebenarnya.

Senada dengan itu dalam laman berita jpnn.com, JAKARTA, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menanggapi pembentukan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), yang digagas sejumlah tokoh seperti Din Syamsuddin, Said Didu Rocky Gerung, dan lainnya, Minggu (2/8). Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra itu menuturkan bahwa tema selamatkan Indoneska memang relevan di tengah situasi bangsa seperti sekarang ini. “Tema “Selamatkan Indonesia” memang relevan di tengah ketidakpastian dan ketidakjelasan akan ke mana kita menuju,” kata Fadli di akun Twitter @fadlizon dilihat, Senin (3/8).

Ya, berbicara kondisi bangsa hari ini sungguh memprihatinkan. Tentu dengan adanya deklarasi selamatkan bangsa yang di gagas kalangan tokoh, akademisi, praktisi tersebut sesuatu hal yang patut di apresiasi dan merupakan hal yang wajar. Sebab di tengah keterpurukkan bangsa masih ada yang sayang dan cinta terhadap bangsa ini, masih ada yang peduli dan ingin memperbaiki negeri kearah yang lebih baik.

Sederet permasalahan bangsa saat ini yang begitu pelik, mulai dari tingkat kesejahteraan masyarakat yang sangat jauh dari standar bahkan angka kemiskinan menjadi tren mengalami kenaikan setiap tahunnya. Di tambah beban hidup rakyat yang begitu berat dari memenuhi kebutuhan sehari-hari yang sulit akibat harga-harga selalu naik.

Baca juga  Bendera Tauhid Diinvestigasi, Korupsi Dibiarkan

Kondisi ini semakin memberatkan rakyat tatkala dalam urusan pekerjaan yang susah dicari sebab tidak tidak ada disediakan negara, malah pekerja asing yang di sedikan pekerjaan. Belum lagi kewajiban membayar pajak, iuran bpjs, kenaikan pembayaran listrik, kenaikan pembayaran PDAM dan iuran-iuran lainnya yang mencekik rakyat. Padahal negeri ini kaya, harusnya kehidupan rakyat sejahtera, makmur dan negara maju.

Di sisi lain dalam permasalahan hukum yang karut-marut tumpul ke atas dan tajam ke bawah, korupsi yang semakin menjadi. Para pejabat yang kurang amanah dan bertanggungjawab terhadap pengurusan rakyat dan lebih mementingkan para kapitalis (pemilik modal) dalam segala kebijakkannya. Aspek lain yang tak kalah bermasalah yaitu sosial masyarakat yang semakin terkikis oleh liberalisme.

Kehidupan masyarakat penuh dengan kerusakan, semakin individualisme, sex bebas, perzinahan, miras, narkoba, dan sederet kasus sosial lainnya. Aspek lain dalam dunia pendidikan juga tidak kalah bermasalah, baik dari kurikulum yang tidak jelas arah setiap ganti menteri ganti kurikulum. Generasi jauh dari didikan yang mengarah pada karakter tauhid, hingga ini memicu pada kenakalan remaja yang semakin tak terkendali.

Dari sederet persoalan bangsa tersebut, tentu terjadi dengan ada penyebabnya. Faktor yang dominan adalah terletak pada sistem aturan yang berlaku mengatur tata kelola negeri ini. Sejak merdeka negeri ini telah mengadopsi sistem aturan yang berasal dari barat kapitalis-demokerasi-sekuler. Ini terlihat dari aturan yang pro kapitalis, yang menguasai kekayaan alam negeri juga para kapitalis.

Baca juga  Kampanye Liberal di Balik Serangan Terhadap Pembiasaan Hijab

Sistem politik demokerasi yang menghasilkan para pemimpin bukan ahlinya, tidak kafabel, politik dinasti. Rakyat hanya di dekati saat pemilu, namun setelah pemilu rakyat ditinggalkan tanpa pengurusan. Kehidupan yang sekuler juga sangat terasa, di mana kondisi sosial masyarakat jauh dari tuntunan agama. Halal, haram, semua di langgar, syraiah agama dipinggirkan.

Maka untuk mengakhiri keterpurukan negeri memerlukan penyelesaian secara komprehensif dan preventif. Di sinilah arus ada pemimpin yang amanah, kredibel, bertanggungjawab, punya sikap negarawan, takwa sebab inilah kunci utamanya takut hanya pada Allah SWT, pemimpin yang merdeka bukan di bawah dikte negara lain.

Kemudian yang paling utama adalah sistem aturan negaranya, jika masih mengambil sistem aturan kapitalis niscaya negeri ini tidak akan pernah berubah ke arah yang lebih baik. Maka dari itu, sudah saatnya paradigma aturan negeri ini segera di rubah.

Sistem yang baik dan mampu menyelesaikan persoalan kehidupan hanya ada pada sistem Islam yang berasal dari Sang Pencipta Allah SWT. Sebab sistem inilah yang akan melahirkan para pemimpin setakwa Abu Bakar, pemberani seperti Umar, dermawan seperti Usman, berilmu seperti Ali, cerdas seperti Umar bin Abdul Aziz, sehero Muhammad Al-Fatih, secerdik Shalahuddin Al-Ayyubi, sehebat sultan Abdul Hamid, dan sederet para pemimpin Islam pada masa kejayaan Islam dahulu.

Sistem Islam sudah terbukti dan teruji selama 13 abad lebih lamanya berkuasa pada 2/3 belahan dunia, penuh kemakmuran dan kesejahteraan. Damai, berkeadilan dirasakan baik muslim dan non muslim. Maka jika negeri ini mau berubah ke arah yang lebih baik, sudah saatnya untuk beralih pada sistem aturan Ilahi yang akan membawa berkah dan rahmat untuk seluruh alam.

Wallahu’alam bis showab


OPINI